Kamis, 22 Agustus 2019

Jamuan dan minta izin pulang perkawinan adat Kerinci|Kerinci TV

PARNO JAMUAN DAN MINTA IZIN PULANG PADA PERKAWINAN ADAT KERINCI
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta gencar-Nya arus budaya asing yang masuk ke indonesia teresebar luas pada tiap-tiap daerah termasuk Kerinci,membuat kita kuatir akan nasib budaya asli yang kita miliki. 


Keragaman dan kekhasan kebudayaan yang menarik perhatian lain yang dipunyai daerah kita Kerinci  lambat laun akan terpengaruh oleh budaya luar.

Untuk itu hendak-Nya kebudayaan asli ini selalu dipertahankan keberadaan-Nya sehingga sampai kapanpun ia akan tetap berdiri dalam wilayah daerah Kerinci. Usaha mempertahankan itu sebenar-Nya berada di pundak kita masyarakat.
Sebagai anggota masyarakat, kita bertanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan daerah, perlu penting dalam mendukung pengembangan kebudayaan nasional. Dengan berbagai ragam dialeg daerah, maka Kerinci pun mempunyai berbagai ragam bentuk kebudayaan yang tetap hidup ditengah-tengah masyarakat Kerinci.Sebagaimana pepatah masyarakat Kerinci"Buleik ayea di pambulauh, buliek kato dimufakaik"(Bulat air di pembuluh, bulat kata dimufaakat)."

Berdasarkan klasifikasi tersebut  maka sastra lisan parno helat perkawinan kedalam masyarakat Kerinci berbentuk prosa liris. Dari beberapa kemungkinan masalah yang timbul pada sastra lisan helat perkawinan ini, maka penulis membatasi beberapa permasalahan saja. Perkawinan bagi masyarakat Kerinci, serta sumbangan parno helat perkawinan terhadap budaya nasional.

Berdasarkan pembatasan diatas maka penulis mengulas bagaimana nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam parno helat perkawinan  di Kerinci. Parno helat ini mempunyai struktur tersendiri, karena disamping sebagai suatu tradisi masyarakat yang mengandung makna-makna tertentu juga di sampaikan oleh"ninik mamak"atau orang yang dipercaya dalam menyampaikan sehingga penikmat atau pendengar dapat menikmati-Nya dengan baik pula.

Dengan muncul-Nya parno helat perkawinan ke tengah-tengah masyarakat Kerinci dalam acara perkawinan akan memberikan kenikmatan dan manfaat tersendiri bagi masyarakat. Parno helat  perkawinan lebih di tekankan pada faktor sosial budaya, karena penulis  melihat bagaimana parno helat perkawinan ini berhubungan dengan masyarakat dan kebudayaan yang dimiliki masyarakat setempat dan nilai-nilai sosial budaya yang bagaimana dimiliki oleh parno helat
perkawinan masyarakat Kerinci?


Lisan parno perkawinan memiliki nilai-nilai yang dapat dikembangkan bagi pembinaan kebudayaan  daerah dan kebudayaan nasional yang penulis perkenalkan  pada mata Internasional melalui penulisan ilmiah,asumsi ini didasarkan pada fungsi pengungkapan tata nilai kehidupan daerah serta menunjukkan identitas masyarakat daerah yang bersangkutan.

Tujuan penulis tentang karya ilmiah ini adalah mengetahui nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam parno helat perkawinan di Kerinci. Fungsi parno itu sendiri memiliki nilai sumbangsih yang besar terhadap kebudayaan nasional.


PARNO JAMUAN ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT KERINCI

Parno jamuan dilangsungkan pada saat peresmian perkawinan setelah akad nikah selesasi. Kalau makanan telah terhidang maka untuk mempersilahkan tamu makan didahului dengan parno sebagai berikut :

TR : "Manolah adeak kito tumboeh sarupo ineih, blayea nuju pulau, bajalan nuju bateh, ngimbeh nujoe tangkei, manukak basingkalan, bakato batumbutan, nan kinai, pado sapo kamai numboek kato. 

NR  : " Yo, Kamai".

TR  : "Baginai kayo ninik mamak"

NM : "Yo".

TR : " Kalou ndak bajaleang jaouh kakailah break digantun tulang, kalaou ndoe prageo panja, katiko suntoueklah pulo, apokah kinai".

