Sabtu, 31 Agustus 2019

Perang Manjuto Kerinci 1903|Kerinci TV

SEJARAH PERANG  MANJUTO KERINCI

Belanda membuat suatu tipuan memanggil Depati Parbo dan kawang-kawannya untu berunding. Rupanya dalam perundingan itulah Belanda dapat menangkap dan menawan:

• Depati Parbo dari Lolo
. Depati Agung dari Lempur

• Depati Nali dari Lempur
Depati Muncak dari Lempur
Dan keempat-empat beliau tersebut ditangkap kemudian ditawan dan dibuang oleh Belanda ke Ternate. Dan Sutan Iskandar dibuang ke Jambi dan meninggal di Jambi. Dan setelah kejadian pada tahun 1903 Lempur mulai dijajah oleh Belanda.

Beberapa bulan kemudian, pada bulan Maret 1902, 500 orang pasukan Belanda di bawah Komandan Bolmar mendarat di Muaro Sakai. Belanda menyadari bahwa mereka tidak ingin mengabaikan kekuatan lawan yang berada di Alam Kerinci, dan mereka tidak ingin gagal seperi kegagalan pasukan mereka masuk ke Lempur melalui Sungai Ipuh dan ternyata mereka dapat dikalahkan oleh pasukan Depati Parbo yang hanya berjumlah dua belas orang. Oleh sebab itu mereka mempersiapkan pasukan yang lebih banyak dengan senjata lengkap, menyerang serentak melalui tiga jurusan, yaitu:

• Serangan melalui Renah Manjuto diberangkatkan melalui Sungai Ipuh
Serangan melalui Koto Limau Sering diberangkatkan melalui Inderapura

• Serangan melalui Temiai diberangkatkan melalui Bangko.
Serangan Serentak Belanda
Setelah kehancuran dan kegagalan serangan Belanda di Benteng Batu (Benteng Depati Parbo) yang terletak di posisi strategis, tepatnya di perbatasan antara wilayah Sungai Ipuh dan wilayah Lempur, yaitu jalan pelintasan utama dari Sungai Ipuh ke Lempur, menyebabkan pemerintahan Depati IV Alam Kerinci umumnya dan Lempur khususnya mempersiapkan diri kalau terjadi serangan mendadak oleh Belanda dari Muko-Muko melalui Sungai Ipuh.
Setelah bermufakat dengan Depati Agung, Depati Parbo memper¬siapkan hulubalang hulubalang yang gigih dan berani mati untuk menyongsong dan melakukan pertempuran hidup mati menghadapi pasukan Belanda yang bersenjata lengkap dan modern. 
Setelah berjalan melewati rimba belantara yang ganas, Depati Parbo dan para pejuang beristirahat sambil mempersiapkan makanan untuk makanan sore, sebagian dari pejuang ada yang tidur tiduran sambil melepas lelah, tanpa diduga tiba tiba pasukan Belanda mengepung dan telah berdiri dengan senjata lengkap dihadapan Depati parbo dan para pejuang, dengan kondisi yang belum siap. Pasukan Belanda melakukan penyerangan terhadap pejuang. dalam suasana tidak siap para pejuang dengan gagah berani menghadapi serangan musuh, puluhan korban berjatuhan dari kedua belah pihak, beberapa opsir dan serdadu belanda tewas bersimbah darah.
Perekrutan pasukan/pendekar dilakukan dengan cepat terutama pemuda-pemuda yang berasal dari Lempur, Lolo Kecil dan Lolo Gedang. Beberapa kegiatan persiapan yang dilakukan oleh para depati yang berada di Lempur dan Lolo antara lain:

√ Mencari dan mengajak tokoh masyarakat dan pemuda untuk ikut bergabung dalam pasukan yang dikomandokan oleh Depati Agung dan Depati Nali untuk wilayah Lempur, dan oleh Depati Parbo untuk wilayah Lolo.
Membekali pendekat-pendekar ilmu silat, hulubalang- hulubalang taktik berperang secara gerilya dan mengisi tubuh mereka dengan ilmu-ilmu kanuragan

√ Mempersiapkan senjata berupa kecepek, keris, golok, parang dan lain-lain termasuk cara membuat senjata dari bambu runcing.
Mempersiapkan logistik kebutuhan pendekar ketika terjadi peperangan di masing-masing dusun, penetapan jalur-jalur pengiriman logistik, dan penyiapan kaum wanita untuk menyiapkan makanan kebutuhan pasukan.

