Sabtu, 20 Juli 2019

Puasa Sunnah Syawal Sebelum Meng-Qhada Puasa Ramadhan Bolehkah?|Agusdiar TV

PUASA SUNNAH SYAWAL
 SEBELUM MENG-QHADA PUASA RAMADHAN BOLEHKAH? 
Ilustrasi Gambar

Tanya :
Ustadz, bolehkah seseorang yang masih punya utang puasa Ramadhon misal perempuan yang haid berpuasa sunnah 6 hari dibulan Syawal lebih dulu dari mengqadha puasa Ramadan-Nya? 

Jawaban tentang pertanyaan diatas :
      Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya seseorang berpuasa sunnah 6 hari dibulan Syawal sebelum mengqadha puasa Ramadan nya dalam 2 pendapat. 

Pendapat  Pertama Jumhur Ulama, Iya itu ulama mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi'i secara global membolehkannya.

Ulama mazhab Hanafi membolehkan secara mutlak tanpa disertai kemakruhan sedang ulama mazhab Maliki dan Syafi'i membolehkan disertai kemakruhan yang kedua ulama mazhab Hambali mengharamkan puasa sunnah 6 hari bulan Syawal sebelum meng-Qadha puasa Ramadhan. 

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan seseorang berpuasa sunnah 6 hari dibulan Syawal sebelum meng-Qadha puasa Ramadhan-Nya. Hal itu dikarenakan meng-Qadha puasa Ramadhan adalah kewajiban yang longgar waktunya atau wajib puasa Yaitu dapat dikerjakan Mulai bulan Syawal hingga bulan Sya'ban. 

Dalil bahwa puasa Ramadan adalah kewajiban yang longgar waktunya adalah Hadits dari Aisyah Ra yang berkata Saya pernah mempunyai kewajiban atau Qhada puasa ramadhan maka saya tidak mampu meng-Qadhanya kecuali di bulan Sya'ban.(Kaana Yakuunu 'alaiya shaum min Ramadhan, famaa astathiiu an aqhiyahu  ilaaha fi sya'ban(HR.Bukhari dan Muslim). 

Hadits di atas ini menunjukkan bahwa mengkada puasa Ramadan itu waktunya longgar dari bulan Syawal 3 bulan Sya'ban yakni hanya 1 bulan sebelum ramadhan tahun berikutnya padahal sudah diketahui bahwa Aisyah ra adalah orang yang sangat gemar melaksanakan ibadah ibadah yang sunnah termasuk puasa sunnah 6 hari dibulan Syawal. 

Imam Ibnu Bathtal berkata mengenai kelonggaran waktu mengqadha puasa ramadhan para ulama telah sepakat bahwa barangsiapa yang mengqadha puasa Ramadan yang ditinggalkan nya di bulan Sya'ban sesudahnya maka dia dapat disebut orang yang pernah menunaikan kewajibannya berpuasa Ramadhan tanpa melalaikan kewajiban itu. 

Imam Ibnu Rajab Al hanbali berkata mengenai bolehnya mendahulukan kesunahan dari kewajiban yang longgar waktunya atau wajib muwassa apakah dia boleh melakukan kesunahan sebelum menunaikan kewajiban itu dalam jenisnya yang sama ataukah tidak? Ini ada dua macam yang pertama dalam ibadah jika ibadah mahabbah ini waktunya longgar maka boleh melakukan kesunahan sebelum menunaikan kewajiban seperti halnya salat menurut kesepakatan ulama dan boleh pula melakukan kesunahan itu sebelum ada suatu kewajiban seperti halnya puasa Ramadan menurut pendapat yang lebih Shahih. 

Berdasarkan penjelasan ini maka boleh hukumnya seseorang yang masih mempunyai hutang puasa ramadhan karena syar'i misalnya karena haid sakit atau perjalanan untuk melakukan puasa sunnah 6 hari pada bulan Syawal itu dia belum mengqada puasa Ramadan nya namun yang lebih afdhol meski tidak wajib adalah dia mengqadha puasa Ramadan lebih dulu baru kemudian berpuasa sunnah 6 hari pada bulan Syawal wallahua'lam.(Ad bersama KH. M. Shiddiq Al-Jawi). 


1 komentar:

  1. IONQQ**COM
    agen terbesar dan terpercaya di indonesia
    segera daftar dan bergabung bersama kami.
    Whatshapp : +85515373217

    BalasHapus

Tiga pembalap tercepat TDS(tour de singkarak)2019 Kerinci

Kerinci ,Pembalap tercepat TDS fokus untuk mempertahankan jersey tersebut. Bagaimanapun jenis dakian tanjakan, saya akan berupaya sem...