Sabtu, 24 Agustus 2019

Nilai luhur adat Masyarakat Kerinci menurut Helat Perkawinan|Kerinci TV

NILAI LUHUR YANG TERKANDUNG DI DALAM PARNO HELAT PERKAWINAN ADAT KERINCI


Parno Helat perkawinan adalah suatu bentuk sastra lisan Kerinci yang bersumber dari kenyataan-kenyataan yang hidup di masyarakat dan mengungkapkan masalah manusia dan kemanusian serta makna hidup dan kehidupan. 
Sebagai eksperesi kebudayaan suatu masyarakat, parno helat perkawinan mengandung nilai-nilai yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Nilai-nilai tersebut adalah :

Nilai estetika atau keindahan
Nilai estetika atau keindahan adalah nilai yang harus ada dalam kesenian.Bahasa yang indah di samping isi yang baik merupakan syarat mutlak bagi seni sastra.Parno helat perkawinan sebagai hasil sastra yang tergolong kedalam bentuk prosa liris sudah jelas mengutamakan keindahan.Setiap kata, setiap bunyi merupakan pilihan kata,pilihan bunyi dan perbandingan serta pemakaian pantun-pantun adat yang menimbulkan keindahan, tangkaian kata yang diselipi oleh pepatah-petitih akan menambah semarak-Nya bahasa parno seperti kutipan parno jamuan berikut ini :

"Badebeuh tabeuh kiyai hang tujoeuh

Mentai sapuloeh mangkau baduea

Karnolah sampei janeang maleboueh

Minta trimo reski ngan adea".

Pantun diatas diungkapkan oleh tengganai rumah untuk mempersilahkan tamu-Nya menikmati hidangan yang telah terhidang. Kemudian dilanjutkan lagi oleh pihak tamu dengan pantun di bawah ini. 

" Inai niang jaleang manitai

Dari sawoeh lalau ka pelak 

Tibo di pelak bantai pulo

Inai niang kendok atai

Kicek sampei parago tampak

Minaung kawo teletak pulo

Samo-samo kito bacoe Bismillah".

Didalam kutipan diatas dapat dilihat betapa indah-Nya bahasa parno helat perkawinan. Keindahan bahasa ini sesuai dengan tujuan dan maksud-Nya. Dan keindahan ini menjadi keharusan bahasa ber-irama  sebab isi-Nya lebih mendekati isi puisi, yang didalam parno lebih banyak menyampaikan curahan rasa dalam bentuk permohonan atau permintaan.

Nilai Moral dan Agama
Nilai moral dan Agama berkaitan erat dengan nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan. Setiap cipta sastra yang berjunjung perikemanusiaan berarti sudah mengandung nilai moral, dan setiap yang bermoral, sesuai dengan agama. Oleh sebab itu sebagai anggota masyarakat. Sikap tersebut terlihat dari sikap manusia itu sebagai anggota masyarakat. Sikap tersebut terlihat ketika sedang berlangberlangsung-Nya acara Parno.

Didalam Parno Helat Perkawinan terjadi musyawarah untuk memecahkan masalah dan menemukan titik kesepakatan secara bersama.Satu sama lain saling menghargai dan saling memupuk rasa persatuan sesuai dengan pepatah rakyat Kerinci. 

"Ka Ilei sarangkauh dayeaung, ka mudeik sarantoak satang".

Jadi dalam bahasa Parno Helat Perkawinan Kerinci, dapat menggambarkan nilai moral dari masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.


Nilai Tradisi

Nilai Tradisi Parno Helat Perkawinan sebagai hasil sastra lama Kerinci mengandung unsur ketradisionalan dari masyarakat Kerinci itu sendiri. Ketradisionalan yang terdapat dalam Parno Helat Perkawinan ini terlihat dari karakteristik  masyarakat yang suka mengungkapkan perasaan-Nya dengan mempergunakan perumpamaan-perumpamaan, kiasan, dan pribahasa. 
Masyarakat Kerinci mengumpamakan seorang pemuda dengan seekor burung balam jantan dan seorang gadis diumpamakan sebagai burung balam betina. Juga nilai tradisi terlihat dari pemakaian bahasa Kerinci, yang menjadi ciri kesusteraan Kerinci.


SUMBANGAN PARNO HELAT PERKAWINAN ADAT KERINCI TERHADAP BUDAYA NASIONAL

Sastra daerah atau juga sastra klasik adalah perbendaharaan pikiran dan cita-cita nenek moyang terdahulu. Parno helat perkawinan adalah warisan budaya tradisional nenek moyang kepada cucu-Nya, ia merupakan sastra daerah yang harus selalu mendukung dan memperkaya pembinaan dan pengembangan sastra nasional.

Untuk itu sumbangan parno helat perkawinan terhadap kebudayaan nasional, bidang budaya, bidang pendidikan dan bidang kesusteraan.

Bidang Sosial Budaya
Adalah suatu hakikat yang tidak dapat ditolak bahwa sastra adalah suatu fenomena sosial. Hal ini dapat dilihat pada bagaimana proses tercipta-Nya sebuah sastra, sesuatu yang berhubungan dengan sastra atau juga dapat terlihat pada hasil itu sendiri.

Bidang Pendidikan
Parno helat perkawinan adalah salah satu bentuk kesenian daerah Kerinci yang didalam-Nya mengandung unsur-unsur nasehat, dan memiliki nilai moral dan agama. Maka secara tidak langsung dengan menghayati parno helat perkawinan dapat menanamkan atau memberikan Pendidikan kepada generasi penerus-Nya tentang bagaimana hidup ditengah-tengah masyarakat.

Bidang Kesusteraan
Sebagai tradisi parno helat perkawinan merupakan salah satu bentuk folklor yang terdiri dari kata-kata pepatah, petitih, dan pantun adat yang berada secara lisan di tengah-tengah masyarakat. Kata-kata irama adat disampaikan dengan sajak dan irama dengan demikian parno helat dapat memperkaya dan mempersubur tumbuh-Nya kesusteraan nasional lewat kata-kata pepatah, petitih, dan pantun adat yang indah dan menarik dan dengan demikian dapat pula meningkatkan sastra di tengah-tengah masyarakat. 

Parno helat sebagai hasil sastra dan budaya erat sekali hubungan-Nya dengan masyarakat yang telah melahirkannya tempat dimana ia tumbuh dan berkembang dari segala sosial, parno helat perkawinan merupakan salah satu cara memperkuat persatuan dan kesatuan daerah dalam memupuk dan memperteguh persatuan dan kesatuan nasional. Dari seni dan  budaya, parno helat perkawinan ini turut memperkaya corak kesenian nasional dan menambah ragam koleksi kebudayaan nasional.
Sesuai dengan kesimpulan diatas maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut :


• Untuk memupuk dan memelihara kebudayaan daerah seperti parno helat perkawinan sebaik-Nya dilakukan pembinaan dan perkembangan oleh Pemerintah, agar keberadaan-Nya tetap bertahan untuk masa-masa yang akan datang. 


Agar sastra lisan parno helat perkawinan Kerinci ini, tetap memperkaya dan mempersubur tumbuh-Nya kesusteraan nasional.


• Harapan penulis semoga hasil dari buah karya ini,dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca serta dapat menempatkan-Nya dalam bidang Pendidikan,Kebudayaan dan  sastra lisan terutama adat pada masyarakat Kerinci. (Ad) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...