Sabtu, 06 Juli 2019

Mengapa Asuransi Haram|Agus Diar TV

MENGAPA ASURANSI HARAM? 


         Di dalam buku An Nizam Al iqtishodi pada pembahasan atta-ta'min ( asuransi) ada contoh yang tidak saya pahami yaitu terkait menyerahkan pakaian kepada tukang cuci atau untuk dicuci lalu pakaian itu hilang di situ ada jalan lain atau penanggung dan yang mendapat pertanggungan. Adapun makmum atau yang ditanggung yaitu tukang cuci tidak jelas dalam hal hal itu berbeda dengan kondisi perusahaan asuransi di sini saya sebagai penulis bukan menyalahkan perusahaannya tetapi supaya kita lihat dalam kajian Syariah Islam di situ juga ada damai perusahaan asuransi Mun tahu atau pemilik mobil dan Makmun Anhu mobilnya yang ada di jalan dan sopirnya tidak di ketahui lalu mobil itu diterapkan pada suatu hari. 

 Saudara-saudaraku penulis menelaaah pertanyaan dari para netizen tentu pengharaman asuransi disini penulis melakukan perilisan bukan hanya disebabkan masalah yang ditanggung(al- madhun anhu) tetapi karena banyak penyimpangan Syariyyah semisal tidak adanya hak dalam tanggungan yang sudah eksis atau pada nantinya ada. Ini membuat asuransi batil di dalam asuransi juga ada kompensasi ini juga yang menjadikan asuransi batil masih banyak yang lain seperti yang dijelaskan pada bab. 

 Saudaraku, kami tidak mengatakan dalam dua keadaan tersebut Al-Madhum'anhu  atau tidak jelas kami hanya menyatakan dalam kondisi tukang cuci atau al-Madhmun Anhu tidak jelas. Dalam kondisi At-ta'min Al-Madhmun anhu tidak ada. Berikut saya mengutip kan teks dalam dua keadaan tersebut cari sebuah kitab Al-Nizham Al-Iqtishdi. 

Terkait tukang cuci dinyatakan di dalam kitab tersebut sebagai uraian yang di jelaskan penulis sebagai berikut:

Hanya saja tidak disyaratkan al-Madhmun anhu harus ma'lum(jelas) tidak disyaratkan al-madmun lahu juga harus jelas. Jadi sha adh-dhaman meski seandai-Nya kedua majhul( tidak jelas). Andai seseorang berkata kepada yang lain berikan pakaianmu kepada tukang cuci itu kalau orang lain itu berkata Saya khawatir ia menghilangkan atau merusaknya. Lalu Orang itu berkata kepada dia berikan saja pakaianmu pada tukang cuci itu saya yang menanggungnya untukmu jika hilang atau rusak. Namun dia tidak menentukan tukang cuci nya yang demikian sah. Andai orang lain itu memberikan pakaiannya kepada tukang cuci lalu hilang atau rusak Maka orang itu wajib menanggung meskipun al-madmun anhu(yang di tanggung) majhul (tidak jelas).  Demikian juga Andai seseorang berkata sipulan adalah tukang cuci yang mahir Siapa saja yang menyerahkan pakaian kepada dia untuk dicuci saya yang akan menanggung tukang cuci itu dari semua kerusakan ini juga meskipun al-Madhmun lahu majhul. 

Dalil adh-dhaman adalah jelas. Di dalam-Nya adh-dhaman itu adalah penggabungan tanggungan kepada tanggungan(dhammu dzimmah), itu adalah pertanggungan untuk terbukti dalam tanggungan. Jelas didalamnya ada dhamin(penanggung), Madhu mungkin anhu(yang di tanggung) dan madhmun lahu(yang mendapat pertanggungan. Juga jelas dhamana itu tanpa komposisi.. Di dalam dalil itu al-Madhmun anhu majhul. Demikian pula al-Madhmun lahu-Nya. Dalil ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Jabir yang berkata Rasulullah SAW tidak menshalatkan orang yang meninggal sementara dia punya utang lalu didatangkan Kepada beliau sesosok jenazah beliau bertanya apakah dia punya tanggung-tanggung mereka menjawab Benar 2 Dinar beliau bersabda salat kan teman kalian lalu Abu qatadah berkata biar 2 Dinar itu menjadi tanggungan ku ya Rosulullah Jabir berkata lalu Beliau menshalatkannya ketika Allah memenangkan Rasulullah beliau bersabda aku lebih utama bagi setiap mukmin dan dirinya sendiri karena itu siapa saja yang meninggalkan hutan itu menjadi tanggungan ku Siapa saja yang meninggalkan warisan itu untuk ahli warisnya. 

Hadits ini jelas di dalamnya aku qotadah telah menggabungkan tanggungannya kepada tanggungan si mayit dalam keharusan menunaikan hak finansial yang telah wajib bagi debitur atau semakin Jelas pula dalam adh-dhaman itu ada dhamin(penanggungan). Adh-Dhaman yang ditanggung masing-masing dari keduanya adalah keharusan menunaikan hak yang ada di dalam tabungan tanpa kompensensi. Jelas juga, Al-Madhmun anhu(yang di tanggung), yaitu si mayit dan al-Madhmun lahu(kreditur), keduanya adalah pada saat atau akad dhaman tersebut. Jadi hadis tersebut telah mencakup syarat-syarat sah dhaman dan syarat-syarat iqad-Nya. 

Jelas dari ini bawa ke majhul  pada Al Madhun lahu  dan Al-madhun lahu  bukan pada ketiadaannya tetapi pada ketiadaan nama dan informasinya dan sebagainya. Namun si mayit yaitu admin tidak mengetahui nama nasab-Nya tetapi Al-madhun anhu itu juga ada. 

Perusahaan asuransi telah menjamin sesuatu yang tidak wajib saat itu dan juga tidak wajib nantinya. Karena itu adh-dhaman itu tidak sah. Berikutnya asuransi itu menjadi batil apalagi dalam asuransi tidak ada madhmun anhu. Rasanya perusahaan asuransi tidak menjamin dari seorang pun yang memiliki kewajiban menunaikan hak sehingga bisa disebut dhaman. Jadilah akad asuransi telah kosong dari unsur mendasar di antara unsur-unsur adh-dhaman jelas harus ada madhun anhu maka jadinya akad asuransi itu batil secara syar'i.(Ad, dari segala sumber). 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...