Sabtu, 18 Agustus 2018

PUSAKA KALALAH

Pusaka merupakan warisan yang diwasiatkan oleh seseorang kepada ahli warisnya dengan berdasarkan pada ketentuan dan syariat islam
Masalah Pusaka Kalalah disebutkan Allah azza wa jalla di dalam Al-qur'an Surat An-nisa 176 yang artinya:

Mereka meminta fatwa kepadamu(tentang kalalah).Katakanlah "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah(yaitu):Jika seseorang meninggal dunia,dan ia mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan,maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya,dan saudaranyabyang laki-laki mempusakai(seluruh harta saudara perempuan),jika ia tidak mempunyai anak, tetapi jika ia mempunyai anak;
tetapi jika saudara perempuannya dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal.Dan jika mereka(Ahli waris itu terdiri dari)saudara-saudara perempuan, maka sebahagian dua orang saudara laki-laki sebanyak bagian bahagian dua orang saudara perempuan.
Allah menerangkan(hukum ini)kepadamu,supaya kamu tidak sesat .Dan Allah megetahui segala sesuatu."
Dari Amir bin Sa'ad bin waqqash dari ayahnya,dia menceritkan pada waktu pembebabasan kota Makkah aku pernah jatuh sakit yang hampir menyebabkan kematianku,lalu Rasulallah saw menjengukku,maka aku katakan:Wahai Rasulallah,sesungguhnya aku mempunyai harta kekayaan yang cukup banyak dan tidak ada yang mewarisinya kecuali seorang anak perempuanku,apakah aku harus mewasiatkan seluruh hartaku?Tidak,Jawab Rasulallah.Dengan dua pertiga hartaku?
Tanya orang tersebut.Tidak jawab Rasulallah.
Kemudian aku menanya lagi apakah setengahnya?Beliau menjawab:
Tidak.
Sepertiga beliau menjawab Ya sepertiga itu sudah banyak.Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalahblebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan kesulitan dengan meminta-minta kepada orang lain.Kamu tidaknakan menafkahkan suatu nafkah melainkan kamu mendapat pahala lantaran nafkahmu itu,sampai sesuap makanan yang kamu masukkan kemulut istrimu.Kemudian aku katakan :
Ya Rasulallah apakah aku terlambat dari hijrahku?Beliau menjawab kamu tidak tertinggal sehingga para kaum(orang-orang kafir) yang menderita kerugian karenamu.
Ya Allah,sempurnakanlah hijra sahabat-sahabatku,dan janganlah kamu kembalikan mereka kebelakang(kepada kekufuran)tetapi yang sial adalah Sa'ad bin Kaulah,dimana Rasulallah menangisinya karena ia meninggal di Makkah.(HR.Bukhari,Muslim,dan Tirmidzi).
Imam Tirmidzi mengatakan bahwa ini hadist hasan dan shahih.
Para Ulama mengamalkan hadits ini yang mengandung pengertian dan makna bahwa seseorang tidak diperbolehkan memberikan wasiat lebih dari sepertiga.Bahkan sebagian Ulama mensunnatkan agar memberikan wasiat kurang dari sepertiga.Bahkan sebagian ulama mensunnatkan agar seseorang memberikan wasiat kurang dari sepertiga,
sebagaimana yang di sabdakan Rasulallah saw"Dan sepertiga itu sudah banyak".
Demikianlah pula dengan ijma para para ulama juga menatapkan larangan untuk memberikan wasiat lebih dari sepertiga.
Perbedaan pendapat yang terjadi antara ulama terletak pada dua hal yaitu:
1.Apakah sepertiga harta itu dihitung pada waktu seseorang memberikan wasiat atau ketika meninggal dunia?Mengenai hal ini ada dua pendapat,tapi yang lebih benar adalah pendapat yang kedua,yaitu ketika meninggal dunia.
Diantara yang berpegang pada pendapat pertama(pada waktu pembagian waksiat)adalah Imam Malik dan sebagian besar ulama Irak.
Sedangkan yang berpegang pada pendapat kedua adalah Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad,yang mana kelompok Ali bin Abi Thalib dan sekelompok Tabiin.
Mereka yang berpegang pada pendapat pertama menyatakan bahwa wasiat merupakan akad perjanjian,dimana akad perjanjian itu dihitung dari sejak awalnya.
Selain itu,mereka juga berbeda pendapat mengenai apakakah sepertiga itu dihitung dari seluruh harta kekayaan atau harta yang sebatas pengetahuan saja dan meninggalkan harta kekayaan yang tidak diketahuinya atau harta kekayaannya yang baru yang tidak diketahui?Jumhur ulama berpendapat ,bahwa sepertiga itu dihitung dari seluruh harta kekayaan yang ditinggalkan.Sedangkan Imam Malik berpendapat,bahwa sepertiga itu dihitung dari harta kekayaan yang berada dalam pengetahuannya saja.
Yang menjadi alasan jumhur ulama untuk berpegang pada pendapat tersebut adalah bahwasanya dalam perhitungan seperti itu tidak ada syarat menghitung jumlah harta kekayaan ketika pemberian wasiat meskipun mengetahui jenis kekayaan tersebut.Seandainya pengetahuan terhadap jenis kekayaan tersebut bersyarat ,niscaya hal itu sama sekali tidak diperbolehkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...