Senin, 15 Juli 2019

Dunia Yang Tak Berpintu|Agusdiar TV

DUNIA YANG TAK BERPINTU
Ilustrasi Gambar 


"Mencari(harta)yang halal adalah wajib bagi setiap Muslim".(HR.Ath-Tabrani)



Sorot Islam, Hai para netizen yang berbahagia di seluruh Persada Nusantara dan dunia yang telah Sudi mengunjungi blog AGUSDIAR.COM dengan sajian yang bermanfaat terutama untuk penulis sendiri dan untuk para netizen kesemuanya, kali ini penulis mencoba menggali dan mengkaji tentang dunia tak berpintu dengan artian sebuah Filsafah yang sangat mendalam walaupun sangat dasar sekali pengaturan penulis tentang hal ini namun bermanfaat untuk para netizen terutama dan untuk penulis pada khususnya mengkaji tentang dunia tak berpintu dan penjelasan konkrit mengenai hal tersebut. Dan tentang dunia tak berpintu ini penulis juga hubungkan dengan hadits-hadits yang Mutawatir agar tidak timbulnya kesenjangan baik itu untuk pembaca sendiri terutama jika untuk penulis dan semoga penulisan tentang dunia tak berpintu Ini bisa memberikan motivasi untuk para netizen dan untuk menulis sendiri. 


Al-Banawi didalam faydh al-Qodir menjelaskan hadis di atas kemungkinan yang dimaksudkan adalah mencari pengetahuan tentang perkara yang halal dan yang haram juga memahami perbedaan keduanya dari segi hukum hukumnya. Itu ada ilmu fiqih bisa juga yang dimaksud adalah mencari nafkah yang halal untuk dirinya dan orang yang menjadi tanggung jawabnya juga bersungguh-sungguh dalam menjauhi yang haram dan qana'ah dengan yang halal yang halal itu banyak. Anda tidak harus sampai meyakini secara pasti perkara yang tidak tampak cukup bagi anda menjaga diri dari apa yang anda ketahui bahwa itu haram dan yang ada duga bahwa itu haram dengan suatu dugaan persamaan dengan tanda-tanda yang terkait dengan hal tersebut hal itu disebutkan oleh Imam Al - Ghazali. 

Abdullah bin Mas'ud menuturkan Rasulallah bersabda dengan arti-Nya : " mencari rezeki yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban(HR.Ath-Thabrani). 

Aladala-Baihaqi menyatakan bahwa di dalam sanad hadits ini ada Abbad bin Katsir Dan Dia menurut Al-Hasyimi di dalam kasir adalah Matruk. Didalam Mizan sinyatakan dari Abu Zuriah bahwa Abbad bin Katsir dha'if. 

Meski demikian, As-Shakawi didalam Maqasid Al-Hasanah, dengan mengutip Abu Ahmad Al-Fara', menilai ini memiliki syawahid(sejumlah pendukung). Diantara-Nya Hadist dari Ibnu Mas'ud ra. Dan juga hadist penuturan Ibnu Abbas ra, sebagian hadist ini saling menguatkan sebagian yang lain. Apalagi syawahid-Nya banyak. 

Jadi dua hadis di atas saling memperkuat satu sama lain, juga diperkuat oleh syawahid berupa hadits-hadits lainnya yang semakna. 

Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa mencari rezeki yang halal adalah wajib Selain itu hadis-hadis yang memuji dan mendorong amal mencari rezeki yang halal sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan maknanya :
" Tidaklah seseorang memakan makanan lebih baik dari makan dari hasil kerja tangannya."(HR.Al-Bukhari, Ahmad dan Al-Baihaqi). 

Rasulallah Saw juga bersabda dengan makna-Nya:
Siapa yang mencari dunia secara halal untuk menjaga diri dari meminta-minta dan sebagai upaya untuk menafkahi keluarganya serta berbuat baik kepada tetangga Ia datang pada hari kiamat sementara wajahnya laksana bulan purnama."(HR.Al-Baihaqi). 

MAKNA DUNIA TAK BERPINTU 
MENURUT  HADIST DIATAS
Hadits-hadits ini secara langsung memerintahkan dan mendorong untuk mencari rezeki yakni mendorong produksi. Dengan ungkapan lain menyelesaikan masalah kemiskinan Negeri tampak dari hadits-hadits itu bahwa yang disuruh adalah individu juga bahwa dorongan berproduksi itu tidak lain untuk mengatasi Kebutuhan individu dan memenuhi kebutuhan orang yang menjadi tanggungan mereka atau menambah kepemilikan mereka. Itu artinya kebolehan memanfaatkan rezeki yang halal ini dari satu sisi. 

Dari sisi lain pula yang diselesaikan oleh dalil-dalil ini secara langsung atau yang mengharuskannya tidak lain adalah  amal untuk mendapatkan kepemilikan Bukan semata untuk amal. Artinya produksi untuk memiliki Bukan semata produksi saja. 

Hal itu menunjukkan amal itu hasil dari ke pemilikan ini menunjukkan produksi itu adalah cabang bukan pokok yakni cabang dari perolehan atau kepemilikan. Oleh karena itu ada hukum-hukum yang mengharuskan produksi untuk mendapatkan harta dan produksi itu adalah apa yang dituntut oleh perolehan. Lalu datang hukum-hukum yang secara langsung dalam dalil-dalilnya menjelaskan produksi untuk pemanfaatan. Semua hukum ini dengan dalil dalilnya berarti perolehan harta.  

 Semua ini menunjukkan bahwa produksi itu bukanlah problem mendasar Tetapi hanya salah satu problem ekonomi. Problem mendasar nya adalah kepemilikan atau dengan ungkapan lain adalah perolehan dan ini berarti distribusi. 

Bahwa problem mendasar ekonomi adalah distribusi lebih ditegaskan oleh dalil-dalil syariah yang jumlahnya banyak sekali ayat al-qur'an dan al-hadits yang datang untuk mengatasi kemiskinan kebolehan kepemilikan dan kebolehan memanfaatkan kepemilikan. 

Artinya dalil-dalil itu ditujukan pada problem distribusi harta jumlah dalil-dalil itu banyak dan beragam sampai batas yang mencolok dan menarik perhatian. Hal itu menunjukkan adanya perhatian sangat besar dari Syariah. Syariah datang mengatasi masalah pokok bukan cabang yaitu masalah kemiskinan yakni problem distribusi harta. 

Yang diselesaikan oleh dalil-dalil tersebut adalah masalah perolehan harta atau kepemilikan harta yang itu merupakan program pokok dalam perekonomian yang darinya terdiri Fasi program-program ekonomi. Jadi kemiskinan individu yakni perolehan harta atau setiap individu merupakan problem ekonomi yang mendasar dari sini problem mendasar ekonomi adalah problem distribusi harta.(Ad dari segala sumber) 




1 komentar:


  1. Depo 20ribu bisa menang puluhan juta rupiah
    mampir di website ternama I O N Q Q
    paling diminati di Indonesia

    BalasHapus

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...