Rabu, 21 Agustus 2019

Memulangkan Penganten dan Menerima Penganten menurut parno helat Adat Kerinci|Agusdiar TV

MEMULANGKAN PENGANTIN DAN MENERIMA PENGANTEN PADA MASYARAKAT KERINCI MENURUT PARNO HELAT ADAT

Dengan berbagai ragam dan budaya di berbagai daerah maka daerah Kerinci pun mempunyai berbagai budaya diantara-Nya tentang parno yang sampai sekarang masih tetap hidup di tengah masyarakat Kerinci, meskipun kadar pelaksanaan-Nya sudah berkurang.

Parno berasal dari kata pragoe, yang didalam bahasa Indonesia disebut peraga,Maksud-Nya memperagakan atau menyampaikan kata-kata adat antara satu pihak dengan pihak lain-Nya. Materi dan isi dari pembicaraan itu disebut Pno atau parno, jadi  kata-kata adat itu disebut pno adeak, arti-Nya Parno adat.

Parno ini sejak dahulu sampai sekarang merupakan suatu tradisi lisan yang tidak pernah ditinggalkan masyarakat Kerinci dalam melaksanakan acara-acara adat, bahkan parno merupakan hal yang di nanti-nantikan oleh masyarakat dalam suatu helat perkawinan, kenduri pusaka, bertegak penghulu, dan acara lain yang melibatkan depati ninik mamak. 

Tanpa adanya acara jamuan atau helat, maka acara yang dilangsungkan itu dirasakan belum lengkap.
Akibat perkembangan zaman, maka parno ini berubah menjadi dua bentuk, yakni bentuk dahulu dan bentuk sekarang. Dikatakan parno dahulu karena parno yang disampaikan sangat panjang dan waktu penyampaian-Nya pun cukup lama, dikatakan parno bentuk sekarang karena sudah ada yang dirubah dari bentuk yang asli, dari segi kata-kata yang dipakai dan waktu penyampaian-Nya lebih singkat. Perbedaan ini terjadi sejak tahun 80-an.

Parno disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut dan bersifat anonim, itulah parno menjadi suatu  hal yang sangat berarti bagi rakyat Kerinci.

PARNO MEMULANGKAN PENGANTEN PADA ADAT KERINCI
Penganten di Kerinci disebut Muntein.Memulangkan penganten menjadi mulang muntein.Upacara ini dilaksanakan pada malam setelah akad nikah. Penganten laki-laki diantar kerumah penganten perempuan oleh pihak-Nya. Semua barang-barang milik penganten laki-laki diangkut ke rumah istrinya pada malam itu. Setelah sampai ditempat barulah dilakukan parno memulangkan penganten. Arti-Nya, keluarga laki-laki menyerahkan salah seorang anggota keluarga kepada pihak keluarga perempuan, Parno yang disampaikan adalah :

TL : "Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh".
Hadirin : "Waalaikumsalam
Warahmatullahi Wabarakatuh. "
TL : Sarapeklah kito ngan dudeuk, di palapoeuh lantei, disungkoek atak dilingkun dindeian. Kadateh disungkoek buboun, kabawoeh belleh sendai, keciek idak disebut namo, gedang ideak di panggei gela. Maoeh kamai lebih duloe, adeak pulau batingkak naeik, ninggakan ruweh dengan buku, adeak manusio bapingkak tuhaun, ninggokan adaek dengan pusako, manolah adaek kito itouh, iolah adaek basandi syara', syara' basandi kitabullah. Adaek lazim syara' ngan kawi, bujenjang naik butakah tuhaun, wareih bajuweak kalifak bajunjou.

