Minggu, 23 Juni 2019

Sejumlah Hukum yang di Klaim menggunakan Adat-Istiadat|Agus Diar TV


SEJUMLAH HUKUM 
YANG DIKLAIM 
MENGGUNAKAN ADAT-ISTIADAT
Kali ini penulis akan mencoba merilis tentang adat-istiadat dan mengapa harus ada klaim yang menggunakan adat-istiadat  atau Konvensi sebagai dalil-Nya berikut penjelasan penulis mengenai hal tersebut semoga bermanfaat besar untuk para netizen dan penulis.Penjabaran mengenai hal tersebut akan penulis perincikan menjadi dua bagian kemungkinan;

Hal pertama, Hukum-Nya benar, tetapi salah dalam penggunaan dalil-Nya. Misal-Nya, teman yang bertamu dirumah teman teman-Nya, dia dibolehkan makan makanan teman-Nya. Dalio-Nya bukan adat-istiadat atau kovensi, melainkan Qs. An-Nur[24]:41.Maka buah yang jatuh dari pohon dibolehkan, bukan karena adat-istiadat atau Konvensi, melainkan karena Hadist Nabi Saw. Yang membolehkan memakan-Nya. Diam-Nya anak gadis yang menandakan persetujuan-Nya untuk dinikakan dengan  lelaki juga bukan karena adat-istiadat atau Konvensi melainkan karena hadist Nabi SAW. 

Hal Kedua,Hukum dan dalil-Nya salah, Misal-Nya, ketika seorang istri yang sudah ditiduri suaminya, lalu ia mengklaim suaminya belum membayar sedikit pun mahar yang dibayarkan, maka klaim semacam itu tidak boleh diikuti. Sebalik-Nya hakim wajib menolak-Nya, jika adat-istiadat atau Konvensi pernikahan, biasanya tidak dinikahkan kecuali dengan membayar mahar-Nya. Dengan bwhutu, adat istiadat atau Konvensi tersebut bisa dijadikan  dalil hukum syariah. Dalam konteks ini, kesalahan-Nya ada pada hukum dan dalil-Nya, karena hal mahar tidak bisa digugurkan dengan menggunakan argumentasi adat-istiadat atau Konvensi. Mesti-Nya belum dibayar, maka harus divonis sebagaimana hak-Nya tanpa melihat adat-istiadat atau Konvensi

Semua ini membuktikan bahwa adat-istiadat atau Konvensi itu tidak bisa dijadikan dalil hukum syariah. Adat-Istiadat atau Konvensi juga tidak layak dijadikan kaidah syariah. Pasal-Nya kaidah syariah adalah hukum menyeluruh juga bukan hukum umum karena tidak memiliki bagian dan rincian. 

Mengenai adat-istiadat atau Konvensi penduduk Madinah, yang dijadikan dalil oleh Imam Malik, maka ditegaskan Oleh Dr. Said Ramadhan al-Buthi, dalam kitab-Nya bahwa adat-istiadat atau Konvensi penduduk Madinah yang bisa dijadikan dalil, disyaratkan tidak menyalahi hukum syariah. 

Meski demikian penulis berpendapat, kalaupun adat-istiadat atau Konvensi penduduk Madinah dijadikan dalil yang menjadi dasar adat-istiadat atau Konvensi tersebut. Dengan asumsi, Nabi SAW hidup bersama para sahabat di Madinah selama sepuluh tahun, baginda melihat dan mendengar, mengakui apa yang mereka lakukan didepan beliau. [Ad, dari segala sumber].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...