Senin, 17 September 2018

Hal-Hal yang membatalkan Pernikahan

Ilustrasi Gambar 0.01


Suatu pengalaman yang mungkin bisa membuat seseorang lambat akan menikah,apakah itu karena faktor ekonomi bukan?Karena faktor pekerjaan juga tidak atau karena faktor kesengajaan itu pun juga tidak.Terlambatnya seseorang untuk melakukan pernikahan dalam kehidupannya barangkali ada faktor-faktor tertentu yang membuat seseorang bisa terlambat untuk menikah sehingga sebagian orang mencibir dan mencemeh,padahal perlu kita kaji secara mendalam dalam prosa kalimat pernikahan.Berikut ini dari kajian kaca mata agama yang menyebabkan hal-hal yang membatalkan pernikahan,pokok konsep tentang problematika tentang pernikahan dapat kita kaji lebih kedalam lagi kenapa?Dan mengapa ?seseorang sering melakukan keterlambatan dalam pernikahan.

Barang kali ini sebab-sebab yang sering ditakuti tentang konsep "yang membatalkan pernikahan". Ada sebuah persepsi genting yang payah untuk di cerna oleh rasio(akal)manusia yang mensinyalir bahwa hal-hal yang membatalkan pernikahan perlu untuk dikaji lebih dalam baik dari "menaj"qolbu atau dengan melakukan shalat-shalat sunnah misalnya :Shalat sunnat Istiqarah,shalat sunnat dhuha dan shalat sunnat tahajud.

Berikut Paparan mengenai hal-hal yang membatalkan pernikahan :

Dikarenakan Calon Istri Kurang Sehat atau mengidap suatu penyakit misalnya kejiwaan,penyakit belang(sopak)dan kusta.
  1. kita perhatikanlah dari sebuah kisah dari para sahabat-sahabat Rasulallah saw yang terdahulu Umar bin Khattab ra mengatakan" Siapaun wanita yang menikah sedangkan dirinya tidak waras atau mengidap suatu penyakit sopak,kusta dan calon suaminya mengetahui setelah berhubungan badan dengannya,maka maharnya tetap menjadi milik istri atas hubungan badan yang telah dilakukan.Adapun wali harus memberi mahar(yang serupa)kepada suami sebagai ganti rugi atas perbuatannya menipu dan membohongi nya.

Salah satu kaum mengganggap,bahwa batalnya pernikahan apabila hal tersebut diketahui sebelum berhubungan badan,dan menjadi boleh untuk dilangsungkan jika diketahui setelah berhubunga badan.Dari Ali  r.a mengatakan :Siapapun wanita yang menikah,sedangkan dirinya terdapat penyakit kusta atau kurang waras atau penderita penyakit sopak(belang)atau qarn(manpatnya lubang kemaluan) apabila belum mencampurinya,maka suaminya boleh melanjutkan pernikahan atau menolaknya.Akan tetapi jika telah mencampurinya,maka si istri berhak mendapatkan mahar atas hubungan badan yang dilakukan oleh suami terhadap dirinya.

Dari Hakim bin Utaibah ia berkata : Bahwa Ali bin Abi Thalib r.a pernah berbicara mengenai wanita yang tidak waras,mengidap penyakit kusta,sopak dan qarn:"Jika ia mengetahui hal itu setelah berhubungan badan dengannysa,maka keduanya harus dipisahkan(bercerai).

Ashbagh mengatakan dari Ibnu Wahab dari Umar,Ali,Ibnu Abbas,Sayyid bin Musyayab,Ibnu Syiab dan Rubai'ah dimana mereka semua mengatakan :Seseorang wanita tidak boleh ditolak untuk dinikahi kecuali karena empat aib yaitu :Karena gila,menderita kusta,sopak dan mengidap penyakit kemaluan.Salah satu kaumnya menyatakan tidak diperbolehkan menikah dengan seseorang wanita yang mengidap salah satu penyakit tersebut.

