Jumat, 30 Agustus 2019

Sepenggal Sejarah Sekepal Tanah Surga Kerinci|Kerinci TV


SEJARAH DAERAH  SEKEPAL TANAH SURGA ALAM KERINCI

Kerinci merupakan daerah pegununungan, yang terletak antara 101°4 dan 101°5 BT, antara 1°35 dan 2°25 LS. Luas-Nya diperkirakan 1.500 kilometer persegi. Penduduk-Nya ber jumlah kira-kira 240.917 jiwa(sensus penduduk-Nya sebanyak 200.000 jiwa, merupakan penutur asli bahasa Kerinci, sedangkan sisa-Nya adalah pendatang yang berbahasa Minangkabau atau bahasa-bahasa daerah lain nya. 
Penduduk Kerinci sekarang, selain suku Kerinci, juga terdiri dari suku pendatang Minangkabau, Melayu Jambi, Jawa, dan beberapa suku lain-Nya di Indonesia. Didaerah Kerinci juga terdapat dalam jumlah yang amat kecil, warga suku asing Cina dan India.

Sebelum tahun 1958, Kerinci berstatus kewedanan dalam Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci(PSK) dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah. Semenjak Sumatera Tengah di pecah menjadi tiga Provinsi pada tahun 1958, yaitu Sumatera Barat, Jambi dan Riau, Kerinci menjadi daerah yang berstatus Kabupaten  dalam lingkungan Provinsi Jambi. Ibu negeri Sungai Penuh. 
Daerah Kerinci berbatasan dengan daerah sebelah Barat, dengan Kabupaten sebelah Utara Kabupaten Olok, Provinsi Sumatera Barat. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Sarko, Provinsi Jambi. 
Tambo-tambo Kerinci menyebutkan secara tradisional perbatasan Kerinci sebagai berikut(Pada tahun 1969) sebelah ke Hulu, yang bertuah Rajo Bungsu, Bergombak Putih  Berjanggut Merah, Bertulang abang(Merah) di bekuk Sungai Pagu, Watas di Batu Kambing(di kaki Utara Gunung Kerinci). 
Sebelah kedarat, Terjun Aur Perindu, jalan terus ke Batu Luncung, Berdegur Gunung Bungkuk, hingga itu mengingatkan kita kepada Pasimpau Koto Anau, hingga itu mengingatkan kita aka  8 helai kain. Terjun ke Sungai Ligo, terhentak ke Sakok Kecik, bertemu dengan Datuk Sri Bagindo Mentinan 50(Indra Pura sekarang), ada dibuat dengan janji di Bukit Sitinjau(Perjanjian Tiang Bungkuk Mendugo Rajo). 
Sebelah kelembah(sebelah ke Baruh : Timur dan Selatan), menempuh laruh(lurah) dalam, keatas tebing tinggi, kebawah telun( air terjun) berasap, lepas(terus) ke Lubuk Buih(Batas dengan Muara Masumai, Bangko sekarang), hingga pengawasan Dia Rio Ramai(Penghulu Masumai) dan Rio Ngamundai(Penghulu Masumai juga), duduk diatas akar, sehingga itu kemari pengawasan nenek kita Alam Kerinci.

KERINCI DILINGKUNG ALAM SAKTI
Daerah Kerinci adalah daerah yang dibatasi oleh alam yang sugar dilintasi oleh manusia biasa, baik rimba raya maupun pegunungan sehingga daerah itu terpencil dan sukar menerima pengaruh luar oleh kuat-Nya Ada-Istiadat. Daerah Kerinci termasuk daerah yang paling akhir dikuasai Belanda. Belanda baru bisa menguasai-Nya tahun 1903.
Sebelum-Nya Kerinci merupakan daerah merdeka yang mempunyai sistem dan perangkat pemerintahan sendiri yang dikenal dengan  nama Pemerintahan Depati IV Delapan Helai Kain. 
Sebelum kedatangan Belanda, Kerinci telah mempunyai hubungan dengan daerah-daerah lain, seperti Minang Kabau, terjadi dalam tiga masa. Pertama, pada masa Kerinci dikuasai oleh para Sigindo(kepala-kepala desa yang berkuasa penuh didaerah-daerah-Nya sebagai raja-raja kecil) sebelum abad ke-10. Pada masa ini telah datang dan menetap di Kerinci beberapa orang terkemuka dari Minangkabau, seperti Sulthan Mahara Hakekat keturunan Raja Pagaruyung, Indra Jati keturunan Mangkudun Sumanik dan Raja Keniting Adik Raja Minangkabau, Tuanku Syah Alam. Ketiga toko itu beserta para pengikut-Nya bermukim dan kawin dengan penduduk setempat, masing-masing daerah Temiai, Hiang dan Pulau Sangkar(1890). 

