Sabtu, 31 Agustus 2019

Sejarah Kerajaan Manjuto Kerinci, Pamuncak Nan Tigo Kaum 14 M|Agusdiar TV

SEJARAH KERAJAAN MANJUTO KERINCI, PAMUNCAK NAN TIGO KAUM 14 M

Sigindo Batinting merupakan pemuka kerajaan Pagar Ruyung ikut mengembangkan adat di Kerinci. Putra beliau (Bujang Palembang) setelah memboyong keluarganya dari Tanjung Kaseri menetap di Jerangkang Tinggi. Sigindo Batinting mengirim putranya untuk memperdalam Islam di Alam Minang Kabau tepatnya di Pagar Ruyung di tanah leluhur orang tua beliau. 

Disamping menuntut ilmu agama, diharapkan juga Bujang Palembang dapat pula menambah dan memperdalam adat-istiadat leluhur.
Setelah menuntut ilmu dan memperdalam Islam di Alam Minang Kabau beliau kembali ke Jerangkang Tinggi. 

Dalam lingkungan wilayah kekuasaan Jerangkang Tinggi, pemuka-pemuka adat dan masyarakat sudah tertata dengan baik. Dalam tata pemerintahan Sigindo, puncak tertinggi dipegang oleh Sigindo Batinting, sedangkan perapit (penasehat agama) dari rajo disebut dengan Tengku yang pergi balepeh dan balek batentik, misalnya Tengku Depati, Tengku Pkeh. 

Sebagai pelaksana pemerintahan sehari-hari di bawah Lembaga Pemerintahan yang disebut dengan Mangku Bumi, dan di bidang agama disebut Pemangku, di bawah Pemangku ada Saeh, dan lain sebagainya sesuai dengan bidang tugas yang sudah diatur dalam kelembagaan pemerintahan adat Kerajaan Manjuto.

Maka pihak kelembagaan adat Alam Minang  Kabau tidak berkeberatan untuk memberikan gelar tinggi dalam Kerajaan Pagar Ruyung itu kepada Bujang Palembang sebagai keturunan sah Sigindo Batinting. Oleh sebab itu pusaka kerajaan yang sudah dibawa ke Jambi harus dibawa kembali ke Pagar Ruyung sebagai pelengkap pakaian dan sandang bebesaran kerajajaan sewaktu  pelantikan nanti. Sigindo Batinting sendiri yang membawa kembali pusaka tersebut ke Kerinci dan Pagaruyung untuk menghadiri pelantikan Bujang Palembang sebagai pimpinan Kerinci. 

Cap dan keris kerajaan tersebut sampai sekarang masih disimpan dengan baik sebagai pusaka orang Pulau Sangkar.

Setelah selesai prosesi pemberian gelar kepada Bujang Palembang dengan gelar Tuanku Magek Bagonjong yang berkuasa, yang memakan habis mengerat putus di wilayah Kerajaan Manjuto (kerajaan Pamuncak Nan Tigo Kaum) atau pemegang kekuasaan yang sah untuk wilayah kerajaan Pagar Ruyung Bagian Selatan. Semenjak itu resmilah gelar Tuanku Magek Bagonjong dibawa ke Alam Kerinci, tepatnya ke kerajaan Pamuncak Nan Tigo Kaum.

Setelah pernikahan Bujang Palembang dengan Puti Dayang Ayu, Bujang Palembang memboyong keluarganya ke Jerangkang Tinggi di Kerinci. Sebagai seorang putra dari Sigindo Batinting yang merupakan Raja Kerajaan Manjuto pada waktu itu. Pada sekitar akhir abad ke 14 Masehi pengaruh Islam sudah mulai berkembang di wilayah kekuasaan Sigindo Batinting namun pengaruh kepercayaan animisme masih kental di lingkungan masyarakat.

Tuanku Magek Bagonjong melanjutkan pemerintahan orang tuanya Sigindo Batinting yang kembali ke Jambi mendampingi istri beiau (Puti Salaro Pinang Masak) untuk memimpin kerajaan Melayu Jambi.

Semenjak pelantikan Tuanku Magek Bagonjong tersebut, maka pada masa itu, pemerintahan Sigindo berganti nama dengan pemerintahan Pamuncak, sehingga Bujang Palembang tidak menyandang gelar Sigindo, melainkan sebagai pemimpin Pamuncak (Pamuncak Tuo).