Patah tumboeh ila bagantoi, adaek lamo pusako usang. Kuak syara' dengan dalil, kuak adeak dengan sluko adaek ngato :
Manolah adaek kito sarupo ineih, iolah manukak basingkalan, bakato batumbutan, blayea nuju tangke, nan kinai mano kamai tmpek numbouk kato".
TP : "Yo, kamai".
TL : "Baginai kayo tangganai"
TP : "Yo... dan seterus-Nya sampai selesai.
Terjemahan dialeg Kerinci diatas :
TL : Serapatlah kita yang duduk diatas lantai, disungkup atap dilingkup dinding, keatas disunggup bubung, kebawah beralas sendi. Kecil tidak disebut nama, besar tidak disebut gelar. Maaf kami lebih dahulu. Adat pulai bertingkat naik, meninggalkan ruas dalam buku, Adat manusia bertingkat turun, meninggalkan adat dengan pusaka.

Manalah adat kita itu,ialah adat bersendi syara', syara' bersendi kitabullah, adat lazim syara' ngan kawi, berjenjang naik bertangga turun, waris berjawab khalifah berjunjung, patah tumbuh hilang berganti, adat lama pusaka usang. Kuat syara' dengan dalil, kuat adat dengan pepatah, adat mengatakan :
Manalah adat kita tumbuh serupa ini, ialah mencencang berlandasan, berkata bertumbukan, berlayar  menuju pulau, melempar menuju tangkai. Yang sekarang dimana kami menumbuk kata. "

TP :" Ya kami. "
TL  : "Begini bapak tengganai".
TP : " Ya... dan seterus-Nya sampai selesai.
PARNO MENERIMA PANGANTEN PADA ADAT KERINCI
Parno menerima penganten dilaksanakan setelah tangganai pihak laki-laki menyampaikan parno adat memulangkan penganten. Parno ini disampaikan oleh pihak tangganai perempuan sebagai tanda diterima-Nya rombongan anggota keluarga di rumah mereka. Maka berlangsunglah Parno sebagai jawaban dari parno memulangkan penganten.

TP : "Lah sampe itou kayo tangganai".
TL : " Lah! "
TP : " Iyo itoueh niang adeak kito, adeak plai bapingkak naeik, ninggakan rueah dengan bukau, adeak manusio bapingkak tuhaun, ninggakan adeak dengan pusako. Manolah adeak gayoung iolah basambauk adeak kato iolah bujawek. Dateh kato ngan bennea, wajib bennea kato di juweak. Kalau ideak kantai juweak, nampak niang kantai itooeh uha gedeang, beapun dijuweak, nampak pulo kito duo babaleh kato. Ideak di juweak ideak pulo dapeak kantai suhang tindeih, spanjang tek bilang kayo tangganai itoeuh.

Kok ileai lah tamuaro, lah basuo umbak debeu-badebeu, pasie sibea-manyibea. Kok udiek lah tau siamang  barayaun kakai, kadateh lah barambun janteang, kabawah lah bariseik buleang...dan seterus-Nya sampai selesai.
Terjemahan :
TP : "Sudah sampai itu bapak tengganai".
TL : " Sudah".
TP : "Memang benar itu adat kita, adat pulai bertingkat naik, meninggalkan ruas dengan buku, adat manusia bertingkat turun, meninggalkan adat dengan pusaka, Manalah adat kita tumbuh seperti ini, adat gayung ialah bersambut, adat kata ialah berjawab.

Diatas kata yang benar, wajib betul kata dijawab, diatas kata salah jawab wajib tidak benar kita jawab, Kalau tidak saya jawab, tampak betul saya ini orang besar, biarpun berjawab nampak pula kita berdua berbalas kata. Tidak dijawab tidak pula saya seorang yang bertindak, sepanjang pokok pembicaraan tengganai itu,kalau hilir telah kemuara, telah bertembu ombak debur-debur, pasir  sibak-menyimak.

Kalau mudik sudah berhulu, telah bertemu titik air gantung, tempat siamang berayun kaki. Keatas telah berembun jantan, kebawah telah berisik bulan.

Dipertemuan berikut-Nya InsyaAllah kita juga  akan mengulas tuntas struktur jamuan, dan izin pulang dalam parno helat adat perkawinan yang  ada di Kerinci,provinsi Jambi. (Ad)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...