Kedua, bersamaan dengan masuknya agama Islam di Kerinci, penyebar agama Islam datang dari Minangkabau. Mereka terkenal dengan sebutan siak(Syeik). Ada tujuh orang siak yang terkenal pada masa itu. Siak Jelir di Koto Jelir(Siulak), Siak Rajo di Sungai Medang, Siak Ali di Koto Beringin(Sungai Liuk), Siak Lengaik di Koto Panan(Sungai Penuh), Siak Sati di Koto Jelatang(Hiang), Siak  Baribut di Koto Merintih(Tarutung) dan Siak Ji(Haji) di Lunang(1970). 

Ketiga, sejak ditanda tangani-Nya perjanjian hidup berdampingan secara damai  antara Kerinci, Minangkabau(Indra Pura) dan Jambi di Bukit Sitinjau Laut pada tahun 1833.Hubungan Kerinci dan Jambi sudah berlangsung dalam abad ke 13 pada masa Kartanegara, Raja Kerajaan Singosari mengirimkan pasukan-Nya ke Jambi, yang terkenal dengan Pamalayu. 
Sejak masa itu Singosari mengangkat Tumenggung Depati yang berasal dari Jawa sebagai Raja Muda di Kerinci Hulu. Ia datang ke Kerinci untuk menjalankan tugas yang disarankan oleh Raja Jambi untuk menyelidiki dan mengadakan hubungan persahabatan dengan Kerinci, kemudian mengusahakan agar tunduk kepada Raja Jambi. 
Dalam perjalanan itu, Ia berturut-turut bertemu dengan (1) Raden Serdang(Tiang Bungkuk Mendugo Rajo) di Tamiai kemudian dihadiahkan gelar dengan Depati Muara Langkap dan sehelai kain sutera(2) Sigindo Gerinting di Pulau Sangkar, yang digelar dengan Depati Rencong Talang dan Sehelai Kain Sutera(3) Sigindo Teras di Pengasi, yang di anugerahi gelar Depati Biang Sari dan Sehelai kain sutera(4) Indra Jati di Hiang, yang di anugerahinya gelar Depati Batu Hampar. 
Indra Jati mempunyai tujuh orang bawahan, sedangkan kain yang akan dihadiahkan oleh Tumenggung tinggal satu helai lagi. Atas persetujuan Indra Jati, kain itu dibagi dua. Satu untuk Indra Jati dan sebagian lagi dibagi menjadi tujuh kepada bawahan-Nya. Sejak peristiwa itu lah dikenal di Kerinci daerah yang bernama Tiga Helai Kain dan Delapan Helai Kain. 
Peranan Minangkabau di Jambi banyak mempengaruhi kehidupan sosial budaya penduduk Kerinci berasal dari Jambi dan Minangkabau seperti tersebut dalam undang-undang datang dari Minangkabau batelai galeh, Talitai datang dari Jambi batajek satang(bergalah, berbiduk). Maksud-Nya peraturan-peraturan adat datang dari Minangkabau, sedangkan peraturan pemerintahan datang dari Jambi. 
Dari uraian diatas terlihat bahwa daerah Kerinci merupakan daerah yang tadi-Nya terisolasi(Oleh Rimba belantara dan pegunungan). Daerah  dan Masyarakat Kerinci memiliki kebudayaan dan bahasa daerah sendiri. Pengaruh kebudayaan(daerah) lain berasal dari Minangkabau dan Jawa, sedangkan pengaruh lain datang dari kebudayaan Islam. (Ad) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen|Diungkap dari kisah nyata, Wisuda di balik jeruji penjara

DI UNGKAP DARI KISAH NYATA| TOGA WISUDA DI BALIK JERUJI PENJARA Malam tak terasa telah menyelimuti tubuh G,angin malam mulai menyeka p...