Rabu, 19 September 2018

HUKUM-HUKUM SHALAT


SYARAT-SYARAT SYAHNYA SHALAT
Menutup aurat untuk orang laki-laki dan perempuan diantara pusat dan lutut,dan untuk perempuan semua badannya kecuali muka dan telapak tangan,dengan tutup yang yang tidak melukis  bentuk,warna badan,jika dapat.

Menghadap kiblat kecuali dalam shalatil kauf(keadaan yang menakutkan),sembahyang sunnat dalam bepergian yang mubah.

Dan mengetahui masuknya waktu,walaupun sekedar perkiraan.

Dan mengetahui cara shalat,yakni dapat membedakan yang wajib dari yang sunnat,kecuali bagi orang awam asalkan tidak terang-terangan mengerjakan fardhu dan dianggap sunnat.
Suci dari hadats besar dan kecil.

Suci badan,pakaian dan tempat dari najis,dan tidak apa-apa darah nyamuk,bisul dan canduk,dan tidak diamaafkan jika terkena darah orang lain meskipun sedikit juga kotoran binatang atau krncing,dan dimaafkan jika tai burung di Masjid selama tidak disengaja menyentuhnya,juga kering.

FARDHU-FARDHU SHALAT
Niat mengerjakannya,serta menerangkan sunnat yang bersebab atau berwaktu.Juga menyebut fardhu,seperti :Ushalli Fardhalasri,dan harus dibarengkan dengan takbirahtul ihram,sebagaimana tersebut dalam kitab Arrudhah.

Takbiratul Ihram,yaitu Allahu Akbar dan harus dibaca sekira dapat didengar telinganya sendiri,jika sehat telinganya,demikian pula tiap-tipa rukun bacaan harus didengar sendiri.

Berdiri bagi kuasa dalam shalat fardhu,sedang yang tidak dapat berdiri katena pusing diatas kapal misalnya maka boleh duduk,atau bersandar atau terlentang.

Membaca fatihah dengan Bismillahhirrahmanirrahim pada tiap rakaat,kecuali bagi ma'mum masbuq dan harus memperhatikan makhraj huruf dan tasdied serta fathah kasrahnya,dan berturut-turut,sebagaimana membaca tasyahhud,maka disela-selahi dengan diam atau zikir berarti putus muwalahnya(berturut-turutnya)tetapi terputus karena membaca amiin atau sujud bacaan imam,maka tidak menyalahi berturut-turut dan harus tertib,sehingga bila ragu dalam bacaannya satu ayat harus mengulanginya dan haram berhenti antara sin dan ta' nasta'in atau sengaja menambah tasydid huruf yang tidak bertasydid.

Rukuk yaitu membongkok sekira tangannya dapat mencapai lututnya.

I'tidal tegak kembali

Sujud dua kali dengan meletakkan dahi yang terbuka pada sesuatu yang bergerak dengan geraknya,jika lutut dan perut tapak tangan,serta jari-jari dan harus menekankan kepala ketempat sujud,dan meninggikan belakangnya dari mukanya.

Duduk diantara dua sujud

Thama'minah(tenang) atan Attahyatu.

Membaca selawat atas Nabi Muhammad s.a.w dan keluarganya dalam tasyahhud akhir.
Salam.

SUNNAT-SUNNAT SHALAT
Sunnat-sunnat shalat ada dua macam :
Mengucapkan niat, menyebutkan ada'an atau qadhaan,atau arba'a raka'at, mustaqbilalqiblati, atau lillahi ta'ala.Melihat tempat sujud,sambil menundukkan kepala.Mengangkat kedua tangan didepan bahu ketika takbiratul ihram dan rukuk dan ketika i'tidal bangun dari ruku',dan ketika berdiri dari tasyahhud pertama.Dan meletakkan tangan kanan diatas pergelangan tangan kiri dibawah dada.Dan merenggankan kedua kaki ketika berdiri.Dan membaca do'a Iftitah.Dan membaca A'uzubillahi minasysyaithan nirajim perlahan-lahan tiap raka'at. Dan memabaca amiin dengan mad(panjang),terutama bagi ma'mum yang mendengar bacaan imamnya,karena sabda Nabi s.a.w :"Idza ammanal imamu fa ammimu,fa innahu man faqa ta' minuhu man wa faqa ta'minuhu ta'minal mala'ikati ghufira lahu ma taqaddama min zanbihi.

