Rabu, 28 Agustus 2019

Cerita Rakyat Kerinci Puti Lamo dan Puti Cikettung|Agusdiar TV

CERITA RAKYAT KERINCI PUTI LUMO DAN PUTI CIKETTUNG


Catatan penulis :

Cerita Rakyat tentang Puti Lumo dan Puti Cekettung(Kecamatan Keliling Danau) diceritakan oleh Hj. Rahmah

perempuan yang berusia 83 tahun, mempunyai 2 orang anak.Cerita ini diceritakan kepada masyarakat dalam keadaan gembira atau pun santai, menurut Hj. Rahmah cerita ini diterima dari orang tua-Nya sewaktu beliau berumur 15 tahun. 

Tujuan bercerita adalah untuk membentuk kepribadian masyarakat agar tidak dengki dan iri hati terhadap nasib dan keberuntungan orang lain dan agar selalu berbuat baik terhadap sesama dan cerita ini masih hidup ditengah-tengah masayarakat dan masih saja diceritakan kepada masayarakat. 
========================================

Tukan-tukan kunaung biasanya pandai sekali bereksperesi sesuai dengan jalan cerita : Penuh  emosi, sedih, bersemangat benci dan lucu. Konon menurut cerita, tukan kunaung ini dibimbing atau dikendalikan oleh mambang dan peri sehingga seorang tukan kunaung bisa seperti orang yang kesurupan. Dia dapat bercerita dengan lancar sehingga apa yang terjadi seolah-olah betul-betul berada dihadapan-Nya.Berikut cuplikan cerita-Nya :

Puti Lumo mandi berdua dengan Puti Cikettung disebuah sungai, setelah selesai mandi dilihat nya baju Puti Lumo tidak ada lagi ditempat dia meletakkan sebelum mandi. Entah siapa yang mengambil baju itu. Mungkin juga Puti Cikettung yang menyembunyikankan-Nya. Dengan tubuhnya yang menggigil karena kedinginan dia mengatakan pada ibunya, bahwa baju-Nya hilang. 
Kata Ibu-Nya demikian cari lah sampai kau dapatkan nak!! Sebelum baju itu kau temui kau belum boleh pulang! "Kata Ibunya, karena dia orang yang miskin, dia hanya memiliki satu helai baju saja. 

Puti Lumo pergi mencari bajunya dengan mengikuti aliran sungai ke hilir. Disana ia bertemu dengan orang yang sedang memancing. Dia bertanya sambil menangis, oooo, Tuan yang sedang memancing adakah tuan melihat bajuku  hanyut? "Baju kadudui bermanik-manik".

Orang itu menjawab, " Jika aku mendapat ikan, aku mau memberikan-Nya kepada mu. "Sungguh aneh orang yang memancing, lain ditanya, lain pula jawaban-Nya".
Lalu pergilah Puti Lumo meninggalkan orang itu, terus mengikuti aliran sungai. Tidak lama ia berjalan, bertemu pula dengan orang yang sedang menangguk, Lalu ia bertanya pula pada orang itu".ooo, Tuan yang sedang menangguk, adakah tuan melihat bajuku hanyut? Baju kadudui bermanik-maknik, baju terbang naik kelangit. " 
"Jika aku mendapatkan ikan akan ku berikan padamu. "
"Sungguh aneh orang menangguk, lain yang ditanya lain pula jawaban-Nya".

Puti Lumo melanjutkan perjalanan-Nya, sambil berjalan ia terus menangis. Akhir-Nya dia bertemu dengan seseorang yang sedang bersampan, lalu ia bertanya, apakah Tuan bertemu dengan bajuku yang hanyut? Baju kadudui bermanik-manik. Baju terbang naik kelangit! "

