Jumat, 26 Juli 2019

Mereka Bicara Indonesia di Ambang Krisis|Agusdiar TV

MEREKA BICARA INDONESIA 
DIAMBANG KRISIS

MENGARAH  KRISIS

Kalau melihat siklus krisis berulang 10 tahunan kita mengalami krisis ekonomi terparah tahun 1997 sampai 1998 kemudian berulang di tahun 2008 dan tahun 2018 ini pun di ambang krisis kembali ditandai dengan nilai tukar Rupiah yang terus melemah utang pemerintah dan utang luar negeri yang membengkak derasnya masuknya TKA dari Cina dan menggeser tenaga kerja lokal. 

 Di dunia perbankan suku bunga bank Indonesia atau SBI sudah dinaikkan yang berdampak pada meningkatnya suku bunga pinjaman belum lagi mulai terjadi penarikan dana nasabah yang memiliki rekening diatas 2 miliar rupiah. 

Ditambah lagi kondisi harga-harga komoditas pokok yang mulai merangkak naik kembali pasca lebaran seperti telur ayam dan lain-lain kondisi diperparah dengan kenaikan listrik di tahun 2017-2018 BBM non subsidi. Semua itu bisa mengarah pada ambang krisis ekonomi berkelanjutan jilid 3.

Kenyataan ini semakin melemahkan pelaku usaha dan berdampak pula kepada penurunan daya beli masyarakat padahal pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang dari konsumsi masyarakat. Maka laju pertumbuhan ekonomi bisa menurun karena ada keluhan di sisi produksi dan konsumsi. 

Apabila kondisi ini terus berlanjut Dan diikuti gejala dari sistem moneter dan fisikal bisa mengarah pada krisis ekonomi. 

Sikap pemerintah saat ini seolah tenang-tenang saja namun sesungguhnya sedang panik menghadapi puncangan goncangan ekonomi baik dari luar dan dari dalam. 

Sayangnya kebijakan-kebijakan yang diambil tidak terfokus pada akar masalahnya bahkan semakin banyak ungkapan-ungkapan dan ucapan pejabat negara menteri yang melukai hati rakyat Saat rakyat menghadapi kenaikan kenaikan harga komoditas. 

Selama Indonesia masih menerapkan sistem ekonomi yang neoliberal kapitalistik maka akan terus berkubang dengan krisis dan bencana ekonomi. 

KENAIKAN YANG TIDAK SOPAN
  Dampak kenaikan BBM ini mungkin lebih dirasakan kelas menengah atas dibanding kelas menengah ke bawah karena yang dinaikkan itu bukan bahan bakar subsidi melainkan non subsidi. Kita mendengar Penjelasan bahwa kenaikan itu karena harga minyak dunia naik Ditambah selisih nilai dolar yang juga naik kemudian tata krama naikkan tidak seperti pemerintah yang lalu-lalu yang menaikkan BBM secara terbuka atau diumumkan. Pemerintahan saat ini sistemnya otomatis naik tanpa pemberitahuan inilah yang menurut saya mendegradasi peran wacana di publik dan peran DPR jadi harusnya ada perdebatan atau diberi ruang rakyat bersuara ini malah main tancap tancap segala menaikkan harga. 

SALAH MENGELOLA ENERGI
   Naiknya harga BBM non subsidi saat ini adalah akibat naiknya harga rata-rata Global sejak Mei yang sudah berada di atas 70 dolar AS per barel.  seperti diketahui lebih dari 95% biaya produksi BBM berasal dari minyak mentah dan Pertamina menjadikan harga internasional untuk menetapkan biaya produksinya.  pemerintah beralasan bahwa kenaikan ini hanya pada BBM non subsidi seperti Pertamax dan namun yang perlu dicatat sebagian besar SPBU sudah tidak lagi menjual BBM bersubsidi saat ini hanya 44% SPBU khususnya di kawasan Jawa Madura dan Bali yang masih menjual premium.  dengan kata lain kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada konsumen kaya tapi juga konsumen menengah bawah seperti para tukang ojek seni itu seperti biasanya harga-harga kebutuhan pokok biasanya akan ikut naik dan diikuti kenaikan biaya transportasi. 

Pemerintah Sebenarnya masih dapat mengusahakan agar ketergantungan minyak mentah yang harganya fluktuatif dapat dikurangi seperti mengoptimalkan penerimaan minyak mentah dari produksi domestik. 

Tapi ini susah karena sebagian produksi sudah dikuasai oleh pemain asing Selain itu pemerintah dapat mendorong pembangunan kilang domestik yang sejak Orde Baru stagnan. Kalau kita lihat pengelolaan energi oleh pemerintah saat ini lebih banyak lepas tangan sangat dingin dalam mengupayakan energi murah bagi rakyat seluruh diserahkan kepada mekanisme pasar. Hal ini sejalan dengan kebijakan liberalisasi energi yang sudah sejak lama di desain untuk diberlakukan di negeri ini ini adalah bagian dari proyek Dio liberalisme dan sosialisme yang disponsori oleh negara-negara barat dan didukung oleh bank dunia dan IMF. (Ad, dari segala sumber). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...