artinya : Jika imam membaca amiin,maka kamu amiin,karena siapa yang bertepatan amiinnya dengan amiinnya Malaikat maka akan diampunkan baginya dosa-dosanya yang lalu.(HR.Bukahri, Muslim).
Kemudian membaca selingan dari Al-Qur'an walau satu ayat,dan lebih jika sampai tiga ayat dalam raka'at pertama dan kedua,bagi orang yang bukan ma'mum yang dapat mendengar bacaan imamnya,dan memahaminya maka ma'mum yang mendengar baca'an imam makruh membaca selain fatihah,juga makruh membaca keras dibelakang imam.Dan dapat juga ia mengulangi bacaan karena belum hafal dan lain-lainnya.

PENDAPAT IMAM NAWAWI MENGENAI YANG SUNNAT DALAM SHALAT
Imam Nawawi berkata : Sunnat meletakkan kain diatas bahunya,jika tidak ada maka tali sehingga tidak kosong bahunya,juga ia berpendapat : Makruh meninggalkan itu dan membuka kepala.Makruh yakni kurang layak.

LARANGAN LEWAT DIDEPAN ORANG YANG LAGI MELAKSANAKAN SHALAT
Sebagaimana yang disabdakan Nabi s.a.w  yang artinya : Jika shalat dan sudah memasang dinding didepannya,maka harus ditolak,maka jika akan terus hendaknya memeranginya(memukulnya)maka sebenarnya itu syethan.(HR.Bukhari,Muslim)

Nabi s.a.w bersabda yang artinya :
Andaikan orang yang berjalan didepan orang shalat yang sudah memasang dinding itu mengetahui tanggungan dosanya,niscaya jika ia berhenti(berdiri)selama empat puluh tahun itu lebih baik baginya daripada berjalan dimuka orang yang sedang shalat.
(HR.Bukhari,Muslim)

MAKRUH-MAKRUH DALAM SHALAT
Tidak membuka tangannya ketika takbiratul ihram dan sujud.
Dan merapatkan kedua tapak kaki,atau memajukan yang satu dari yang lain,atau menyandar(menekan dengan yang satu diwaktu berdiri).
Membaca keras di waktu perlahan-lahan atau sebaliknya.Dan menundukkan kepala diwaktu ruku' dan menyalahi tertib ketika meletakkan tangan anggota diwaktu sujud,dan membujugkan lengan di atas tanah,dan merenggangkan tangan dari pinggang ketika ruku',sujud bagi lelaki,dan tidak memabaca ta'wwudz(A'udzu billahi minyssyhaiythainirrajim) dan surat,dan meninggalkan takbir ketika ruku' atau sujud atau bacaan i'tidal dan duduk. Dan meninggalkan tasbih dalam ruku'atau sujud,atau bacaan i'tidal dan duduk,dan do'a setelah tasyahud akhir,dan sangat keburu,dan mendo'akan khusus buat dirinya jika menjadi imam,dan mebelungkupkan pakaian,dan mengusap muka karena debu,dan melencengkan tangan.
Dan Juga makruh menoleh dengan muka saja ,kecuali jika ada hajat yang penting,maka tidak apa-apa.

YANG MEMBATALKAN SHALAT
Sengaja bicara walau dua huruf yang dapat dimengerti,dan tidak batal jika terlanjur lidah atau lupa atai belum mengetahui karena baru masuk islam,juga tidak batal dengan bersin atau menangis,tersenyum yang sedikit.
Batal karena melompat atau berjalan cepat tingkah langkah atau mengaruk dengan gerak keras,dan tidak batal jika hanya menggerakkan jari untuk menggaruk atau kerlingan mata.Juga batal karena mengulangi rukun fi'li(perbuatan)dengan sengaja,juga batal karena menyalahi syarat atau rukun sembahyang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...