Selasa, 20 Agustus 2019

Parno Helat Pinang Meminang dan Pernikahan Adat Kerinci|Agusdiar TV

PINANG MEMINANG DAN PERNIKAHAN MASAYARAKAT KERINCI


Hai.. Guys kali ini penulis mengulas tentang adat-istiadat Kerinci, dengan dialeg-Nya yang sangat unik yang ada cuma ada di daerah Kerinci, provinsi Jambi  lho...!!!


Yuk.. kita simak uraian penulis...

Beragam budaya dan adat-istiadat yang ada di Indonesia memiliki ketertarikan tersendiri pada tiap-tiap daerah yang ada di nusantara Indonesia,kali ini ketertarikan penulis dalam menggemas tentang"Parno Helat Pinang meminang dan Pernikahan masyarakat Kerinci".

Adat yang bersandi syara', syara' bersendi Kitabullah, dan dapat juga kita lihat aturan adat yang berjenjang naik bertangga turun, waris berjawab, khalifah berjunjung. Adat tetap hidup selama adat masyarakat pendukung-Nya,patah tumbuh hilang berganti, tetap adat tidak boleh hilang.

Berdasarkan parno helat pinang meminang dan pernikahan masyarakat  Kerinci, maka selanjut-Nya penulis  akan menguraikan tentang dua struktur pinang meminang dan pernikahan pada masyarakat Kerinci. 


Unsur adat istiadat meskipun secara keseluruhan parno helat perkawaninan merupakan kata-kata adat, tetapi ada bagian-bagian tertentu yang jelas melukiskan bagaimana posisi adat sebenar-Nya didalam masyarakat, seperti kutipan parno  memulangkan pengantin pada masyarakat Kerinci ;


"Manolah adeak kito itouh, iolah adat basandi syara', syara' bersendi kitabullah. Adeak lazim syara' ngan makai, bejenjang naik batakah tuhaun.Warieh bajuek kalifah banunjuon, Patoh tumboeh ila-Nyo bagantoe, adeak lamo pusako usang, kuak syara' dengan dalil, kuak adeak dengan sluko, adeak ngato :

" Buhauk lahai jalipung lahai

Buroe pua jalipung tumboeh

Patoeh tumboeh ila bagantoe

Pegang adat kukoh-kukoh".


PINANG MEMINANG ADAT KERINCI
Pihak tangganai laki-laki mendatangi rumah tangganai perempuan dengan membawa cerana yang berisi sikapur sirih. Sesampai-Nya disana mereka dipersilahkan duduk ditikar dan biasanya bertempat diruang tengah, posisi duduk saling berhadapan. Cerana diletakkan ditengah-tengah kedua belah pihak. Sebagai pembukaan acara peminangan itu tengganai perempuan menanyakan apa maksud kedatangan tamu-Nya, walaupun sebenar-Nya kunjungan itu sudah diketahui, namun pihak tangganai perempuan tetap bertanya. Malam itu dalam dialeg Kerinci disebut dengan"Ngapak Siheieh"(meletakkan sirih) maka berlangsunglah percekapan sebagai berikut :

"Assaalamu'alaikum warah Matullah".

"Waalikum Salam".

"Mano kayo tangganai".

" Yo".


"Manolah kayoe ngan dateang sado ineih, ngan gedang idak disebutkan gloa, kecik idak disebutkan namo, kamai sado uhang umoeh ineih, nyampe tarimo kaseih pado kayo sedo ineih, ngan dateang pado umoeh ineih, ndok manyampe pado kayo-kayo tangganai, ndoek melazimkan kato nyampai penoeh ku pada kayo-kayo, Bak kato kayo ugoe, kalau nyampei ndak taraso di lidieh, kalu nuhak ndak taraso ditangan, kalau baja nan nuju bateh, kalau blayea nan nuju pulau, kalu mukak basingkalan, kalu bakato nan tumboeh tantang, kinae padoe sapo kamai numboe kato. "

"Yo, Kamai! "


"Manolah kayo tangganai"



"Yo."



"Kalou ideak ado barado, ideak temple basarang rendoh, kalau ideak ado maksud di hatai umoeh ineih, kamai ndoek nuek pado kayo apo  maksud kayo sado ineih, datae  kumoeh kamai ineih. ("Menyampaikan maksud untuk meminang tengganai perempuan. ")

Terjemahan dialeg Kerinci diatas :

" Manalah Bapak Tengganai".

"Ya".

