Sabtu, 29 Juni 2019

Breaking News|Ekonomi Sekarat, Negara Terjerat|Agus Diar TV



EKONOMI SEKARAT, 
NEGARA TERJERAT
Breaking News,Berbagai kejadian politik ditanah air seolah menutup persoalan ekonomi yang melanda negeri ini. Masyarakat dibuat sibuk berpesta pora Demokrasi, sebagian begitu gembira dengan mendapat uang Rp. 25,000 untuk mendukung salah satu calon kepala daerah di kotak suara. Apa hendak dikata, uang sebesar itu sangat berharga ditengah himpitan ekonomi. 

Parah-Nya negara memanfaatkan kondisi euforia itu. Tanpa ada pengumuman, tiba-tiba harga BBM non subsidi naik. Begitu masyarakat ribut, PERTAMINA baru menjelaskan alasan di balik kenaikan harga tersebut. Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah sebelum-Nya. Biasa-Nya pemerintah selalu mengumumkan kenaikan harga BBM. Tak salah bila ada yang menduga, pemerintah memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan. 

Hal yang pernah terjadi sebelum-Nya saat kenaikan tarif listrik. Tanpa ba-bi-bu, TDL naik. Begitu rakyat ribut karena beban pembayaran bulanan meningkat, negara baru menjelaskan. 

Sebenar-Nya  beban hidup sudah begitu berat, para pengusaha kecil menjerit. Usaha mereka tak lagi diharapkan. Keuntungan yang beberapa tahun lalu menghampirinya, kini menjauh. Pengusaha besar pun tak kala pusing, melemahnya rupiah membuat mereka ketar-ketir. Bagaimana tidak, dolar yang melambung membuat mereka harus mengencangkan ikat pinggang, pasal-Nya, mereka banyak mendatangkan bahan baku dari luar negeri. Bisa di import, sudah begitu, produk jadinya harus dipasarkan didalam negeri. Bisa dibayangkan kenaikan harga produk harus diambil sebagai akibat kenaikan harga bahan baku. 

Lebih parah lagi dolar terus menguat sehingga rupiah melemah, dolar bertengger di angka 12.000-an, kini dolar menembus Rp. 14.000 lebih. Bagi pengusaha yang utang keluar negeri, ini pukulan berat. Berarti utang mereka bengkak. Demikian juga utang pemerintah otomatis meningkat akibat selisih kurs bertambah. 

UPAYA BANK INDONESIA MENAHAN PELEMAHAN RUPIAH
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Bank Indonesia(BI)untuk menahan lajunya pelemahan rupiah. Tapi gagal. Dolar terus melaju kencang. Rupiah terseok-seok tak karuan. Sudah begitu, utang luar negeri naik tak karuan. 

Inilah dampak sistem kapitalisme, siapa yang melaksanakan sistem tersebut? Mau tidak mau, suka tidak suka, harus mengikuti hukum kapitalisme yang kuat menang yang kalah terkapar. Dolar sebagi acuan mata uang dunia terus perkasa. Sementara uang negara lemah seperti Indonesia kian tak berdaya. 

Sistem mata uang kertas, perbankan ribawi, dan pasar bebas sebagai sistem kapitalisme telah menjadi negara tak berdaya. Negara kapitalis yang mengendalikan. Sementara negara bebek yang menjadi korban-Nya. Jangan heran jika negara berkembang miskin menjadi bulan-bulanan negara adidaya. Mereka dijerat hutang dan dibuat lemah ekonomi-Nya. 

Oleh karena itu, tidak ada jalan keluar dari masalah ini selain melepaskan diri dari sistem ekonomi kapitalisme berpindah pada ekonomi Islam. Hanya dengan itu rakyat akan kembali berdaulat, kekayaan negara kembali menjadi milik rakyat. Keadilan dan kesejahteraan akan terwujud nyata[Ad, dari segala sumber]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...