Minggu, 07 Juli 2019

Pria Dan Wanita Di Hadapan Syariah|Agus Diar TV

HAK DAN KEWAJIBAN 
PRIA DAN WANITA 
DIHADAPAN SYARIAH
   
 Penulis mencoba merilis tentang Khilafah yang merupakan institusi politik yang menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar negara Syariah Islam. Sebagai satu-satunya aturan untuk mengatur seluruh Interaksi yang terjadi di dalamnya. Akidah Islam adalah dasar dan pandangan hidup Syariah adalah aturan yang digunakan untuk mengatur seluruh urusan negara masyarakat maupun individu. Masyarakat yang tegak di atas Aqidah Islam dan Syariah Islam memiliki kekhasan dan bentuk yang berbeda dengan masyarakat yang tegak di atas paham sekuler dan aturan buatan manusia. 

Termasuk bentuk relasi wanita dan pria, fungsi dan peran mereka di masyarakat distribusi peran hak dan kewajiban keduanya di dalam masyarakat. Berikut penjelasan penulis mengenai hal tersebut tersebut, tentang hak dan kewajiban wanita dalam Syari'at Islam. 

HAK DAN KEWAJIBAN PRIA DAN WANITA
Di dalam masyarakat Islam wanita diberi kewajiban dan hak sebagai mana laki-laki kecuali ada dalil dalil yang khusus kan bagi masing-masing keduanya nya nya. Seorang wanita diberi hak untuk melakukan aktivitas perdagangan,pertanian, Perindustrian dan lain-lain wanita diberi hak menjalin kontrak akad atau muamalah-muamalah. Wanita berhak memiliki dan menguasai berbagai macam jenis harta dan mengembangkannya wanita juga diperiksa melibatkan diri secara langsung dalam berbagai macam urusan kehidupan. 

Dalil yang mendasari pasal ini adalah realitas yang dari taqlid hukum syariah. Secara umum Syariah Islam dibandingkan kepada seluruh manusia tanpa memandang pria dan wanita tidak ada perbedaan antara wanita dan pria dihadapan hukum syariah keduanya sama-sama Bukankah Allah SWT menyebutkan di dalam Al-qur'an dengan FirmanNya dengan artinya : 
Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui(QS. Saba'[34]:28). 

Katakanlah wahai manusia sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian semuanya(QS.Al-A'raf[7]:158). 

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman :
Artinya sungguh kaum muslimin dan muslimat kaum mukminin dan mukminat pria dan wanita yang senantiasa berlaku taat pria dan wanita yang selalu berlaku benar pria dan wanita yang biasa berlaku sabar pria dan wanita yang senantiasa takut kepada Allah pria dan wanita yang gemar bershodaqoh pria dan wanita yang suka berpuasa pria dan wanita yang selalu memelihara kemaluan atau kehormatannya serta pria dan wanita yang banyak menyebut asma Allah telah Allah sediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar(QS.Al-Ahzab[33]:35). 

Atas dasar itu Syariah Islam diturunkan untuk memberikan solusi atas problem seluruh umat manusia tercakup di dalamnya problem-problem yang terkait dengan laki-laki dan wanita. 

Laki-laki dan wanita dipandang sebagai manusia. Interaksi mereka perlu diatur dengan aturan tertentu, Islam tidak pernah mempersoalkan kesetaraan atau kelebihan laki-laki atau wanita atau sebaliknya. Keduanya dipandang sebagai manusia yang urusannya harus diatur dengan aturan tertentu. Syariah Islam tidak pernah menyoal masalah kesetaraan gender seperti yang dilakukan oleh orang kafir barat dalam mengatur urusan urusan laki-laki dan wanita. Istilah dan wacana kesetaraan gender tidak pernah ada di dalam Islam. Istilah dan wacana itu hanya ada di dalam masyarakat barat sebab Syariah Islam datang untuk menyelesaikan problem yang menimpa manusia baik pria maupun wanita. 