Lalu tukang sampan itu bertanya kepada-Nya, Mariah kuantarkan engkau ke rumah orang yang ada dipinggir sungai sebelah sana. Karena rumah-Nya dipinggir sungai mungkin dia mendapatkan bajumu yang hanyut. "
Masuklah ia kesampan itu, dan pergi menyebrangi sungai. Setelah sampai dekat rumah berkatalah dia, oooo, orang dirumah, adakah melihat bajuku hanyut? "Baju kadudui bermanik-manik, baju terbang naik kelangit."
Menjawablah orang rumah itu, "Naiklah ke rumah!  Walau ada atau tidak, naiklah dulu, karena dia amat kasihat melihat Puti Lumo yang kedinginan diluar." Orang rumah itu berkata kasihan engkau, menempuh sungai seperti ini, kata orang itu. Maka ia memberikan pakaian dan makanan pada Puti Lumo
"Orang rumah itu bertanya mengapa bajumu bisa hanyut? Puti Lumo menjawab, saya mandi dengan Puti Cikettung, tahu-tahu nya bajuku hilang setelah selesai aku mandi. Sedangkan aku hanya memiliki  baju sehelai saja, " Kata-Nya, "Ibuku mengatakan, sebelum aku menemukan baju itu aku belum boleh pulang."
"Kalau begitu kata Ibu tersebut, tinggallah kau disini selama tiga malam. " Maka tinggallah Puti Lumo selama tiga malam disana".
Ibu tempat ia tinggal mempunyai anak yang masih bayi. Bayi itu terkena penyakit kulit yang parah. Pagi-pagi dimasukkan anak-Nya ke dalam buaian dan berkata kepada 

Puti Lumo tolong jaga anak kami ini! Kami akan pergi mencari kayu. "

"Baiklah Bu, " Jawabannya."
Setelah Ibu itu pergi, ia bersenandung menidurkan bayi itu. 
"Tidurlah, tidurlah anak nenek

Engkau harum bau bunga burung

" Tidurlah anak nenek, 

"Engkau harum bau bunga  bau burung."

Itulah yang dilagukan-Nya dengan terus menerus sehingga bayi itu tertidur dengan nyeyak. 
Setelah Ibunya pulang didapati-Nya bayi itu tertidur dengan nyeyak seraya berkata, "Tidak menangiskah dia".? 
" Tidak jawab-Nya."
"Biasanya dia menangis terus-menerus. Lihat kulit-Nya penuh oleh kudis. Besok aku masih minta tolong ya.? 
" Boleh, jawab Puti Lumo. "
Keesokan harinya Ibu pergi lagi, tinggallah dia mengasuh bayi-Nya. Seperti kemaren Puti Lumo melagu dan menina bobokkan bayi itu. Rupanya Ibu tadih tidak pergi mencari kayu, melainkan mengintip apa yang dilakukan Puti Lumo terhadap anak-Nya. Memang bagus syair-syair yang dilagukan-Nya sehingga bayi itu tertidur dengan nyeyak. 
Setelah itu Ibu itu masuk ke rumah dengan pura-pura pulang mencari kayu, kemudian pulanglah engkau besok! "
Ditukar-Nya pakaian Puti Lumo dengan pakaian yang sangat bagus. Diberikan-Nya sebuah tas dan pisau.
"Kata-Nya"pergilah engkau pulang! Jika dijalan nanti bertemu dengan batang paur yang lurus batang-Nya, ambil jadikanlah tongkat! Kemudian kalau kamu bertemu sungai dan akan buang air kecil, letakkan tongkat diatas tas ini."!! 
Maka  berangkatlah Puti Lumo 
dengan mengikuti petunjuk tadi. Di jalan ketika bertemu dengan batang paur, diambilnya dijadikan tongkat. Kemudian berjalan lagi dan bertemulah dia dengan anak sungai, timbul keinginan-Nya untuk buang air kecil. Lalu diletakkan nya  tongkat tadi diatas tas-Nya dan pergilah dia buang air kecil. 
Seketika dia melihat seorang pria berada di dekat tas-Nya Puti Lumo kaget terheran-heran lalu ia berkata, " Hai mengapa engkau disini? 
Jawab laki-laki itu, "Aku memang disini"
"Tongkat ku dimana? 
" Entahlah aku tidak tahu. "
Rupa-Nya tanpa sepengetahuan Puti Lumo, tongkat yang dari batang paur yang diambilnya berubah wujud menjadi  manusia. Lalu dia pergi meneruskan perjalanan pulang, Pemuda tadi terus mengikuti-Nya. 

Puti Lumo berkata mengapa engkau mengikuti aku? Kata-Nya. 

Jawab Pemuda itu"Bukankah engkau yang membawa aku? Tentu saja sekarang aku terus mengikuti mu. 

