Selasa, 22 Mei 2018

MENYELUSURI MAKNA AKSARA PALAWA DAN AKSARA INCUNG KERINCI

Aksara palawa berasal dari bahasa hindu Hindia pada masa prasasti kerajaan Sriwijaya Palembang raja Aditya Warman,berbeda dan timbul kontrapersi di antara bahasa palawa dan bahasa incung yang memiliki makna yang sama,padahal sungguh sangat jauh berbeda arti dari aksara pahlawa dan aksara incung,aksara incung merupakan aksara berupa tulisan asli kerinci yang sekarang masih ada disalah satu desa di kerinci Tanjung Tanah,aksara pahlawa merupakan aksara atau tulisan yang hampir sama dengan aksara incung kerinci namun begitu sangat jauh berbeda dengan apa yang ada.
Tulisan palawa dapat dilihat di peninggalan prasasti karang birahi di jambi dan di prasasti aksara palawa di perbatasan kerinci dan sumatera barat.Aksara incung kerinci masih tersirat dalam pusako usang di desa Tanjung Pauh Mudik yang diperlihatkan pada masa turun sko ketika lima tahun setelah panen padi.
Aksara palawa bukan berasal dari daerah kota dingin Kerinci,aksara palawa berasal dari Palembang,Jambi dan Sumatera Barat.
Pembuktian nyata tentang aksara incung asal kejayaan"Raden serdang(Damar wulan)" yang adat basandi syara' dan syara' basandi kitabullah"di Pulau Sangkar Tamiai.
Pembuktian aksara incung pada masa perjanjian para tokoh sakti Kerinci di bukit kunyit Sitinjau laut batu batuah,di undang pada masa itu para tokoh kerajaan dari Jambi dan Sumatera Barat,maka di bagi empat daerah empat helai kain,pada perjanjian tersebut membuat amarah Raden Serdang(Damar Wulan)Rajo Kerinci akibat perjanjian yang disepakati bersama di khianati,dan sumpah beliau apabila ayam jantan berkokok menghadap ke Jambi maka di pancung,batas empat helai kain berbatas dengan Kerinci Tinggai dan Kerinci Rendah sampai ke Batang Asai Batakok Rajo.
Perjanjian Aksara incung masuklah salah satu desa Lempur Jauh,salah pembuktian yang salah persepsi jika aksara incung Kerinci dengan aksara Palawa itu sama.Incung merupakan nama kayu di Kerinci pembuktiannya pada dua Masjid di Pondok Tinggi dan Masjid Keramat di Pulau Tengah dan Masjid Tanjung Pauh yang sekarang sudah direnovasi secara Moderen oleh masyarakat.
Ulama besar yang terkenal pada masa itu ialah:Siah Lengis dan Siah Rao yang berfartisifasi dalam penulisan aksara incung Kerinci pada zaman 600-700 M.
Kemudian bunyi kata sepakat dari Ulama besar Kerinci yang "Siah Rao"
dalam bahasa kesepakatan dengan kalimat yang berbunyi"Bunuoeh Kebaoe duwo dan Kambing seekor,"tulang nyo dikubur darah nyo dikacau jadilah nagari Setio nan Sakato nan Samangko".
Dalam aksara palawa rajo Jambi memberikan kata sindiran kepada raden Serdang(Damar Wulan) dengan gelar Tiang Bungkuk artinya(Tiang nan bengkok Mendugo Rajo(menduga dirinya raja)padahal Raden Serdang(Damar Wulan)benar-benar seorang raja dari Pulau Sangkar Tamiai.                            


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...