Sabtu, 22 Juni 2019

Mihrab Cinta Dilangit Jingga|Agus Diar TV




MIHRAB CINTA DILANGIT JINGGA
KONTEK TAKWA
Islam Post,Kali ini penulis mencoba memahami dari sebuah filosof judul penulis dengan tema Mihrab cinta di langit jingga dengan kontek Takwa.Ramadhan telah berlalu, idealnya, setelah melewati masa-masa training sebulan penuh,selama ramadhan dan setelah ramadhan ia makin rajin beribadah. Ia melakukan banyak shalat sunnah, shaum sunnah, berzikir dan bertaqarrub kepada Allah SWT. Ia makin banyak bersedekah dan makin berakhlakul karimah. Ia makin rajin menuntut ilmu. Ia makin giat berdakwah dan beramal makruf nahi munkar. Demikian seterus-Nya. Sebalik-Nya ia pun makin jauh dari perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah SWT, singkat-Nya ia makin bertaqwa kepada Allah SWT. 

Takwa inilah yang menjadi buah dari Shaum yang ia jalani selama sebulan penuh selama bulan ramadhan(Qs. Al-Baqarah[2]:183].Jika itu yang berhasil ia raih, berarti shaum-Nya benar. Sebalik-Nya jika shaum-Nya selama ramadhan hanyalah sekeder menahan rasa lapar/haus semata. Demikian yang di isyaratkan. Baginda Rasulallah saw(HR.Ahmad-dan Ad-Darimi). 

Berbicara tentang mihrab, cinta, dan langit jingga dalam konteks takwa. Baginda Rasulullah pernah bersabda kepada Muadz Bin Jabar r. a Saat beliau mengutuskan-Nya ke Yaman"Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun/kapanpun/dalam keadaan bagaimanapun(HR.At-Tarmidzi) . 

Terkait frasa Ittaqillah(bertaqwalah engkau kepada Allah) dalam potongan hadist diatas. Banyak ulama mendefinisikan kata takwa. Umum-Nya kata taqwa mereka maknai dengan melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan -Nya serta menepati hukum-hukum-Nya. Dengan kata lain,hakikat takwa adalah sebagaimana dinyatakan oleh Hasan Al-Basari dan Umar bin Abdul Aziz. Yakni Menjauhi semua yang Allah larang dan melaksanakan semua yang Allah perintahkan. Lebih dari itu kebaikan. 

MENURUT ULAMA SALAF MAKNA MIHRAB CINTA DALAM KONTEK TAKWA
Menurut ulama salaf. Takwa juga bisa berarti meninggalkan banyak hal yang mubah(halal) hanya karena takut terjatuh pada ke haraman. Karena itu sikap wara'(takut terjatuh kedalam dosa) dan takut kepada Allah SWT. 

Masih Terkait dengan takwa. Sayyid bin Al-Musayyib pernah ditan-Nya seseorang"Bagaimana taqwa itu? Ia balik bertanya "Bagaimana pendapat-Mu, jika engkau berjalan dijalanan yang berduri, apa yang engkau lakukan? " Orang itu menjawab"saya tentu akan hati-hati dan berusaha menghindari duri-duri agar tidak melukai kedua telapak kaki ku."Sayyid Al-Musayyib kemudian berkata itulah takwa yang engkau menghindari diri kemaksiatan. 

Adapun Frasa haytsuma kunta makna-Nya adalah : Ditempat manapun kamu berada, baik dilihat manusia atau pun tidak. 

Secara rinci dapat dijelaskan, bahwa kata haytsu bisa merujuk pada tiga, tempat(Makan), waktu(Zaman) dan keadaan(hal). Karena itu sabda Baginda Rasulallah saw kepada Muadz ra tersebut sebagai isyarat agar ia bertaqwa kepada Allah SWT tidak hanya di Madinah: Saat turun-Nya wahyu-Nya saat dia bersama beliau. Juga saat dekat dengan Masjid Nabi Saw. Namun hendaklah ia bertaqwa kepada Allah SWT, dimanapun kapan-pun dalam keadaan bagaimana pun

Alhasil kita pun sejati-Nya bertakwa tidak hanya saat berada dalam bulan Ramadhan saja, yang kebetulan baru kita lalui, tetapi juga diluar Ramadhan saja. Selama sebelas bulan berikut-Nya. 

MENURUT ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ MENGENAI MIHRAB CINTA DALAM KONTEK TAKWA
Terkait tentang ini Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah berkata "Alkyas Al-kays at-taqwa WA ahmaq al-humqi al-fujur. " Artinya: Orang yang paling cerdas diantara orang-orang yang cerdas adalah: yang paling bertakwa. Orang yang paling bodoh diantara orang-orang bodoh adalah suka bermaksiat. 

Apa yang dinyatakan oleh Abu Bakar Ash-Siddiq contoh kecil betapa banyak pejabat yang bergaji tinggi dan menikmati ragam fasilitas negara serba lux dan tentu serba gratis, masih saja terdorong untuk melakukan koruosi, ia pun akhirnya tertangkap tangan dan masuk penjara. Ia celaka karena perbuatan-Nya sendiri. Mengapa bisa begitu? Karena ia tidak bertakwa kepada Allah SWT. Saat ia tak bertakwa ia tampak bodoh, jika saja ia bertakwa tentu ia akan memiliki sifat qana'ah dan tentu bisa bersikap cerdas. Menahan diri untuk korupsi, ia tidak tergoda oleh sesuatu yang bisa membuat diri-Nya celaka sekaligus menghancurkan harga diri dan kehormatan-Nya. 

Banyak sifat yang diletakkan pada orang-orang yang bertaqwa(Muttaqin) diantaranya merujuk ayat-ayat diawal suarah Al-Baqarah orang yang bertaqwa adalah orang yang mengimani yang ghaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian harta, mengimani Al-Qur'an dan kitab-kitab Allah turunkan sebelum Al-Qur'an meyakini alam akhirat(Qs.Al-Baqarah[2]:1-4].

Lalu kalau kita merujuk pada ayat lain, orang bertaqwa disifati dengan beberapa ciri: Menginfakan harta-Nya, disaat lapang atau pun sempit, mampu menahan amarah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Jika melakukan dosa segera ingat kepada Allah SWT dan memohon ampunan-Nya, tidak meneruskan perbuatan dosa-Nya(Qs.Al-Imran[3]:133-135].

Tentu masih banyak lagi sifat-sifat orang bertakwa yang disebutkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.(Ad, dari segala Sumber) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...