Sabtu, 21 Juli 2018

TAHI kambing di teras masjid


(gambar ilustrasi tahi kambing)

Bagaimana perasaan mu ketika melihat ada TAHI kembing berserakan di teras rumahmu yang mewah itu? Pasti kamu akan emosi dengan si pemilik kambing yang tidak memelihara ternaknya. Lalu bagaimana perasaanmu ketika melihat ada TAHI kambing diteras masjid? Masjid, musholla dan surau itu rumah Allah. Apa kamu tidak emosi? Ah, ini petanyaan aneh, jelaslah orang islam yang sering ke masjid emosi, tidak usah ditanya lagi.

Tapi masalahnya, penulis sering mendapati beberapa masjid di ranah yang kito cinto ini, SEPI pengunjung (tidak seperti pengunjung blog ini yang selalu rame hehe). Jemaahnya tinggal partai tua alias kakek-kakek dan nenek-nenek. Kadang di satu masjid jamaah laki-lakinya tinggal satu alias "one man show": azan, ikomat dan imam dia semua. Ketika dia datang ke masjid buru-buru dia ingin menghidupkan loadspeaker memutar kaset Muammar Z.A berharap agar waktu sholat kali ini jamaahnya banyak yang datang,  dia bersihkan debu-debu dan merapikan karpet-karpet masjid. Maka tidak sempat lagi dia mempethatikan ada tahi kambing di teras masjid.

Andai... (kalau boleh) saya berandai melihat jamaah ramai berdatangan seperti sholat jumat, tentu kambing-kambing itu tidak datang kemasjid. Mungkin kambing itu dikiranya masjid itu rumah tak bertuan karena selalu kosong. Sehingga dia merasa aman membuang hajat disana.

Adakah sampai kepada kita satu riwayat tentang hijrahnya baginda Nabi kita Muhammad SAW dari mekah ke madinah? Yaitu ketika Beliau SAW petama kali sampai ke madinah maka yang pertama kali dibangunnya adalah Masjid, yang kita kenal sekarang dengan Masjid Nabawi. Jadi yang pertama kali dibangun oleh Nabi kita (saya ulangi lagi) adalah Masjid, bukan tower telkomsel! Itu karena islam menempatkan masjida dan semua aktivitas didalam masjid itu lebih penting dari pada yang lain. Maka aneh anak zaman sekarang kalau pergi ke suatu tempat yang pertama dicarinya sinyal 4G bukannya tempat ibadah.

(gambar islustrasi masjid nabawi zaman dulu)

Oleh sebab itu penulis sangat berharap masjid-masjid di ranah kito kincai atau kinci ini kembali ke fitrahnya yaitu bersemangat dan berlomba-lomba meramaikan masjid. Bagaimana caranya? Saya rasa itu gampang. Kita punya banyak sarjana agama, punya banyak orang pintar dan tokoh-tokoh. Buatlah acara-acara dengan kemasan yang menarik perhatian anak-anak muda ke masjid. Buatlah kegiatan rutin agar anak-anak bisa sambil belajar di masjid atau semacamnya. Masalahnya tinggal KEMAUAN. Kalau sudah tidak punya kemauan semuanya jadi serba sulit. Mari kita mulai dari kesadaran dan bergerak menjadi kemauan lalu saling mengajak untuk kebaikan. Demikian, mohon maaf jika ada terdapat kesalahan dalam tulisan ini, wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maulid Nabi saw mengikuti akhlak Rasulallah Ustadz Roma Iswadi,MA

Kerinci ,Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw 1441H  yang bertempat di Surau Shilaturrahmi Pancuran Tiga Desa Tj. Mudik Ker...