Jumat, 03 Agustus 2018

HUKUM MEMAKAI INAI PADA RIAS PERNIKAHAN MENURUT ISLAM


Hukum inai dalam islam menurut Syeik Muhammad Bin Shahih Al-Utsaimaimi Rahimullah berkata"tidak apa-apa berhias dengan memakai inai terlebih lagi pada wanita yang telah melakukan ijab dan Kabul,dan seperti yang dilansirkan oleh depati ninek mamak yang mengatakan inai dalam rias pernikahan merupakan tradisionala dari agama hindu,perkaataan tersebut sangat tidak mempunyai kualitas sama sekali,bahwa memakai inai dalam pernikahan pada dasar hukumnya mubah(dibolehkan)bagi wanita.Bukanlah suatu kebijakan yang benar jika mengatakan inai dalam rias penganten itu haram,yang tak tahu dari mana sebab asal muasal keharamannya,pada masa dahulu di Kota Mekkah semasa Rasulallah Saw. masih hidup wanita-wanita Mekkah menghias anggota dari bagian tubuhnya dengai inai dan dilakukan pada mempelai wanita dan bagaimana pada wanita yang masih gadis pada dasar hukumnya juga dibolehkan,banyak pertanyaan mengenai inai ini namun tidak diharamkan oleh zat dan sifat yang terkandung pada inai tersebut,karena inai termasuk perhiasan,para wanita tentang memakai inai dalam pesta perkawinannya bukanlah suatu tradisi bahwa ini melambangkan kesucian jalinan yang kokoh antara wanita dan laki-laki.Berbeda halnya seperti yang diucapkan oleh sebagian Depati ninek mamak bahwa inai dalam hiasan penganten itu haram pada hal sebaliknya inai dalam pernikahan dibolehkan dan syah-syah saja.

Jawaban inai pada wanita ini tidak apa-apa dikarenakan sebagaimana kita ketahui bial diletakkan pada bagian tubuh ingin dihias akan meninggalka. bekas warna dan warna tetsebut tidak dihalangi oleh tersampainya air pada aliran kulit seperti anggapan keliru sebagian orang-orang apabila wanita memakai inai tersebut membasuhnya pada kali pertama saja akan hilang,dan apa yang menempel dari inai tersebut yang tertinggal hanya warnanya saja,maka ini tidak apa-apa.
Melukis tangan dan kaki dengan inai tidak lah sama dengan tato kalau tato itu memang diharamkan,akan tetapi kalau hanya sekedar inai untuk hiasan bagian tubuh waktu penganten itu dibolehkan bagi wanita yang sudah punya tali ikatan yang syah dengan dalil-dalil dan hadist-hadist yang yang masyur yang diriwayatkan oleh Abu Daud radiallah huanhu."Bahwa waniga bertanya kepada Aisyah ra,tentang merias dengan inai,beliau menjawab boleh."Akan tetapi tidak diperbolehkan mengental dan menghalangi aliran air  ketika berthaharah(bersuci).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...