Jumat, 23 Agustus 2019

Parno Helat Perkawinan Adat Masyarakat Kerinci dahulu dan sekarang|Agusdiar TV

PERBEDAAN PARNO HELAT PERKAWINAN BENTUK DAHULU DENGAN PARNO HELAT PERKAWINAN BENTUK SEKARANG MENURUT
ADAT KERINCI

PARNO HELAT PERKAWINAN PADA MASYARAKAT KERINCI DAHULU
Parno helat perkawinan adalah suatu tradisi lisan yang lahir dari akar budaya masyarakat Kerinci, yang bersifat anonim dan tradisional. Berdasarkan latar belakang-Nya parno ini lahir dari kehalusan jiwa masyarakat yang pada masa dahulu-Nya lebih suka berbahasa kias dalam menyampaikan keinginan dan maksud hati-Nya. Juga parno disampaikan oleh pemuka masyarakat untuk pemberian atau pun teguran.

Untuk meminta pendapat atau persetujuan yang bersifat kekeluargaan atau memberi nasehat misal-Nya maka parno ini dihadirkan pada acara helat perkawinan yang dimulai dari acara pinang-meminang sampai pada acara izin pulang. Parno yang disampaikan menggunakan kata-kata adat, sesuai dengan asal-usul kata parno itu sendiri, yang pragoe yang arti dalam bahasa indonesia peraga, maksudnya menyampaikan kata-kata adat antara satu pihak dengan pihak lain. Materi pembicaraan itu disebut adat. Parno bentuk dahulu terdiri dari dua unsur yang penting, yakni kata-kata dan irama.

Kedua unsur ini memegang peranan yang sama-sama penting. Karena kedua unsur tersebut, maka parno helat perkawinan ini digolongkan kedalam prosa liris yang genre-Nya adalah nyanyian rakyat. Nyanyian rakyat yang berfungsi adalah nyanyian rakyat yang kata-kata dan lagu-Nya cocok dengan irama dan aktivitas dalam kehidupan manusia.
Dengan demikian lisan parno helat perkawinan dapat diklasifikasikan pada nyanyian rakyat yang berfungsi yaitu sebagai pemberi semangat, tempat pencurah perasaanperasaan dan pemberi nasehat. Sebagai bentuk lisan dari hasil budaya masyarakat, lisan parno helat perkawinan ini mempunyai fungsi dan peranan tersendiri bagi masyarakat Kerinci sendiri, seperti yang dikemukakan pada bagian yang terdahulu.


Lisan parno helat perkawinan dilakukan dalam acara pinang -meminang, pernikahan, memulangkan penganten, menerima penganten, , jamuan dan minta izin pulang. Parno helat perkawinan bentuk dahulu terdiri dari beberapa kali tanya jawab sehingga bisa menghabiskan waktu ber jam-jam.

PARNO HELAT PERKAWINAN KERINCI BENTUK SEKARANG
Lisan parno helat perkawinan bentuk sekarang adalah merupakan versi baru dari parno helat perkawinan  di Kerinci seiring dengan perkembangan masyarakat yang menuntut usaha sungguh-sungguh dalam memenuhi kebutuhan hidup. Masyarakat Kerinci setiap hari sibuk dengan aktivitas mereka sehingga pada malam hari-Nya membutuhkan waktu yang cukup untuk istrirahat.

Untuk menghadiri acara-acara adat sering tidak serius dan kadang-kadang sambil menahan kantuk. Oleh sebab itu para pemuka adat yang berumur 50 tahun, mencoba menciptakan parno versi baru yang lebih sigkat kata-kata-Nya dan waktu penyampain-Nya dibandingkan parno helat perkawinan bentuk dahulu.

Tetapi  walaupun demikian parno helat perkawinan bentuk dahulu adalah milik bersama masyarakat Kerinci bersifat anonim tradisional, maka parno helat perkawinan bentuk sekarang merupakan hasil kreasi pembawanya mempermainkan kata-kata. Unsur yang mendukung-Nya pun tidak lagi berupa dupa dan cerana, tetapi hanya sebuah mikrofon agar dapat didengar oleh seluruh undangan. Berikut contoh parno minang-meminang ;
TL  : "Pertamo-tamo kito mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuaso, kareno berkat rahmat dan hidayah-Nyo kito dapeak bakumpoe dumoh ineih. Selanjutnya kamai adu ngan ndok disampei kupado kayo umoeh ineih. Yaitoeu kalu dikeleh pisa satandok kulakang umoeh, apokah pisa ngan ndok tuo ineih lah pataik ditebei atau kah low. Apokah pisa kayo itoeh lah adu uhang lahan ngan nbong atau low. Kalu seandai-Nya pisa kayo itouh low adu uhang lahan tuan. Kamai ndouk maksud nebong-Nyo...

Terjemahan dialeg Kerinci diatas ;
TL : Pertama-tama kita mengucapkan puji syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kita dapat berkumpul di rumah ini. Selanjut-Nya ada yang ingin kami sampaikan kepada Bapak di rumah ini. Yaitu kalau dilihat pisang standan dibelakang rumah Bapak, apakah sudah pantas ditebang atau belum. Kalau seandai-Nya pisang Bapak itu belum menjadi milik orang lain, kami ada maksud untuk menebang-Nya...

Unsur suara masih tetap sebagai unsur utama dalam penyampaian, tetapi lirik dan lagu tidak terlalu diperhatikan, sebab parno helat perkawinan bentuk sekarang hanya berupa pidato biasa yang ditumbui dengan sedikit bahasa kiasan. Unsur lain yang mempengaruhi isi-Nya juga unsur perasaan, nasehat, semangat, tetapi merupakan hasil ciptaan seseorang yang sebelum-Nya dengan kata-kata itu belum dikenal di tengah-tengah masyarakat. Jadi jelaslah lirik itu merupakan milik pencipta-Nya. Temanya tergantung dari apa yang ingin disampaikan pembawa-Nya.

Kalau parno helat Perkawinan bentuk dahulu disampaikan oleh pihak tengganai perempuan dan pihak tengganai laki-laki, maka parno bentuk sekarang boleh disampaikan oleh pihak lain atau salah seorang undangan yang kebetulan pandai ber- parno dan bisa menciptakan kata-kata sebagai pidato pada saat itu juga.

Parno helat Perkawinan bentuk sekarang juga menggunakan bahasa daerah Kerinci sebagai medium pendukung-Nya. Lirik-lirik yang diciptakan kadang-kadang bervariasi antara satu tempat dengan pembawa parno disatu tempat dengan pembawa parno ditempat yang lain, tetapi harus tetap berbahasa Kerinci kepada masyarakat luar serta memperkuat rasa  persatuan dan kesatuan antara sesama anggota masyarakat.
" Apoe buloeh kayo bukatoe Katoe kayo didingie uha, apo buloeh kayo  tarimo...!!!
Tarimoe akau munantau kayo...
Akau bukato iyo"...
Sepakaek mufakak katoe kayo-kayo...
Katoe akau iyo...
Tarimoe"...


Terjemahan ke dialeg Kerinci ;
Apa boleh tuan  berkata, kata tuan didengar orang, apa boleh tuan terima...!!!
Terima saya sebagai menantu tuan...
Saya berkata  iya ...
Sepakat persetujuan tuan-tuan...
Saya berkata iya"...
Terima"...
(Ad)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...