√  Melakukan konsolidasi persiapan perang dengan seluruh Depati IV Alam Kerinci.
Mempersiapkan orang-orang yang cekatan sebagai informan baik dari Lempur sendiri maupun dari saudara-saudara mereka yang ada di Sungai Ipuh dalam memantau pergerakan pasukan Belanda.
Serangan pertama terjadi pertemputan di Tanjung Batu antara pendekar-pendekar yang berasal dari Lempur dan Lolo. Pendekar-pendekar dari Lempur dan Lolo mundur dan bertahan kembali di benteng Lolo. Disini tejadi lagi pertempuran yang sengit antara pendekar-pendekar dari Lemur dan Lolo melawan Belanda. Kedua bela pihak mendapat korban yang seimbang dan Belanda mundur ke Sanggaran Agung, di tengah perjalanan Belanda membumi hanguskan dusun Lolo Keicil terlebih dahulu kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Sungai Penuh melalu Jujun dan Pulau Tengah.
Oleh karena pasukan Belanda terlampau besar jumlahnya, maka benteng Lempur dapat ditembusnya dan Belanda masuk ke Lempur menuju arah ke Sanggaran Agung dan ditengah jalan terus mendapat serangan dari pendekar-pendekar di sepanjang jalan dari Lolo Gedang dan juga dilog Lolo Kecil. 
Belanda setelah menembus semua perlawanan-perlawanan di Kerinci, lalu membuat Asrama di daerah Rawang.

Kira-kira enam bulan kemudan di waktu Kerinci sedang aman dalam penjajahan Belanda, Depati Parbo kembali mengomandokan dusun-dusun seperi Lemur, Lolo, Jujun dan Pulau Tengah untuk kembali melawan Belanda, dan di Pulau Tengah didirikan benteng yang kuat danjuga di Lolo Gedang dibuat Benteng Pertahanan yang dikomandokan langsung oleh Depati Parbo.
Setelah bermufakat dengan Depati Agung, Depati Parbo memper¬siapkan hulubalang hulubalang yang gigih dan berani mati untuk menyongsong dan melakukan pertempuran hidup mati menghadapi pasukan Belanda yang bersenjata lengkap dan modern. Setelah berjalan melewati rimba belantara yang ganas, Depati Parbo dan para pejuang beristirahat sambil mempersiapkan makanan untuk makanan sore, sebagian dari pejuang ada yang tidur tiduran sambil melepas lelah, tanpa diduga tiba tiba pasukan Belanda mengepung dan telah berdiri dengan senjata lengkap dihadapan Depati parbo dan para pejuang, dengan kondisi yang belum siap. Pasukan Belanda melakukan penyerangan terhadap pejuang. dalam suasana tidak siap para pejuang dengan gagah berani menghadapi serangan musuh, puluhan korban berjatuhan dari kedua belah pihak, beberapa opsir dan serdadu belanda tewas bersimbah darah.
Tidak berapa hari kemudian Belanda kembali membawa pasukannya untuk menyerang Pulau Tengah. Pertempuran berlangsung selama tiga bulan. Benteng Pulau Tengah diperkuat oleh pendekar-pendekar muda dari Lempur, Lolo, Jujun, Talang Kemuning yang dipimpin langsung dibawah komando Depati Parbo.
Dalam perang di Pulau Tengah yang dipimpin yang berasal dari Pulau Tengah adalah seorang ulama terkenal masa itu yakni Haji Ismail dan wakilnya Haji Husin, telah bergabung pula para hulubalang dari dusun-dusun lainnya di Kerinci. Dibawah komando Depati Parbo dan didukung oleh pimpinan yang berasal dari Pulau Tengah strategi perang dan penyergapan melalui Benteng Pulau Tengah dilaksakanan dengan baik.Pertempuran didusun ini merupakan pertempuran yang tersengit dan terlama (lebih kurang 3 bulan). Pulau Tengah diserang oleh Belanda sejak tanggal 27 Maret 1902 dari 3 jurusan, yaitu:

•  Dari jurusan Timur; Sanggaran Agung – Jujun. 
dari jurusan Utara; Batang Merao – Danau Kerinci. 

• Dari jurusan Barat; Semerap –Lempur Danau.
Serangan terakhir untuk Pulau Tengah dilakukan Belanda pada tanggal 9-10 Agustus 1903 dengan membakar Dusun Baru, perlawanan rakyat dapat mereka selesaikan. Setelah Pulau Tengah jatuh ketangan belanda tanggal 10 Agustus 1903, yang mana pada hakekatnya perang Kerinci telah selesai, namun perlawanan kecil masih terjadi di sana-sini. Benteng Pulau Tengah dapat ditembus dan dihancurkan oleh Belanda setelah mendapat kepungan dari tiga penjuru dan dusun Pulau Tengah dibumi hanguskan oleh Belanda.
Belanda membuat suatu tipuan memanggil Depati Parbo dan kawang-kawannya untu berunding. Rupanya dalam perundingan itulah Belanda dapat menangkap dan menawan:

•   Depati Parbo dari Lolo
Depati Agung dari Lempur

• Depati Nali dari Lempur
Depati Muncak dari Lempur
Dan keempat-empat beliau tersebut ditangkap kemudian ditawan dan dibuang oleh Belanda ke Ternate. Dan Sutan Iskandar dibuang ke Jambi dan meninggal di Jambi. Dan setelah kejadian di atas pada tahun 1903 Lempur mulai dijajah oleh Belanda.

Tentang sejarah “Perang Manjuto dan Perang Kerinci “Menggali Adat Lama Pusaka Usang di Sakti Alam Kerinci.(Ad, dari segala sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...