Kesetaraan gender antara pria dan wanita bukanlah persoalan yang harus didiskusikan bukan pula persoalan yang menjadi topik pembahasan dalam wacana sistem interaksi atau pergaulan pria dan wanita. Topik kesetaraan gender tidak mungkin ada di tengah-tengah kehidupan Islam istilah semacam ini hanya muncul dan dikenal di dunia barat. Tidak pernah dilontarkan seseorang muslim pun kecuali yang mengekor kepada Barat. Mereka memang telah merenggut hak-hak asasi kaum wanita selaku manusia oleh karena itulah wanita-wanita barat menuntut hak-hak tersebut dikembalikan sekaligus menjadikan tuntutan tersebut sebagai wacana kesetaraan atau Kinder sebagai cara untuk mendapatkan hak-hak mereka. 

Berbeda dengan Islam tidak mengenal istilah-istilah semacam itu, Islam menegakkan sistem sosialnya di atas landasan yang kuat dan sempurna. Sistem ini dapat menjamin menjamin keutuhan dan ketinggian martabat manusia yang ada di dalam Daulah Khilafah Islamiyah. Sistem ini telah mengantarkan wanita dan laki-laki ke Puncak kebahagiaan Hakiki sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta'ala Lihatlah dan perhatikan Qur'an surah al-isra(17):[70].

Islam telah menetapkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi wanita dan laki-laki penetapan hak dan kewajiban ini terkait dengan kemaslahatan keduanya dalam pandangan Allah sebagai sang pembuat hukum. Hukum syariah yang mengatur aktivitas aktivitas yang mereka lakukan ditetapkan berdasarkan sebuah anggapan bahwa aktivitas tersebut dilakukan oleh manusia. Hukum syariah yang digunakan untuk memecahkan persoalan mereka ada kalanya semua jika tabiat keduanya selaku manusia mengharuskan adanya pemecahan yang sama. Sebaliknya nikahan yang diberikan kepada keduanya Adakalanya berbeda jika karakter salah satu dari keduanya menuntut adanya pemecahan yang berbeda. Hanya saja kesamaan dalam sejumlah hak dan kewajiban di antara keduanya bukan didasarkan pada ada atau tidak adanya kesetaraan gender. Adanya perbedaan dalam beberapa hak dan kewajiban di atas di antara keduanya juga tidak dilihat dari ada atau tidak adanya unsur kesataraan. 

Sebab Islam memandang masyarakat sebagai komunitas manusia yang hidup dalam intensitas tertentu bukan dengan pandangannya yang lain Di antara karakter komunitas masyarakat manusia adalah adanya pria dan wanita Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
Artinya :"Wahai manusia hendaklah kalian bertaqwa kepada Tuhan yang telah menciptakan kalian dari 1 jiwa, jiwa itu Allah lalu menciptakan istrinya lalu dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang amat banyak."(QS.An-Nisa[4]:1). 

Demikianlah tatlif Syariah di beton kan Allah Subhanahu Wa Ta'Ala kepada manusia tanpa memandang perbedaan jenis kelamin. Begitu pula dalam konteks pemberian hak dan kewajiban kepada pria dan wanita pemberian hak dan kewajiban tersebut pada hakekatnya merupakan pemberian hak dan kewajiban kepada manusia. Prioritas ingin menunjukkan kepada kita bahwa hak dan kewajiban pria dan wanita didepan  taklip tidak ada perbedaan keduanya dalam hal kewajiban mengemban dakwah islam begitu pula dalam ta'lik yang berurusan dengan ibadah seperti salat, puasa, zakat, Haji dan lain sebagai-Nya. 

Pria dan wanita memiliki kewajiban yang sama itu pula dalam urusan urusan muamalah seperti jual beli Ijarah, wakalah,kafalah dan sebagainya. Islam Tuhan memberikan porsi kewajiban yang sama kepada laki-laki dan perempuan dalam urusan sanksi atas pelanggaran, Islam juga menetapkan porsi yang sama bagi laki-laki dan wanita Siapa saja yang melanggar hudud dan ta'zir baik laki-laki maupun perempuan akan mendapatkan sanksi yang sama tanpa ada diskriminasi sedikitpun. Di bidang pendidikan Islam mewajibkan laki-laki dan wanita hukum talak. Tidak ada perbedaan dalam hal kewajiban menuntut ilmu baik laki-laki maupun wanita. 

Dengan demikian Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menetapkan hukum-hukum syariah yang berkaitan dengan perbuatan manusia dalam kedudukannya sebagai manusia sebagai satu ketentuan yang sama-sama harus dilaksanakan oleh pria dan wanita. 

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa taklif beserta hak dan kewajiban pria dan wanita adalah sama.(Ad, dari segala sumber). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...