Badebeouh tabeuh kiyai hang tujoeuh
Mentai sapulo mangkau badge
Karnolah sampei jeneang malebeuh
Mintoe  tarimo rseki ngan adea".

"Kulu wasyaburizkillah"(Makanlah reski ngan dateang dari pado Allah..).

Terjemahan dialeg Kerinci diatas :

TR : Manalah adat kita tumbuh seperti ini, berlayar menuju pulau, berjalan menuju batas, melempar menuju tangkai, mencencang berlandasan, berkata berkumputan, yang kini pada siapa kami menumbuk kata".

NM : " Yo Kamai".

TR  : "Begini bapak ninik mamak"

NM : "Ya"

TR   : "Kalau hendak berjalan jauh kaki sudah berat digantung tulang, kalau hendak berbicara panjang, waktu tidak mengizinkan lagi hari telah suntuk pula),apakah sekarang. 

Berdebuh tabuh kiyai orang tumbuh
Menteri sepuluh pemangku berdua
Karena telah sampai jenang melabuh
Minta terima rezeki yang ada. 
Makanlah rezeki yang datang dari Allah...


PARNO MINTA IZIN PULANG PERKAWINAN ADAT  MASYARAKAT KERINCI
Setiap acara helat perkawinan selalu di akhiri makan bersama dan ditutup dengan do'a. Setelah itu tentu para tamu ingin meninggalkan tempat tersebut. Untuk mohon diri pada sipengkalan maka disampaikan lewat parno yaitu sebagai berikut :

NM : "Mano Kayo tengganai".

TR   : " Yo".

NM  : "Kok ahi iyolah  jeauh maka, budaek kecik batangaih sayauk, punton ukok batimboun guneug, spoeh siheih batindeih datea, ndok ngicek pado kayo tengganai umoeh ineih ;


Sebeak apo impo mimpoe
Iyolah sebeak gajeah kalau
Iyolah sebeak kayo manyerau
Terjemahan dialeg Kerinci diatas ;

NM  : "Manolah bapak tengganai".

TR    : " Ya".

NM   : "Kalau hari telah jauh malam, anak kecil menangis sayup, puntung rokok bertimbun tulang, sampah sirih bertindih datar, hendak berbicara juga pada bapak tengganai rumah ini".

Sebab apa timpa-menimpa
Salah sebab gajah lalu
Sebab apa kami berkumpul 
Ialah sebab Bapak menyeru.

" Inai niang jaleang manitai

Dari sawoah lalau ka pelak

Tibo dipelak bentai pulo

Inai nian kendok atai

Kicek sampei pragoe tamak

Minaung kawo talatak pulo

Samo kito baceo "Bismillahhirrahmanirrahim".


Didalam kutipan diatas dapat dilihat betapa indah-Nya bahasa helat perkawinan, keindahan bahasa ini akan terasa bila dibaca dengan irama yang sesuai dengan tujuan dan maksud-Nya. Dan keindahan ini menjadi keharusan bahasa berirama sebab dalam curahan parno lebih banyak menyampaikan curahan dalam bentuk permohonan atau permintaan.

Nilai moral dan agama, nilai yang ada kaitan-Nya dengan nilai kemanusiaan berarti sudah mengandung nilai moral. Dalam parno helat perkawinan terjadi musyawarah untuk memecahkan masalah dan menemukan titik kesepakatan bersama. Satu sama lain menghargai dan saling memupuk rasa persatuan sesuai dengan pepatah masyarakat Kerinci. 

" Kailei sarangkoeh dayeung, kamudeik sarantoak satang. ".
Maksud dari pribahasa ini adalah seia sekata dalam memutuskan masalah.


Didalam parno helat perkawinan pada tahap acara jamuan terlihat basa-basi antara tuan rumah dan para tamu. Hal ini adalah pencerminan dari perasaan masyarakat dalam berhubungan sesamanya adalah dengan cara baik dan bermoral. Jadi dalam bahasa di dalam parno helat perkawinan dapat mengambarkan nilai moral dari masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.(Ad) 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Social and cultural geographic background of socially

SOCIAL AND CULTURAL GEOGRAPHIC BACKGROUND OF SOCIALLY    Kerinci Regency which is also called Sakti Alam Kerinci is a plateau ...