Sabtu, 09 Juni 2018

SILAT(SILEK)PENUTUP DI LIMA DESA TANJUNG PAUH MUDIK KELILING DANAU

Silek atau silat merupakan warisan yang turun temurun dari nenek moyang,dan dijadikan suatu alat penggerak tradisi tradisional yang dikembangkan dalam suatu observasi yang dikembangkan atau dikumpulkan melalui aset kebudayaan terutama di lima desa Tanjung Pauh Mudik,hal pertama yang diambil dalam observasi ini,mempelajari seluk dan beluk langkah terakhir silat(silek)di desa ini.
Dulu juga penulis pernah mengembangkan artikel tentang keberadaan budaya mencak(silat)dilima desa Tanjung Pauh Mudik.Hal-hal yang didapat dari langkah-langkah akhir mengenai pengkajian mencak(silat/silek)ini,mempunyai teritoria yang luar biasa untuk dikembangkan melalui kebudayaan mencak(silat/silek)bukan saja didesa ini,namun bisa dikembangkan untuk seluruh kabupaten Kerinci(Jambi).
Syarat-syarat terakhir yang dikaji dari mencak(silat/silek)di lima desa Tanjung Pauh Mudik,salah satunya bernuansa mistis yang luar biasa yang membuat buluk kuduk merinding yaitu mencak dengan " rupo idak sikilak"maksudnya mencak(silat/silek)dengan salah satu dari Imoe(harimau)dari talang Agung(Bukit Kuning) diatas desa Pancuran Tiga dibukit,Hala yang menakjubkan lagi,dengan alat-alat mistis berupa Sikapur sirih,Kemenyan putih,Kain Hitam,dan ayam putih dan ayam hitam,kemudian darah ayam digosokkan pada bagian kedua belah mata,tangan,kaki,punggung dan bagian dada,kemudian alat-alat mistis tersebut diletakkan ditengah-tengah bukit Agung(Bukit Kuning),dan sesajen kemenyan ditaburkan,dengan sendirinya,dan hal ini dilakukan pada malam Jum'at(kliwon)dibukit,waktu kita akan melakuan akhir dari mencak(silat/silek).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...