Selasa, 25 Juni 2019

Cara Pandang Islam Mengenai Adat-Istiadat|Agus Diar TV


PANDANGAN ISLAM 
MENGENAI 
ADAT-ISTIADAT
Pertemuan kali ini saya ingin membahas persoalan tentang berbagai problem tentang adat-istiadat, kali ini saya  akan menerangkan kepada netizen tentang problem tersebut menurut pandangan kaca mata islam, Dan bagaimana kedudukan adat-istiadat dalam syariah islam? Jika adat-istiadat tersebut tidak bertantangan dengan islam, dengan kata lain sesuai dengan syariah islam, apakah bisa dianggap sebagai bagian dari islam? Bagaimana pula kedudukan adat-istiadat sebagai dalil syariah islam? Pertanyaan ini lah yang akan saya coba untuk memberikan jawaban, berikut uraian jawaban mengenai adat-istiadat. 

Adat-istiadat adalah produk pemikiran hanya saja, tidak dalam bentuk materi, tetapi non-materi. Karena itu adat-istiadat adalah bagian dari peradaban, bukan produk materi. 

Sebagai produk pemikiran, adat-istiadat itu lahir, atau terpencar dari akidah tertentu. Karena itu ketika adat-istiadat itu tidak bertentangan, atau sesuai dengan syariah islam, tidak bisa serta-merta diklaim sebagai bagian dari islam. Sebab-Nya adat-istiadat tersebut lahir, atau terpancar dari akidah lain. Bukan dari akidah islam. 

Memang ada sebagian fuqaha' menjadikan adat-istiadat[al- adat] dan konvensi sebagai dalil. Alasan-Nya, karena Allah SWT  memerintahkan "Jadilah pemaaf, suruh lah orang mengerjakan yang makruf dan jangan pedulikan orang-orang bodoh"(Qs : Al-A'raf[7]:119).

Frasa, Wa mur bil al-urf dalam makna ayat(suruh lah mereka mengerjakan berdasarkan kebiasaan) ini mereka gunakan sebagai justifikasi. Mereka menjustifikasi konotasi dengan beberapa masalah fikih, yang mereka klaim, ditetapkan  berdasarkan penggunaan Konvensi. Bahkan mereka mengklaim Nabi saw, telah mengakui sejumlah Konvensi dan adat-istiadat. Karena itu bagi mereka adat-istiadat  dan Konvensi merupakan dalil syariah. 


Mengenai Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 119 diatas yang mereka gunakan untuk menjustifikasi adat-istiadat sebagai dalil, jelas keliru. Alsan-Nya :


Pertama, Ayat yang mereka klaim sebagai dalil syariah ini sebagai dalil syariah ini sebenar-Nya tidak ada relevansi-Nya dengan adat istiadat atau Konvensi. Adapun klaim bahwa Nabi SAW, telah mengakui adat-istiadat atau konvensi, maka ini juga tidak bisa dijadikan dalil, namun, yang harus dijadikan sebagai dalil adalah pengakuan Nabi saw, itu sendiri. Dengan  kata lain, dalil-Nya bukan adat-istiadat atau Konvensi tetapi hadist Nabi saw. 


Kedua, Konvensi adalah perbuatan yang dilakukan terus menerus, jika dilakukan oleh individu disebut Adat-istiadat jika dilakukan oleh komunitas atau kelompok disebut Konvensi. Semua perbuatan ini harus dilaksanakan berdasarkan syariah Islam. Ini, karena setiap Muslim wajib melaksanakan perbuatan-Nya  mengikuti perintah dan larangan Allah SWT. Karena syariah yang menjadi patokan adat-istiadat atau Konvensi. Bukan sebalik-Nya. Karena itu lah adat-istiadat atau Konvensi tidak bisa dijadikan, baik sebagai dalil maupun kaidah syariah. 


Ketiga, Kadangkala adat-istiadat atau konvensi tersebut menyalahi syariah, kadangkala tidak. Jika adat-istiadat atau konvensi menyalahi syariah maka syariah datang untuk membersihkan atau mengubah-Nya. Hal ini karena diantara tugas syariah adalah mengubah adat-istiadat atau konvensi yang rusak, bukan memelihara-Nya. Jika adat-istiadat itu tidak menyalahi syariah maka hukum-Nya ditetapkan berdasarkan dalil dan iklan syariah, bukan berdasarkan adat-istiadat atau Konvensi tersebut. Karena itu syariah-lah yang menjadi patokan adat-istiadat atau konvensi, bukan sebalik-Nya. 


Keempat, Adat-istiadat atau Konvensi tidak memiliki akar[Ushul], baik dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah, maupun ijmak sahabat. Karena adat istiadat atau Konvensi tersebut sama sekali tidak mempunyai nilai sebagai dalil syariah, kecuali dinyatakan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah


Kelima, Adat-istiadat atau Konvensi   itu ada yang baik, dan ada yang tidak baik. Karena itu adat-istiadat atau Konvensi tidak baik, tidak di akui. Lalu apa yang membedakan antara adat-istiadat yang baik dan yang tidak baik? Akal atau syariah? Jika akal yang digunakan untuk membedakan yang baik dan yang tidak baik, maka pasti tidak mampu, karena tidak bisa menjangkau apa yang di balik yang baik dan tidak baik tersebut, yaitu pujian dan celaan atau pahala dan dosa jika akal tetap dipaksa untuk memutuskan maka hasil-Nya akan fatal dan kacau. Karena itu keputusan-Nya harus diserahkan pada syariah, bukan pada akal


Keenam, Mengenai Konvensi yang menjadi istilah dan patokan di masyarakat, Maka istilah adalah penggunaan nama-nama obyek tertentu, baik yang kemudian obyek dikenal dengan makna hakiki menurut  bahasa konvensi, atau makna hakiki menurut syariah semu-Nya ini merupakan istilah. Sebagai contoh penggunaan kata. 


Adapun patokan yang digunakan ditengah masyarakat, maka yang diakui adalah apa yang dinyatakan oleh nas yang diakui. Selain itu istilah dan patokan ini bukan merupakan adat-istiadat dan konvemso, sebagaimana yang mereka maksudkan.
[Ad.dari segala sumber]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga pembalap tercepat TDS(tour de singkarak)2019 Kerinci

Kerinci ,Pembalap tercepat TDS fokus untuk mempertahankan jersey tersebut. Bagaimanapun jenis dakian tanjakan, saya akan berupaya sem...