Jumat, 09 Agustus 2019

Membersihkan debu yang terpercik pada kaca hati|Agusdiar TV

MEMBERSIHKAN 
DEBU YANG TERPERCIK PADA KACA HATI DENGAN TOBAT

  Sadar atau tidak, bahwa manusia tidak dapat menghindarkan diri-Nya dari dosa. Utamanya kepada Allah Azza Wa Jalla, manusia sering tidak menunjukkan ketaatan kepada-Nya. Ketidak taatan inilah yang menjadi pangkal dosa. Jangan beranggapan bahwa saat kita melaksanakan shalat lima waktu, puasa bulan ramadhan, mengeluarkan sebagian harta sebagai zakat, bahkan telah melaksanakan Ibadah haji,semua itu sudah menunjukkan kepatuhan kepada Allah. Ingat bahwa perintah Allah itu masih banyak. Selain kewajiban ada perintah lain yang diserukan Allah agar manusia melaksanakan-Nya, meski seruan itu bersifat himbauan. Manusia yang taat adalah mereka yang bukan saja memperhatikan perintah - perintah Allah yang wajib, namun juga sunnah. Kalau mau jujur, seberapa patuh kita melaksanakan perintah sunnah yang diserukan Allah? 

Lagi-lagi kita mau jujur, seberapa serius kita dalam menjalankan perintah wajib yang diserukan Allah. Memang kita sudah melaksanakan perintah shalat, zakat, puasa maupun haji. Namun apakah semua itu kita lakukan dengan perasaan ikhlas hanya kepada-Nya. Tentu jika semua itu kita laksanakan dengan riya' atau terpaksa maka semua-Nya bukan merupakan tanda kepatuhan. Maka, melaksanakan shalat bukan berarti kita telah patuh dan taat kepada-Nya. Masih banyak hal yang seharusnya kita buat ukuran dalam kepatuhan tersebut. 

Adalah manusia yang diciptakan oleh Allah dengan tujuan agar beribadah kepada-Nya. Itu artinya Allah tidak mempunyai maksud apa-apa ketika menciptakan manusia selain diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya. Dengan demikian jika manusia selain diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya itu berarti manusia telah melanggar kodrat penciptaan-Nya sekaligus menyakiti hati Dzat yang telah menciptakan-Nya. 

Dari perspektif ini maka sesungguhnya tak layak bagi manusia melakukan maksiat kepada-Nya. Dari sudut pandang manapun manusia tak pantas melakukan pengingkaran terhadap-Nya. Jika manusia benar-benar punya malu, semestinya mereka tak akan berani melakukan maksiat kepada Allah yang memberi kesempatan hidup bagi kita? 

Suatu saat ada seorang lelaki menemui Ibrahim bin Adam, seorang sufi terkemuka. Lelaki itu bertanya, "Wahai Abu Ishaq selama ini aku masih gemar bermaksiat. Tolong beri AKU nasehat."

Ibrahim bin Adam pun menjawab, "Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakan-Nya maka kamu boleh melakukan maksiat kepada Allah. "

"Apa saja syarat itu, wahai Abu Ishaq! " Tanya lelaki itu penasaran. Ibrahim bin Adam kemudian menjelaskan."

Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, maka sekali-kali jangan kamu memakan rezki-Nya. 

Mendengar syarat pertama lelaki tersebut langsung mengernyitkan dahi dan berada, "Lalu dari mana aku maka;Bukankah semua rezki dari bumi adalah dari-Nya? 

Ya, maka masih pantaskah kamu memakan rizki sementara kamu selalu melanggar-Nya.? "

Ibrahim melanjutkan, "Syarat kedua, kalau kamu masih bermaksiat kepada Allah, maka jangan sekali-kali kamu tinggal di bumi-Nya".

Syarat kedua membuat sang lelaki kaget setengah mati. Dan kembali Ibrahim bin Adam berkata kepada-Nya." Wahai hamba Allah, pikirkanlah, apakah kamu masih layak memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya sementara kamu masih sering melanggar larangan-Nya.??"

Lelaki itu kembali mengernyitkan dahi dan berkata"Wahai Abu Ishaq, mana mungkin aku menemukan tempat persembunyian yang dapat menyembunyikan aku dari pantauan Allah?".

Itulah, kalau kamu punya kesadaran seperti itu, maka apakah masih pantas kamu melakukan maksiat kepada-Nya. 

Selanjut-Nya lelaki itu minta ditunjukkan syarat keempat, Kata Ibrahim bin Adam, "Syarat yang ke empat adalah kalau Malaikat Maut dating hendak mencabut Nyawa-Mu, katakan padanya, tolong tunda kematianku, karena aku ingin bertobat dulu."

Kembali lelaki itu menggelengkan Kepala, "Wahai Ibrahim, mana mungkin Malaikat Maut akan memenuhi permohonanku?".

" Wahai hamba Allah, kalau kamu meyakini bahwa kamu tidak dapat menunda datang-Nya kematian, mana mungkin kamu dapat lari dari murka Allah? ".

Sekarang apa syarat yang kelima?" Tanya lelaki itu lagi. 

"Syarat yang kelima adalah kalau kelak di akhirat Malaikat Zabaniyah menyeretmu ke berada, jangan mau ikut dengan-Nya."

Perkataan Ibrahim bin Adam ternyata menyadarkan lelaki itu. Dia pun berkata, "Wahai Abu Ishaq, sudah pasti Malaikat itu tidak akan membiarkan aku lari dari-Nya. "

Setelah berkata demikian itu, ia tak tahan menahan deraian air mata. Lelaki itupun sadar. "Mulai saat ini aku akan benar-benar bertobat kepada Allah! " Kata-Nya lalu pamit pergi. 

Nah"netizen yang budiman, seperti itulah sikap yang dimiliki oleh manusia. Mereka punya kesadaran bahwa semua fasilitas hidup diduni ini adalah dari Allah. Bahkan hidup itu sendiri adalah karunia dari-Nya. Maka bagaimana mungkin manusia berani melanggar perintah-Nya dan tidal mentaati segala perintah-Nya? Sungguh, jika manusia punya kesadaran seperti itu, mereka tak akan berani dan akan malu sendiri jika melakukan pelanggaran. Dan tak hanya itu, mereka pun akan cepat-cepat melakukan pertobatan atas kelalaian selama ini mereka lakukan. 
(Ad).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maulid Nabi saw mengikuti akhlak Rasulallah Ustadz Roma Iswadi,MA

Kerinci ,Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw 1441H  yang bertempat di Surau Shilaturrahmi Pancuran Tiga Desa Tj. Mudik Ker...