Kamis, 20 Juni 2019

Breaking|Nyala Api Pada Jargon Baru Yang di Dengungkan|Agus DiarTV


KONSPIRASI GLOBAL DALAM PERANG MELAWAN JARGON BARU YANG DIDENGUNGKAN
Lintas Dunia, Perang melawan terorisme"bukan merupakan  cerita baru dalam kancah  politik Internasional yang didengungkan, perhatian dan ketertarikan penulis terhadap konspirasi global dalam perang melawan terorisme yang didengungkan Amerika Serikat(AS) dan sekutu-Nya. Kampa-Nye ini bukan juga sebuah proyek yang bebas nilai atau steril dari sebuah kepentingan. Teroris telah menjadi sebuah isu yang didesain sedemikian rupa untuk di manfaatkan oleh AS untuk lebih mencengkram kan hegomoni-Nya di seluruh dunia tanpa terkecuali. 

Istilah terorisme masih dimaknai dengan standar ganda, sesuai dengan kepentingan pihak yang berkuasa. Misal-Nya, Amerika menganggap pembunuhan Indra Ghandi sebagai aksi terorisme. Sementara pembunuhan Raja Faisal dan Presiden Kennedy tidak disebut terorisme. Pada tahun 1997,awal-Nya AS menancap pengeboman Gedung Kantor Penyelidikan Federal (FBI) di Oklahoma sebagai terorisme. Namun setelah diketahui pelaku-Nya adalah orang Amerika sendiri, yakni Timothy MC Veigh,pengeboman tersebut dikatagorikan sebagai aksi kriminal biasa. Ketika pejuang HAMAS Palestina melakukan bom syahid melawan Israel, AS menamai-Nya sebagai aksi terorisme. Sebalik-Nya tindakan brutal yang dilakukan para serdadu Israel yang telah membantai dan memporak - porandakan kalangan sipil Palestina disebut sebagai pembelaan diri untuk merespom(serangan) musuh. Peruntuhan Gedung WTC yang hingga detik ini belum terbukti siapa pelaku-Nya disebut sebagai terorisme. Sebalik-Nya tindakan brutal AS dan sekutu-Nya yang menghancurkan leburkan Afganistan beserta 7.5penduduk-Nya yang telah menewaskan ribuan rakyat sipil yang tak berdosa dinamakan sebagai penegakan keadilan tanpa akhir(enduring justice). Itulah arti terorisme yang mereka defenisikan. 

KELOMPOK MUSLIM DUNIA DITUDING KERAS SEBAGAI TERORISME TANPA BUKTI YANG JELAS
Sejarah menunjukkan babwa Amerika memanfaatkan peristiwa peledakan  Kantor Federal(FBI) di Oklahoma pada tahun 1997(yang belakangan ini pelaku-Nya orang Amerika sendiri) dengan mengeluarkan undang-undang perlawanan terhadap terhadap terorisme yang disetujui oleh senat AS. Namun pelaksanaan-Nya tidak mendapat banyak respon dari negara-negara dunia. Berikut-Nya, melalui mumentum peledakan bom Gedung WTC tanggal 11 September 2001,AS pun segera menyeru seluruh dunia untuk membentuk Undang-Undang melawan terorisme di masing-masing negara. Berbeda dengan tahun 1997,hampir seluruh dunia kini berada di belakang AS. Lagi-lagi, pada tahun 1997 yang dituduh adalah Islam. Ternyata bukan, kini yang dituduh adalah orang Islam, tanpa bukti yang nyata, dan tanpa bukti negeri Muslim Afganistan dihancurkan. Padahal sampai saat ini AS tidak dapat menunjukkan bukti bahwa pelaku-Nya adalah orang Islam, khusus-Nya ribuan penduduk sipil yang dihujani ratusan bom-bom mereka. 

Bahkan  Dubes AS untuk Indonesia saat itu(Gelbard) menyatakan bila tidak terbukti bersalah itu adalah kaum Muslim kelompok Al-Qaida. AS meminta maaf, kenyataan-Nya, ribuan orang sipil Muslim Afganistan tewas. Sejumlah pejuang yang ditangkap tidak diperlakukan sebagai layak-Nya manusia. Tanah Afganistan diduduki. AS menempatkan Hamid Karzai untuk menguasai pemerintahan.

AS melanjutkan aksi-Nya di Irak dan kini di Suriah. Kedua negeri ini luluh lantah akibat aksi sepihak AS dengan alasan perang melawan terorisme. Keberadaan ISIS yang menjadi biang kehancuran di Irak dan Suriah menjadi tanda tanya, apakah betul mereka Umat Islam yang ingin menegakkan Islam? Ataukah mereka "konspirasi"yang mencitra buruk kan Islam yang justru membuat umat ketakutan dengan upaya penegakan syariah Islam.

KAITAN-NYA DENGAN STRATEGI DASAR AMERIKA
Bila dikaitkan dengan strategi dasar Amerika, jelas bahwa sebenar-Nya isu terorisme hanyalah alat politik-Nya untuk melengahkan dirinya sebagai negara adikuasa. Didalam Rencana Strategis AS dalam hubungan Internasional yang dikeluarkan Februari 1999 disebutkan bahwa tujuan kepemimpinan Internasional AS adalah menciptakan kemakmuran yang lebih aman dan dunia yang demokratis demi keuntungan bangsa Amerika. Arah ini adalah mengembangkan ideologi kapitalisme yang dianut AS, di samping mencapai kepentingan nasional-Nya. Salah satu Implementasi strategi untuk mencapai keadaan yang aman dan stabil tadi adalah isu terorisme.

Sasaran sentral-Nya adalah Islam. Sebab-Nya menurut mereka, Islam merupakan kunci dari kebijakan luar negeri AS pasca keruntuhan sosialisme-komunisme. Karena itu tidak mengherankan jika daftar nama kelompok yang dikatagorikan AS sebagai teroris mayoritasnya adalah kelompok Islam. Karena itu pula negeri-negeri Islam menjadi wilayah terpenting yang menjadi sasaran Amerika dalam penerapan Undang-Undang anti terorisme. Salah wujudnya bwrupa tekanan untuk membela AS atas nama terorisme.(Ad, dari segala Sumber) 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...