Selasa, 24 Juli 2018

RUNTUHNYA SURAU KAMI

  Surau merupakan salah satu tempat peribadatan umat islam setelah masjid yang kedudukannya juga sama dengan masjid,yang didirikan oleh rasa kegotong royongan  masyarakat demi terciptanya tempat ibadah yang dimana,disinyalirkan tempat beribadah jauh dari Masjid,dalam suatu wilayah diseluruh pelosok indonesia surau merupakan tempat beribadah sebagai pengganti masjid.Ketika kita perhatikan suatu permasalahan yang besar ketika rumah ibadah surau sudah sepi dari para jama'ah dan akan terlihat suasana yang gersang,tandus dari ketepurukan masyarakat untuk mendalami tentang agama
APA SEBABNYA?surau yang dulu kokoh penuh dengan hiruk pikuk suara adzhan dan pengajian sekarang toh kok,bisa hanya tinggal sebagai relasi,surau diberi ornamen relief yang indah namun sangat tiada jama'ah yang ada didalamnya,surau diberi penerangan dengan lampu marcury toh kok tidak ada anak muda didalamnya.KENAPA?apakah punya alasan yang tidak pantas dikarenakan sibuk oleh segala pekerjaan,sehingga surau yang dekat dari jangkauan ditinggalkan atau dengan alasan lain,atau alasan-alasan yang tak masuk diakal.
Ya Boleh jadi surau yang indah dan megah akan tinggal sebuah nama nya saja,atau barangkali keruntuhan agama pada zaman now semakin drastis turun tampa gamblangan.
Oooh Surau..Seruanmu dulu menggema hanya tinggal orang-orang tua didalamnya,menngapa,kita tidak ambil perhatian,jika mereka orang tua tak ada lagi siapa lagi regenerasi selanjutnya atau hanya paparan surau dan keruntuhan.
Memanglah benar bukan saja merupakan suatu cerita,dongeng maupun legenda surau-surau yang ada hanya belasan orang yang mengisinya kemana umat,dimana umat,injaklah kakimu ditempatku jeritan surau tak terdengar,runtuhnya nya aku hanya serpihan yang tak diacuhkan,runtuhnya aku hanya sebagai selfie pada zaman now sekarang,lalu dimana hati nuranimu untuk masuk dan sujud sejenak dalam namaku surau.

   Dentuman tabuh tak terdengar lagi saat adzhan,hanya sebuah kosa kata dalam nada kesenduan,memanggil tak tak terdengar menghimbau tak menjawab dalam nuansa tak berirama,tabuh dimana aumanmu kala waktu mulai bersuap laksana air laut tanpa ikan,laksana peri tanpa sayap,laksana gunung tanpa kabut dan hutan tandus.Semuanya hanya irama tak bernada,suara terdengar tak mengeliuhkan telinga.Surau lemah berdiri tiangmu redup tak bersuara himbauanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...