SUSUNAN PEMERINTAHAN PAMUNCAK TUO
Pemimpin Tertinggi, Tuanku Magek Bagonjong.
•  Perapit Raja (pergi balepeh, datang batantik) tetap diberi gelar Tengku, antara lain:
• Tengku Panglimo Kayo
• Tengku Depati
• Tengku Pkeh
• Tengku Anom
• Tengku Mangkuto Alam dan lain-lain.
Pelaksana Pemerintahaan sehari-hari berada di bawah Lembaga Mangku Bumi, yang juga sebagai Penasehat Rajo, gelar terlingkup dalam Lembaga Mangku Bumi adalah:
Rajo Bendo, Rajo Ibadah,Rajo Tiang Alam, Rajo Dateh,Sanggo Depati,Pandika Rajo, Pandika Sutan,Panglimo Rajo,Pandika Alam, Pandika Rajo,Mangkuto Alam, Rajo Alam,Rajo Adat, Rajo Kecik,Sutan Kecik,Rajo Mudo,Rajo Tiang Alam,Rajo Bujang, Rajo Mangkuto
dan lain-lain.
Kedemang, sebagai gelar bangsawan keturunan raja dan kadang kala juga diberikan wilayah kekuasaan tertentu.

Pemangku, yaitu wakil pemerintahan yang khusus bergerak dalam bidang pengembangan dan penyebaran agama Islam.

Manggung, yaitu wakil pemerintahan yang mengepalai suatu wilayah kecil dalam kerajaan.
Patih, wakil pemerintahan yang bertugas khusus sebagai penunggu pintu lawang.

Saeh, yaitu wakil pemerintahaan khusus.
Oleh sebab itu Sigindo Batinting menganjurkan anaknya untuk meminta gelar di Alam Minang Kabau. Beliau berangkat ke Pagarruyung untuk meminta gelar yang dimaksud. 

Pihak Kerajaan Pagar Ruyung menerima beliau dengan baik. Setelah diteliti di lembaga alam, tambo adat Alam Minang Kabau, ternyata orang tua Bujang Palembang (Sigindo Batinting salah satu keluarga yang dikirim untuk mengepalai suatu wilayah di dalam pemerintahan Kerajaan Melayu di Pagar Ruyung) adalah pemuka adat yang sangat penting di Alam Minang Kabau, beliau sangat dikenal karena beliau adalah pemuka kerajaan dan pengembang adat terkemuka di daerah rantau, terutama di Kerinci. 

Dalam masa pemerintahan Tuanku Magek Bagonjong, terjadi pemindahan pusat pemerintahan, pertama dari Jerangkang Tinggi yang terletak di atas bukit yang cukup datar namun agak jauh dari sungai. Transportasi efektif pada waktu itu adalah sungai, sehingga Tuanku Magek Bagonjong memindahkan pusat pemerintahannya ke Air Tawar (atau dikenal juga dengan daerah Mahligai) di pinggir Sungai Batang Merangin. Toridi Disebut dengan Air Tawar karena pada waktu itu banyak sekali penduduk baik yang berasal dari daerah Mahligai maupun di daerah lain berdatangan ke tempat ini untuk menemui raja Tuanku Magek Bagonjong. Disamping beliau sebagai seorang raja, beliau juga sangat pintar dalam pengobatan tradisional menurut agama Islam. Karena begitu banyaknya orang yang datang meminta obat (di daerah Kerinci dikenal dengan nama Sitawa-sidingin) dan sangat merepotkan Tuanku Magek Bagonjong untuk melayaninya, sehingga di Sungai Batang Merangin itu ditawar (dibacakan ayat-ayat Al- Qur’an) yang dapat diminum untuk dijadikan obat

Sehingga kalau ada orang yang datang tidak perlu lagi menghadap raja, cukup mengambil langsung air yang sudah ditawarkan beliau. Itulah sebabnya daerah itu disebut dengan Sungai Tawar. 

Tuan-ku Magek Bagonjong menjalankan pemerintahannya untuk beberapa lama berpusat di Pulau Sangkar, Beliau mempunyai anak dua laki-laki dan satu perempuan. Anak yang tertua diberi gelar Sultan Maharajo Aro, kemudian Sultan Maharajo Gerah dan Puti Lilo Baruji. 

Dalam pemerintahan masa tua beliau, sebagian tugas-tugas pemerintahan telah dialihkan pada anak-anak beliau. Tuangku Magek Bagonjong wafat dalam di Pulau Sangkar dan dimakamkan di daerah Mahligai. Sampai sekarang makam tersebut disebut penduduk “Makam Tuanku Mahligai”, dan masih terjaga dengan baik.


Setelah sekian lama pusat pemerintahan berada di Mahligai, Tuanku Magek Bagonjong pada waktu memindahkan pusat pemerintahannya ke hilir yaitu di Pulau Sangkar. Daerah Pulau Sangkar cukup datar dan terletak di bibir Sungai Batang Merangin akan memungkinkan pengembangan daerah yang lebih cepat dan sarana-sarana transportasi sungai dapat digunakan secara lebih baik.(Ad, dari segala sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...