Sabtu, 11 Agustus 2018

ADAT BERTANDANG YANG TELAH LUNTUR DI LIMA DESA TANJUNG PAUH KERINCI

Oleh: Agus Diar,Dalam memaparkan tentang tradisi bertandang ini bukan dari maksud penulis untuk membedakan adat loyalitas masyarakat yang ada di Kabupaten Kerinci,Jambi,namun penulis mengkaji dari aspek dan dampaknya yang fositif bagi masyarakat yang masih mempunyai tradisi turun-temurun dalam istilah bertandang atau bahasa lima desaTanjung Pauh Mudik butanda.Tentang penulisan artikel ini perlu dikaji dengan rasio yang sehat dengan wawasan yang timbul dengan ide-ide tentang pencetusan masalah bertandang didaerah-daerah Kerinci terkhusus pada daerah lima desa Tanjung Pauh Mudik,Kerinci,dikarenakan kebanyakan dari wanita atau gadis-gadis(cukup)umur masih berstatus mahasiswi pada perguruan tinggi.

Salah satu tradisi yang turun temurun yaitu Batandang dalam bahasa dusunnya butanda yang sejak zaman dulu menjadi tradisi yang kontefensional yang ada di Kabupaten Kerinci Jambi,dengan adat tradisi ini sang laki-laki bisa mengenal secara langsung dengan wanita dengan cara batandang atau butanda pada rumah kediaman wanita untuk mendapatkan respon yang baik dari wanita yang dicintainya dengan mengenalkan diri kepada orang tua wanita yang dicintainya dengan cara pendekatan dan memperkenalkan diri.Oleh karena itu dalam nilai-nilai dan norma-norma bertandang memiliki kebersamaan yang kuat antara laki laki dan wanita dengan keluarganya.Sejak dahulu batandang merupakan rutinitas bagi laki-laki mendatangi rumah wanita biasanya hal ini dilakukan setelah shalt isya dan jamuan makan malam bersama keluarga.Konsep butandang secara perlahan-lahan lenyap ditelan masa mungkin juga karena sesuatu hal atau kesibukan,didaerah Kerinci terkhususnya Tanjung Pauh lima Desa dulunya masih memakai tradisi bertandang.Secara garis besarnya penulis melakukan orientasi dengan paparan suatu pertanyaan mengapa adat butandang harus lunTUR?apa sebab ini terjaDi?Kita lihat pada permukaan permasalahan yang betul-betul bisa memprediksi tentang pangkal persoalan lunturnya adat bertandang padahal ini bisa dijadikan suatu prospek mumentum yang sangat religus menurut pandangan pada syariat dan etika agama islam dengan menyambung tali ukhuwah islamiah yang kuat.Dalam ini bertandang bukanlah suatu tradisi yang negatif menurut filsafah ilmiah malahan bertandang merupakan ciri khas dari suatu daerah di Kabupaten Kerinci,Jambi khususnya Tanjung Pauh lima desa.Hal ini barangkali bisa menjadi suatu reputasi yang menggarahkan pada etika atau nilai-nilai beserta norma-norma adat istiadat dan tradisi walaupun banyak dari sebagian masyarakat berpandangan tentang problematika bertandang pada konsepnya hal yang di anggap tabu.Bila kita menalaah tentang suatu argumen bisa saja tradisi dari adat-istiadat masa lampau di aktifkkan kembali dengan cara menjaga tali ukhuwah yang dibina secara garis besar.
FAKTOR EKSTEREN
Faktor ini  sangat berpengaruh besar dalam dominasi adat dalam bertandang dengan adanya suatu konsep yang bisa dijadikan moment dalam istilah bertandang,yang bisa dianggap sebagai budaya lama bisa tumbuh dan berkembang secara menyeluruh terhadap masyarakat didaerah-daerah Kerinci terutama pada lima desa Tanjung Pauh Mudik,Kerinci,ini merupakan sistim demensial sensitif terhadap pengembangan budaya bertandang disuatu wilayah atau daerah yang masih fanatik terhadap tradisi bertandang dari itu pula perlu dikaji secara menyeluruh dalam konsebilitas  problematika bertandang dengan istilah lazim disebut ngapel.
FAKTOR ENTEREN
Faktor ini memiliki kombinasi yang terpenting dalam adat bertandang dalam bahasa melayu tua(bahasa Indonesa) sebagai rutinitas yang konfensional menurut pandangan dari sebagian masyrakat yang mengangap tabu tentang genetitika adat bertandang di daerah Kabupaten Kerinci.Dalam penjabaran dalam hukum sebab akibat tidak mengandung hal yang negatif namun bisa jadi dalam pengamatan tradisi bisa saja sebagai hak priogatif masyarakat masing-masing di eja dari tradisi ini merupakan suatu aliran yang beraifat kekeluargaan serta tertentu tergantung pada aspek tradisi pada daerah-daerah yang disanyalir masih ada di Kabupaten Kerinci,dengan menjaga nilai-nilai luhur tradisi yang turun-temurun dari masa dulu dan setiap kita boleh berargument dengan komitmen masing-masing,dan pendahuluan permasalahan tentang hak bertandang itu merupakan seklemen dari sebuah perkenalan dan berakhir pada pernikahan dengan konsep individual dan tak bisa samakan dengan momentum sejarah di wilayah suatu daerah di Kabupaten Kerinci.Untuk lebih jelasnya kita harus lebih banyak melakukan orientasi yang objektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Prohibited from applying for the woman proposed

FOR HIBITION OF APPLYING MUSLIM WOMEN WHO ARE APPLYED  A Muslim is not permitted to propose a woman who has been proposed by his fell...