Jumat, 21 Juni 2019

Breaking News|Sejarah Perang Dagang China-AS Memanas |Agus Diar TV


MEMANASNYA PERANG DANGAN AS-CHINA
Lintas Dunia,Ketertarikan penulis mengenai perekonomian ,perindustrian Internasional sedang  gencar-gencar-Nya dilakukan oleh negara adi kuasa baik di Asia maupun Eropa, sehingga penulis merasa sangat tertarik untuk merilis tentang problematika Dagang AS-China yang bisa menambah pengetahuan dan ilmu bagi netizen dan penulis sendiri. 

President AS Donal Trump secara sepihak menaikkan tarif bea masuk 1.300 produk ekspor China ke AS yang nilainya mencapai US$ 50 miliar, produk-produk tersebut diantar-Nya komponen pesawat teebang, baterai, panel televisi, alat kesehatan, satelit dan senjata. 

Tidak lama berselang, China melakukan pembalasan dengan menaikkan tarif bea masuk beberapa barang-barang import AS hingga 25 persen. Produk-produk tersebut diantara-Nya aluminium, pesawat terbang, mobil, daging babi dan kedelai. Beberapa produk di antara-Nya seperti buah-buahan, kacang dan pipa baja dikenakan tarif 15 persen. 

Kebijakan trump tersebut bukan tanpa alasan. Menurut dia hal itu merupakan balasan atas perdagangan fair yang dilakukan China. Termasuk mencuri hak kekayaan intelektual negara itu. Memang hampir 20 tahun terakhir defisit perdagangan AS dengan China semakin lebar. Arti-Nya ekspor AS ke China. Produk ekspor China pun tidak lagi didominasi oleh barang-barang murah yang padat tenaga kerja. Namun semakin bergeser pada produk-produk padat modal dan teknologi di tahun 2000,total defisit perdangan AS mencapai US$ 77 miliar. Dari jumlah itu, China menyumbang 22 persen. Pada tahun 2010,dari nilai defisit yang mencapai US$500 persen-Nya berasal dari negara China(US-China securities and Exchange Commission). 

Serbuan import barang China dijadikan kambing hitam melemah-Nya industri manufaktur AS. Banyak perusahaan AS, termasuk teknologi tinggi seperti industri panel surya berguguran. Dampak berikut-Nya, penyerapan tenaga kerja AS merosot. di tahun 2011 beberapa riset menyebutkan import China menyebabkan hilangnya pekerjaan 600 ribu pekerja kelas atas. Namun faktor internal AS tak dapat di tampik. Tinggi-Nya biaya produksi di AS, terutama pajak dan upah tenaga kerja yang mahal. Ikut mendorong banyak perusahaan AS meninggalkan negara itu dan mengalihkan pabrik mereka ke negara-negara yang biaya produksi-Nya lebih rendah seperti China. 

Sebenar-Nya bukan hanya AS yang mengalami defisit perdagangan dengan China. Negara-negara Eropa dan Asia termasuk Indonesia juga mengalami hal seruoa. Hingga tahun 2006,neraca perdagangan Indonesia dengan China masih surplus. Namun sejak tahun 2007 Indonesia telah mencatat defisit dengan pertumbuhan fantastis. Tahun 2017 nilai-Nya mencapai US$ 6,3 miliar. Kenaikan itu terutama sejak Indonesia ikut menandatangani Asean-China Free Trade Aggrement(ACFTA) tahun 2008.Parah-Nya lagi, mayoritas barang di Ekspor Indonesia ke China adalah barang-barang mentah atau setengah jadi seperti Batu Bara dan Nikel. Diolah di China dan sebagian di ekspor kembali ke Indonesia. Sayang, hingga saat ini Pemerintah Indonesia tak pernah melakukan evaluasi apalagi koreksi terhadap kebijakan yang indikasi-Nya telah banyak merugikan ekonomi Indonesia.(Ad, dari segala sumber) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga pembalap tercepat TDS(tour de singkarak)2019 Kerinci

Kerinci ,Pembalap tercepat TDS fokus untuk mempertahankan jersey tersebut. Bagaimanapun jenis dakian tanjakan, saya akan berupaya sem...