Sabtu, 18 Agustus 2018

RINTIHAN TANGIS SEDIH NENEK TUA DIPERSAWAHAN


Disore nan cerah 18 Agustus 2018 ketika suara gemuruh kendaaraan yang berknalpot kasar,membisingkan telinga,kaki mulai melangkah menyelusuri tepian-tepian persawahan masyarakat yang teramat girang menanam benih padi dengan gunpulan lumpur pada tangan dan tubuh mereka,hatiku menjadi tersiuk haru melihat aktifitas mereka,tanpa mereka sadari aku merekam dari sebagian aktifas mereka membuat jiwa ku tersiuk haru,terkihat disisi lain duduk seorang perempuan yang paruh baya dengan menyekat lumpur pada tangan dan tubuhnya.Aku menggerutu dalam jiwa dimana anakMu? dimana suamiMu?kok tega membiarkan engkau bekerja bagaikan sapi perahan yang dipecut dengan cemeti lalu lari,dan tak disadari riang gelak tawa anak-anak yang kebut-kebutan yang menyadari bahwa orang tuannya bergumur dengan lumpur.Demi mencari sesuap nasi.Lalu aku balik bertanya bagaimana dengan aku,hanya sebagai plato dalam filsafat menulis iris saat melihat aktifitas orang-orang tua yang bergumur dengan lumpur.
Ini mungkin anugerah buat mereka,aku menyelusuri dari alur lain dari sebuah persawahan terlihat nenek yang paru. baya dan aku coba menyapa,dengan tetes air mata,kenapa nak engkau menghiba,aku menjawab aku melihat seusia nenek kok masih juga dijadikan sebagai sapi perahan dipersawahan orang-orang,ko tega sampai sebegitu nya??
Nenek bertanya nak apa frofesimu,aku hannya seorang penulis nek,lalu kenapa engkau menghiba melihatku kata sang nenek.Sungguh pun demikian ini merupakan realita sebuah kehidupan anak-anak nya mungkin asyik di mobil mewah,di kursi empuk jabatannya tapi malah sebalik iris,membiarkan orang tua yang paruh baya bekerja disawah dengan polekan lumpur pada muka,tangan dan tubuhnya.
Alam Kerinci merupakan rentang alam yang menarik untuk disajikan sebagai narasi dalam sebuah karya tulis,yang membuat hati siapa saja bisa iris bila mengamati pemandangan yang sangat  mengharukan,sedangkan anak-anak mereka berlagak,bergaya,bagaikan orang gedongan,memakai kendaraan kebut sanai sini,namun tak disadari bahwa orang tuanya miris di lumpur  persawahan,yang membuat saya sang penulis iba dan terharu dengan keadaan rentan alam di  Kota ini.


Jadikanlah sebuah pelajaran yang terbaik agar kita jangan sok kaya,sok berleha-leha.Sedangkan apa yang saya dapatkan dari sebuah orientasi sungguh dibalik bukti yang ada.
Kapan lagi kalian membiarkan orang tua kalian menjadi sapi perahan di persawahan dengan kotoran lumpur hitam,amis,busu yang menyayat hidung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The type of woman to be married in Islam

From Mugribin bin Syu'bah, he said: I once proposed a woman, then the Prophet S.a.w said: Look because, that will preserve the lo...