Puti Lumo terpaksa mengalah dan membiarkan laki-laki itu terus mengikuti-Nya hingga sampai kerumah-Nya. 

Ketika sampai di pintu gerbang kampung, berkoteklah ayam sebanyak tiga kali, Puti Lumo pulang membawa suami-Nya."
Orang kampung heran dan tercengang-cengang Puti Lumo dengan pakaian yang sangat bagus berjalan bersama pria tampan. Sesampai dirumah-Nya, Orang kampung bertanya sudah berapa lama kalian menikah? 
"Puti Lumo menjawab, Kami belum menikah, lalu kenapa kalian seperti ini? 
Jawab Pemuda itu, tidak apa-apa aku mengikuti-Nya dan dia membawa aku.
Oooo, kalau begitu kalian harus menikah
Jawab Pemuda itu, kalau aku setuju saja, lalu bagaimana dengan Puti Lumo

Puti Lumo tertunduk malu-malu. 

Maka menikahlah Puti Lumo dengan laki-laki yang dibawa-Nya itu. Setelah menikah mereka hidup dengan kemewahan dengan rumah yang besar dan perabotan rumah yang serba lengkap. Mertua tidak di izinkan lagi bekerja seperti biasa. Rupanya suami-Nya keturunan orang yang kaya-raya dan memiliki kedermawanan tidak seperti orang yang kaya kebanyakan(pelit dan demit)yang hanya 
mengumbarkan kekayaan-Nya dimuka khalayak ramai. 
maka semenjak saat itu Puti Lumo dan Depati Paur  suami-Nya, hidup rukun bahagia dan mereka selalu membagi-bagikan harta mereka kepada orang yang membutuhkan uluran tangan untuk menerima bantuan. 

PUTI CEKETTUNG IRI TERHADAP PUTI LUMO

Lain dengan Puti Cekettung, dia merasa iri melihat nasib Puti Lumo dan Puti  Cekettung pura-pura menghanyutkan baju-Nya. 
Lalu pergilah Puti Cekettung mencari baju-Nya yang sengaja dihanyutkan seperti yang pernah dialami Puti Lumo sebelum nya. 
Setelah sampai dirumah yang dipinggir sungai, penghuni rumah itu juga berlaku baik dan memperlakukan Puti Cekettung seperti Puti Lumo. Hanya ketika Puti Cekettung disuruh mengasuh bayi oleh ibu tadi, Puti   Cekettung memaki-maki dan mengerutuk dan dia membawakan syair-syair yang buruk sehingga membuat anak ibu itu menangis tak henti-henti-Nya dan bayi ibu tersebut tak mau tidur. 
Keesokan hari-Nya Ibu itu pergi lagi mencari kayu dan meninggalkan bayi itu pada Puti Cekettung. Ibu itu hanya pura-pura pergi dan mengintip perlakuan Puti Cekettung terhadap anak-Nya. 
Setelah mengetahui perlakuan Puti Cekettung maka disuruh-Nya Puti Cekettung pulang diberikan-Nya baju yang amat buruk dan tas  buruk pada Puti  Cekettung dan juga sebilah pisau didalam-Nya. 
Kata-Nya jika kamu menemukan batang paur yang bengkok ambillah dan jadikanlah tongkat. 
Pergilah dia pulang dia melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Puti Lumo dalam perjalanan-nya pulang.  Beda-Nya tongkat Puti Cekettung menjelama menjadi orang tua yang bungkuk. Puti   Cekettung heran dan kesal, maka ia berkata. 
Mengapa orang tua ini   berada disini? 
Jawab orang tua itu, memang disini temp ku, 

Puti Cekettung marah terhadap orang tua itu. 

Jika engkau pulang aku akan mengikutimu, kata orang tua itu   berjalan. Sampai di pintu gerbang kampung Puti Cekettung menolak untuk menikah dengan orang tua itu. 
Dan Itu lah maka-Nya kita tidak bisa meniru rezeki orang lain, sebab rezeki manusia berbeda-beda, ada yang kaya, sederhana, dan adapula yang miskin, jalanilah kehidupan dengan jalan menggais rezeki masing-masing dan jangan membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain-Nya.(Ad) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...