Senin, 23 Juli 2018

PENINGGALAN PURBAKALA BERSEJARAH DI ALAM KERINCI

Latar Belakang Kebudayaan alam negeri Kerinci sangat dipengaruhi oleh tradisi megalitik,akulturasi dengan kebudayaan luar.Kendati alat-alat dari zaman ke zaman paleolitikum(Batu Tua)belum banyak ditemukan di alam Kerinci,namun mengingat letak geografis dan topografi alam Kerinci,maka tidak mustahil benda-benda budaya pada zaman paleo lithikum masih terkubur diperut bumi alam Kerinci dalam jumlah skala yang sangat banyak untuk dijadikan bukti kuat mengenai fosil manusia zaman prasejarah yang saat ini belum ditemukan untuk dijadikan data manusia zaman paleolhitikum di Kerinci.
Penemuan sub fosil manusia oleh peneliti paleotologi indonesia E Duboeis di gua tiangko sungai manau Kabupaten merangin yang dahulunya termasuk wilayah kerinci rendah kab.merangin dapat disimpulkan secara kasar bahwa ras manusia tersebut tergolong Austra Melanseid,dari penanggalan radio karbon yang dipastikan kepurbaannya antara 6000-9000 tahun sm.
Zaman paleolithikum ditandai oleh pemakaran alat-alat batu serpih,batu tulang,batu tanduk yang sangat sederhana,kehidupan ini berkisar antara 750.000 tahun sampai 10.000 tahun sm.Kehidupan masa itu di indonesia di dominasi spesies Homo sopiens yang disebut pithachanthoropus,dijawa di populasinya sekitar 500.00 jiwa.
Diduga Phichontropus juga hidup disumatra,kalimantan,kemungkinan besar di sulawesi dan fhlifina.Mereka hidup pada zaman es dengan tingkat kebudayaan yang sangat sederhana,pada masa itu pulau sumatra dan pulau jawa serta kalimantan masih menyatu dengan daratan asia.
Sebagaimana kita ketahui proses pembentukan bangsa indonesia adalah akibat perjalanan sejarah dari hindia belankang(Asia Tenggara)yang berlangsung dalam beberapa periode pertebaran bangsa austronesia(melayu tua)yang berlangsung pada zaman prahistoria(pra sejarah).Dan hal ini dibuktikan dengan peninggalan sejarah kapak batu,yang serupa diberbagai daerah dikawasan asia dan austronesia.
Alat-alat zaman heolokthikum yang banyan ditemukan didaerah alam kerinci,jambi yang terbuat dari batu seperti beliung,penusuk,serut,batu inti,belincung,cakram beratur,serpihan-serpihan obsida alat-alat budaya lainnya seperti lesung,batu,lumping,batu persegi empat,batu gerabah bermotif paddle mark terbuat dari tanah liat yang dibakar perhiasan manic-manic berwarna dari bahan batu akik darah.
Khusus mengenai serpihan obsidian yang ditemukan dialam kerinci,jambi disebutkan menjadi inti dari kebudayaan alat serpih(flakes culture)yang termasuk dalam zaman mesolhitium atau zaman peralihan.
Antara zaman paleoluthikum(batu tua)dan neolithikum(batu baru).
Peninggalan prasejarah yang ditemukan dialam Kerinci sejenis menhir keadaan dan bentuk menhir cukup unik dan belun pernah ada ditempat lain di indonesia.Batu ini berbentuk silindrik(Selender)dengan posisi tidur atau tergelatak diatas permukaan tanah dengan posisi menghadapa kearah gunung.
Pada ummnya manhir di indonesia dalam bentuk batu tegak,kondisi manhir di alam kerinci terlihat adanya penyimpangan dari tradisi megalitik yang terdapat di indonesia,kemungkinan itu bersifat lokal meski berasal dari satu kemungkinan ini,bersifat lokal meski berasal dari satu rumpun bangsa yang sama.
Batu selindrik di kerinci ada yang memiliki relief dan ada yang polos tidak memilki relief.
Sampai saat ini ada 7 batu selindrik yang ditemukan di alam kerinci yang bernilai arkeologis,dengan realtif manusia kang-kang,matahari,lingkaran,sulur,garis-garis simetris,garis tanda berbetuk oval dan manusiabberwujud raksasa.
Secara kronologis berasal dari 10.000 tahun SM,temuan ini juga terdapat di india.
Ukuran batu silendrik bervariasi seperti contoh batu patah,didesa muak memiliki panjang 4,20 m,lebar 1m,dan tinggi 1,17 m semua morolit berukuran tinggi 3,5 cm dengan diameter 66 cm motif relief pada monolitada dengan diameter 66 cm motif relief pada monolit adalah gambar gajah,kerbau,kuda,anjing,dan manusia bermahkota.
Masa prasejarah di alam kerinci dimulai sejak permulaan adanya manusia sampai ditemukan adanya keterangan tertulis tentang"kecik wok gedang wok"manusia tertua ini diperkirakan telah ada di alam kerinci sejak 35.000 SM.
Akan tetapi hasil penelitian yang dilakukan oleh Anthony,J Whitten(1973)di gua tiangko yang berada di wilayah sungai manau kabupaten merangin(wilayah ini dulunya termasuk wilayah kerinci rendah)dari hasil temuan ini dipastikan "kecik wok gedang wok" telah ada di alam Kerinci sejak 10.000 SM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga pembalap tercepat TDS(tour de singkarak)2019 Kerinci

Kerinci ,Pembalap tercepat TDS fokus untuk mempertahankan jersey tersebut. Bagaimanapun jenis dakian tanjakan, saya akan berupaya sem...