Senin, 22 Juli 2019

Menyoalkan Tudingan Radikalisme di Perguruan Tinggi||Agusdiar TV

MENYOALKAN TUDINGAN RADIKALISME
DI PERGURUAN TINGGI

Sorot Kampus, ratusan ribu mahasiswa yang diterima akan segera memasuki perguruan tinggi mereka ,mereka datang Tengah ramainya tapi jangan seputar pernyataan Badan Nasional penanggulangan terorisme atau BNPT terkait radikalisme. Menurut BNPT ada 7 perguruan tinggi ternama yang disinyalir terpapar paham radikalisme. Pernyataan BNPT tersebut sangat penting untuk dikritisi.

Sebab tidak hanya berpotensi merugikan perguruan tinggi itu namun juga bisa mendiskreditkan umat Islam. 

Berikut bahasan penulis... 

Pertama, istilah radikalisme yang dilontarkan oleh BNPT tersebut sangat kabur sehingga tidak jelas Apa definisi dan indikatornya menurut Oxford dictionary radikal berarti akar sumber atau asal mula. Dalam kamus ekspor itu disebutkan istilah radikal ketika dikaitkan dengan perubahan atau tindakan bermakna sesuatu yang mampu mempengaruhi karakteristik Dasar atau fundamental natur-e serta menyeluruh. 

Jadi secara bahasa sebenarnya istilah radikal itu justru bersifat positif yakni sesuatu yang bersifat fundamental. Itu justru sesuai dengan karakter perguruan tinggi yang memang mengkaji berbagai aspek hingga pada sisi fundamentalnya. 

Namun kemudian istilah radikal tersebut dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif  yakni sebagai pendorong terorisme. Sementara istilah moderat lawan dari istilah Radhika dikonotasikan sebagai sesuatu yang positif. Kemudian media dan pihak tertentu mendefinisikan sesuai keinginannya Apa makna moderat itu. Misalnya ada upaya mengopinikan bahwa orang moderat itu adalah mereka yang apabila agamanya dihina dia diam saja. 

Sementara orang yang melawan penghinaan tersebut akan di kategorikan radikal. Orang yang mendukung sekularisme liberalisme akan dikategorikan sebagai orang yang berpikiran moderat. Sedangkan orang yang mendukung upaya penerapan syariah secara Kaffah akan dikatakan atau dikategorikan berfikiran radikal. 

Kedua, ada upaya untuk mengaitkan isu radikalisme dengan terorisme. Itu bertumpu pada asumsi bahwa pemicu terorisme adalah radikalisme atau paham radikal. Mereka bisa mengatakan bahwa radikalis is only one step song of terrorist yang artinya ada narasi yang ingin dibangun di ranah publik bahwa islam itu mengandung paham radikal yang nantinya akan melahirkan aksi terorisme. 

Padahal aksi terorisme yang terjadi di negeri ini sendiri masih menjadi tanda tanya besar bagi umat Islam. Siapakah sebenarnya dalang atau pelaku terorisme dan Apa motif dibalik aksi tersebut. Memang bisa saja pelaku terorisme itu seorang muslim atau ada identitas keislaman yang melekat pada diri pelaku atau hanya sebagai KTP sedangkan dia bukan Islam,dia dikatakan orang non muslim atau kafir, ini pula persoalan yang tidak jelas maka dari itu kita harus paham siapa?kenapa? Mengapa? hal semacam ini bisa terjadi(jangan gagal paham). 

Dalam persoalan ini hal tersebut masih dianggap kabur dan gelap atau tidak kelihatan dan dengan nama lain tidak diketahui. 

Ketiga, sangat kuat indikasinya bahwa yang menjadi target isu radikalisme dan terorisme itu adalah Islam. Tidak hanya orang dan organisasinya namun juga ajaran Islam itu sendiri yang akan dipilih melalui isu tersebut.  misalnya ada sebuah lembaga kajian yang menyebutkan masjid-masjid kampus-kampus sebagai sarang radikalisme sangat salah besar sekali Kenapa demikian Masjid merupakan tempat beribadah setiap Mukmin Mukmin muslim dan muslimah sedangkan kampus bagi mereka yang menuntut pengetahuan sampai mendapatkan gelar atau mahkota kehormatan yang dinamakan toga, kok mereka bisa dikatakan orang radikalis. 

Pusat pengkajian Islam dan masyarakat dengan nama lain PPIM Universitas Islam Negeri atau Jakarta beberapa waktu yang lalu menerbit kan buku berjudul gerakan Salafi radikal di Indonesia. Penggunaan istilah Salafi radikal tersebut sangat subjektif dan bias. Karena apa yang mereka maksud dengan Salafi dan Apa yang dimaksud dengan radikal sangat tidak jelas kriterianya. Jadi buku tersebut lebih tepatnya sebagai sarana propaganda untuk mendiskreditkan umat Islam. Bukan buku ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan secara data,metodologi dan analisis. 


Tentu saja tumbuhan semacam itu bagian dari penyesatan opini. Kalau kita perhatikan umat Islam yang memperjuangkan penegakan syariah secara Kaffah itu melakukannya melalui dakwah sebuah proses yang bersifat edukatif dan argumentatif tidak ada satupun bukti bahwa perjuangan mereka itu disertai kekerasan apalagi aksi terorisme. 

Apa yang sekarang terjadi sesungguhnya merupakan wujud perang pemikiran yang memang gencar dilakukan oleh negara-negara barat pimpinan Amerika Serikat. Inilah fakta perang peradaban antara Islam dan Barat seperti yang diramalkan Huntington dalam bukunya di Clash of work order. 

Civitas akademika muslim di berbagai perguruan tinggi harus menjamu Clash of Civilization ini melalui dakwah argumentatif yang berbasis Nalar sehingga nanti akan terpapar dengan jelas betapa Mulianya sistem Islam dan betapa rusaknya sekularisme liberalisme itu wallahualam.(Ad, dari segala sumber) 



2 komentar:

  1. IONQQ**COM
    agen terbesar dan terpercaya di indonesia
    segera daftar dan bergabung bersama kami.
    Whatshapp : +85515373217

    BalasHapus

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...