" Manalah bapak-bapak dan ibu-ibu serta saudara yang datang semua ini.Yang besar tidak disebutkan gelar yang kecil tidak disebutkan nama. Adapun kami semua yang ada di rumah ini, menyampaikan terima kasih pada anda semua, yang telah datang ke rumah ini. Selain dari itu, pada Bapak Tengganai rumah ini hendak berbicara pada tengganai,melazimkan kata menyampaikan ungkapan. Hendak membilang sepanjang adat, hendak bertanya kepada Bapak, seperti kata Bapak juga, kalau menyumpit hendaklah terasa dilidah kalau mendorong hendaklah terasa ditangan. Kalau berjalan menuju batas, kalau berlayar menuju pulau, kalau mencencang berlandasan kalau  berkata bertumpuk tantang, sekarang pada siapa kami menumpuk kata. 
"Ya Kami. "

"Manalah  Bapak tangganai".

" Ya. "

"Kalau tidak berada, tidak akan tempuh bersarang rendah. Kalau tidak ada maksud ke rumah ini. Kami hendak bertanya pada  Bapak, apa maksud anda semua ini datang kemari kerumah kami ini. "(Menyampaikan maksud-Nya hingga sampai terjadi acara menukar tanda jadi.



ADAT PERNIKAHAN KERINCI
Pada waktu akad nikah dilaksanakan yang biasan-Nya dilaksanakan malam hari, penganten laki-laki diantar oleh pihak-Nya  kerumah perempuan. Yang tak boleh ditinggal untuk mengantar adalah tangganai perempuan telah menanti pula tangganai-Nya serta famili-Nya.

Setelah persiapan selesai, qadhi dan wali hakim telah hadir,maka diambil-Nya dupa yang berasap cerana berisi sirih, dan dimulai lah acara akad nikah itu oleh tangganai perempuan dengan parno adat sebagai mana penulis lampirkan sebagai berikut :

" Asaamulaikum Warahmatulllahi wabara katuh"

"Walalaikum Salam Warah Matullahi wabara katuh"



"Sarepek-Nyo kito ngan ditanai lantai ngan disungkuk atak nan dikandon dindoen basuduk ampak. Adopun kamai ndoek melazimkan kato nyampei parno, membilang sepanjang adeak dan maksud si pangkalan padoe ineih, Kalou nyumpei ndaklah traso di lidoeh, kaloe nuhak ndaklah taraso di tanga. Kaloe bujaleang nuju bateh, kalou balaye bukato batumboek tantang, kinai ineih pado sapo kamai manumbok kato."

"Yo, Kamai".

" Baginai kayo tangganai. "


"Yo."


Adeak pulai bapingkak naik, ninggokan rueh dengan bukau, adeak manusio bapingkak tuhaun,ninggakan adeak dengan pusako. Adeak ateh tumboeuh, lambago ateh tuang, tumboeh-tumboeh,roman-roman, tumboeuh sinyoe mala inieh, kato saluko adeak ngato. "
  
  "Badeteak nemih pinan
  Anoeh udeang dalam  bidoe

Biea sagadoen lutak nahui kamayan
Kalau  ideak dipangga ideak-Nyo babau.


Terjemahan dialeg Kerinci diatas :

" Serapatlah kita diatas lantai yang disunggup atap, yang dilingkung dinding bersudut empat. Adapun kami hendak melazimkan kata, 

menyampaikan parno. Membilang sepanjang adat maksud sipengkalan pada malam ini.Kalau menyumpit hendaklah terasa lidah, kalau mendorong, hendaklah terasa ditangan. Kalau berjalan menuju batas, kalau berlayar menuju pulau, kalau mencancang berlandasan, kalau berkata bertumbuk tantang. Sekarang ini pada siapa kami menumbuk kata. "

"Begini Bapak tengganai".

" Ya".

"Adat pulai bertingkak naik, meninggalkan ruas dengan buku, adat manusia bertingkak turun, meninggalkan adat dengan pusaka. Adat tumbuh, lembaga

atas ruang, bertumbuh-tumbuh, roman-roman. Tumbuh seperti malam ini, kata pantun adat mengatakan ;



"Berdetak membelah pinang 

Anak udang dalam perahu
Biar sebesar lutut menyimpan kemenyan

Kalau dibakar tidak akan berbau."


Dan itulah dua struktur adat perkawinan di Kerinci,dipertemuan selanjut-Nya penulis InsyaAllah  semaksimal mungkin menulis  tentang  parno struktur perkawinan yang lain yang ada di daerah Kerinci dengan dialeg adat yang  sangat menarik. "(Ad)"








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...