Ada empat golongan yang tidak boleh melakukan jual beli dengannya atau melakukan kesepakatan :terhadap orang gila,berpenyakit kusta,sopak dan memiliki penyakit kemaluan,demikian menurut Jabir bi Yazid,sedangkan Ibnu Syihab mengatakan:

Tidak diperbolehkan kaum muslimin menikahi wanita yang menderita sopak,gila atau mengidap penyakit kemaluan."Sekelompok orang ada yang berpendapat,bahwa seorang wanita juga berhak menolak apabila ia mengatakan tidak boleh menikahi mereka,kecuali jika telah berhubungan badan.Kelompok yang lain berpendapat,bahwa wanita juga berhak menolak apabila ia mendapatkan hal tersebut pada suaminya.

Dari Sa'id Musayyab ia menceritakan :"Siappun wanita yang menikah dengan seseorang laki-laki yang kurang waras atau akan membawa bahaya baginya,maka jika dikehendaki ia boleh meneruskan pernikahan itu dan jika ia tidak ia boleh juga menceraikannya."Sesorang wanita yang kurang waras,menderita kusta,sopak,atau sakit pada kemaluannya boleh diceraikan .Jika sesorang laki-laki menikahinya,Sedang ia tidak mengetahui tentang hal itu,lalu ia telah berhubungan badan dengannya,maka wanita tersebut berhak mendapatkan mahar dan walinya harus membayar sejumlah mahar kepada suami wanita atas penipuan yang dilakukan.Apabila menikahinya itu anak pamannya,sedang keluarganya tidak mengetahui sedikitpun dari masalah yang dialami oleh wanita tersebut,maka mereka tidak diwajibkan membayar denda.Sedang bagi suami tidak berhak mengambil kembali maharnya kecuali sesuai dengan apa yang tidak diperboleh dari istrinya,yaitu seperempat mahar saja.Demikian yang dikatakan Imam Malik selanjutnya ia menambahkan,seseorang wanita juga mempunyai hak yang sama jika ia menemukan hal-hal tersebut dalam suaminya.Yaitu jika penyakit kusta yang diderita suaminya benar-benar diketahuinya.

Imam Syafi'i mengatakan "Seorang wanita boleh diceraikan jika ia menderita sakit kurang waras,kusta,sopak dan qarn(penyakit mampat kemaluan).Jika itu diketahui sebelum berhubungan badan,maka ia(wanita)tidak mendapatkan sesuatu pun maharnya,akan tetapi,jika diketahui setelah berhubungan badan,maka ia berhak mendapatkan maharnya.


Jika setelah akad nikah baru diketahui bahwa wanita yang dinikahi itu ternyata saudara persusuan laki-laki yang menikahinya,maka pernikahan tersebut menjadi batal karenanya.


Jika ia mengadakan akad nikah bagi calon pengantin masih dibawah umur(belum dewasa) dan bukan ayah atau kakeknya.Akan tetapi,jika ia telah dewasa,maka kedua belah pihak(suami istri)berhak untuk memilih meneruskan kehidupan perkawainannya maupun mengakhirinya dan inilah yang disebut dengan khiyarul bulugh.Apbila keduanya memilih mengakhiri kehidupan perkawinan maupun mengakhirinya kehidupan bersuami istri,maka menjadi batal pernikahan tetsebut.


Jika suami masuk islam sedangkan istrinya menolak akan menjadi wanita musryik,maka akad nikah yang dilakukan pada saat itu menjadi batal karenanya.


Jika Istri memeluk islam,sedangkan suaminya tetap kafir,apabila kemudian keduanya mau memeluk islam maka akad nikahya sah.


Jika suaminya murtad dan istrinya masih tetap muslimah.

Jika istrinya murtad sedangkan suaminya masih tetap seorang muslim.

Jika kedua belah pihak saling berli'an.

Jika keduanya sama-sama murtad.

Jika salah satunya meninggal dunia.Dimana dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...