Jumat, 14 Juni 2019

BREAKING NEWS| Sejarah Terorisme di Indonesia|Agus Diar TV


ULASAN SINGKAT TENTANG SEJARAH TERORISME DI INDONESIA 
Ketertarikan saya dalam mengembangkan wawasan dan imajinasi menarik untuk semua semua netizen tak lepas dari konteks islam dan aqidah agama, kali ini saya mencoba mengulas tentang problematika yang ada di negeri kita dengan uraian yang akurat tentang sejarah terorisme di Negara kita Indonesia.Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia 🌏 menjadi negeri pendukung dalam upaya A'S dalam perang melawan terorisme. 

Awal-Nya, ketika President A'S. George W Buah membagi dunia menjadi dua proses kebaikan dan poros setan, Indonesia masih enggan masuk barisan A'S dalam menggempur teroris versi A'S. Ketika A'S menyerang Afganistan. Indonesia termasuk gencar mengkritik. Bahkan soal Jama'ah Islamiyah(JI) dan seterus-Nya. Indonesia masih belum bwetindak. Padahal majalah Time sudah berkali-kali membuat laporan tentang aktivitas JI Indonesia, dan mengangkat soal Abu Bakar Ba'asyir. Namun Indonesia belum mengambil tindakan apa-apa. 

TITIK BALIK TENTANG BOM BALI
Titik balik tentang Bom Bali, 12 Oktober 2002,apalagi setelah tertangkap-Nya Imam Samudera dan kawan-kawan nya yang mengaku sebagai JI. Mereka mengakui keterlibatan mereka dalam kasus Bom Bali, pengadilan-Nya masih berlangsung, Meletus lagi kasus Bom Mariot. 

Disini bisa dipahami bahwa Bom Bali, dan Bom Mariot adalah bagian dari konsepsi kepentingan politik global. Oleh karena itu analisis terkait dengan dua kejadian tersebut perlu dibuat secara lebih luas, bahwa kasus ini sudah dirancang begitu canggih, termasuk dampak sosial politik-Nya. Kita perlu paham, bahwa paling ditakuti pihak A'S, Israel dan sebagai-Nya, pasca perang dingin adalah kelompok-kelompok yang mereka sebut sebagai Islam militan, Islam fundamentalis,Islam radikal dan sebagai-Nya. Dalam Skenario berdasarkan teori konspirasi ini, maka JI adalah pintu masuk untuk menggulung kelompok-kelompok yang sudah dicap militan itu. Karena itulah, begitu terjadi kasus Bom Maroot, Menlu Australia saat itu Alexander Downer. Tidak lupa menyisipkan sebutan militan dalam Ucapan-Nya.

Berbagai aksi terorisme belakangan ini, mulai dari Bom Thamrin, kerusuhan di Mako Brimob, peledakan  di gereja dan markas Polisi Surabaya, merupakan runtutan aksi terorisme yang terus berkelindan satu sama lain. Sulit untuk mengetahui secara pasti apa motif utama dari aksi teror tersebut. Yang pasti stigmatisasi melalui media terjadi. Para pelaku di identik kan  dengan simbol keislaman, semacam cadar, keluarga aktivis, penggemar ajaran Islam dan sejenis-Nya.

UNDANG-UNDANG ANTI TERORISME
Disis lain, keberadaan UU terorisme yang awalnya tersendat pembahasan-Nya, kini dengan mulus disetujui oleh Parlemen. Ada perluasan cakupan kewenangan untuk melakukan antisipasi tindakan terorisme. Gelontorkan dana untuk penanganan terorisme terus mengalir dan tiap tahun terus meningkat. POLRI 👮meminta penambahan anggaran untuk penanganan tindak pidana terorisme sebesar Rp 1,925 triliun dalam APBN perubahan 2016.Pada 2018,Wiranto mengatakan, anggaran 2018 meningkat sebanyak Rp 60 miliar dari APBN 2017.Tambahan anggaran akan di manfaatkan untuk koordinasi pemberantasan penyelundupan Rp. 5,5 miliar, koordinasi kerukunan nasional Rp 7 miliar dan koordinasi pembentukan pusat penanganan krisis nasional Rp 6,5 miliar. Selain itu koordinasi pemerataan kekuatan TNI Rp 6 miliar, koordinasi gerakan Indonesia tertib mendukung gerakan nasional revolusi mental Rp 6 miliar dan satgas propaganda, agitasi serta provokasi Rp 6 miliar.Kemudian koordinasi revitalisasi dewan ketahan nasional untuk melaksanakan tugas pembinaan bela negara Rp 7,5 miliar dan koordinasi penanganan Ormas yang tidak sesuai dengan Idiologi Pancasila Rp miliar.

Secara keseluruhan, pagu indikatif Rp 283,6 miliar ini akan dimanfaatkan untuk program dukungan manajemen dan pelaksana tugas teknis lain-Nya Rp 139,9 miliar, program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Rp 6 miliar dan program peningkatan koordinasi polhukam Rp 137,7 miliar. Bukan dana yang sedikit tentu-Nya.

Dengan demikian ,wajarlah muncul anggapan bahwa perang melawan terorisme ini tidak lebih dari konspirasi global yang membawa kepentingan asing untuk mendeskreditkan Islam dan Umat Islam, terutama upaya dalam menegakkan  syariat Islam. Konspirasi ini berkelindan dengan miliaran rupiah proyek yang dialirkan sehingga kepntingan asing dan berjalan-Nya proyek rupiah bertemu dalam kepentingan yang sama. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...