Jumat, 06 September 2019

Mendulam sejarah Taman Tujuh Hiang Kerinci|Kerinci TV

MENDULAM SEJARAH TAMAN TUJUH HIANG KERINCI

Pada zaman dahulu kala Kerinci merupakan suatu genangan air atau danau yang luas Sehingga oleh penghuni saat itu disebutlah laut itulah sebab di bentuknya kecamatan sitinjau laut 
Dataran tinggi yang ada hanya gunung jelatang dan gunung Kerinci. Tinggi Gunung Jelatang kalau di ukur dengan perjalanan,Tujuh hari tujuh malam barulah sampai ke puncaknya. Gunung jelatang tersebut terletak di Pariangan Tinggi atau Hiang Tinggi sekarang.
Pada masa dahulu kala, Nenek Maharajo di rajo dan nenek Indarjati berlayar ke negeri Rum ( Romawi ) Sampai ke pulau perca atau pulau Sumatra sekarang.
Taman tujuh adalah suatu peninggalan leluhur yang bersejarah. Padanya tersimpan banyak hikmah yang perlu di pelajari. Apalagi pemuda-pemudi saat ini,Kalau tidak dipelajari sejarah tersebut lambat laut akan hilang dan bias sirna sama sekali. Kata Adat mengatakan “Hilang tambo hilang tanah, hilang tutur, hilang keluarga”.
Pada masa dahulu kala ada nenek empat kakak beradik berasal dari erofa atau negri rum. Yang pertama Maha Rajo Alif tinggal di Eropa atau di Negeri Rum tersebut, yang kedua Maharajo Depang tercampak ke negri China, sedangkan Datuk Maha Rajo di Rajo dan Ninek Indar Jati belajar tercampak ke negri sumatra barat atau pulau perca menetap di gunung emas perlangan dipadang panjang minang kabau.
Ringkas sejarah setelah beberapa lama beliau membina ikatan rumah tangga,habis hari berganti hari,habis minggu bertukar minggu, habis bulan musim berbilang dan habis tahun musim berganti.
Maka indar jati berserta istrinya indra Jelatah,dikaruniai tuhan mendapatkan 2 orng anak antara lain 

1. Datuk perpatih nan sebatang 

2. Indar bayo
Oleh Indar Jati yang keramat senantiasa gaib atau hilang entah kemana,maka suatu ketika datang atau pulang lah ia kepada anak dan istrinya, maka berceritalah ia kepada anak dan istrinya bahwa ia telah  menemukan suatu tempat yang paling tinggi yaitu Gunung Jelatang namanya, di tempat gunung tersebut belum ada manusia yang menghuninya dan aku akan kembali kegunung tersebut.
Gunung jelatang atau bukit jelatang namanya diambil dari  Daun jelatang , karena pada zaman saat itu banyak daun jelatang yang tumbuh disekitar lereng gunung tersebut.
Tinggi gunung tersebut menurut sejarah bila diukur dengan perjalanan manusia dari gunung merapi kerinci sampai ke gunung jelatang dahulu kala ditempuh oleh Ninek Indar Jati selama tujuh hari tujuh malam barulah samapai kepuncak gunung jelatang tersebut. Gunung Jelatang tersebut terletak di Negeroi Ninek Limo Depati Atur Bumi hamparan Tuo desa Hiang Tinggi.
Oleh Indi Jelatah yang sangat terharu mendengar cerita suaminya indar jati, maka Indi Jelatah istrinya Indar Jati ia juga ingin ikut suaminya melihat dan menetap digunung jelatang tersebut. Maka untuk perjalanan kegunung jelatang tersebut dipersiaoakan lah bekal alat untuk berangkat, adapun bekal alat atau barang yang disiapkan untuk dibawa kegunung jelatang tersebut antara lain ialah :

1. Keris nan sebuah 

2. Tombak nan sebilah

3. Tongkat nan sebuah

4. Payung nan sekaki

5. Tudung nan sehelai 

6. Kambing nan seekor
Adapun barang yang tersebut diatas,selain dari kambing karna kambing itu tanduknya disimpan,selebihnya masih disimpan dengan rapi didalam peti benda pusako ninek limo depati atur bumi hamparan tuo desa yaitu Hiang  Tinggi,. Adapun yang berangkat ke Gunung Jelatang tersebut, adalah Indar Jati dan istrinya indi jelatah beserta pula anaknya yang bernama Indar Bayo, sedangkan anaknya yang bernama Datuk Perpatih  Nan Sebatang tidak ikut,karena ia sudah hampir dewasa dan asyik bermain dengan temannya di tempat tersebut.
Tak lama kemudian Indar Jati mendapat petunjuk dari Allah SWT, bahwa di suruh mengambil sehelai daun untuk di jadikan alat perahu untuk mengarungi air yang luas tersebut, daun tersebut bernama Daun Sintuh.
Dengan daun sintuh ini lah Indar Jati dan istrinya serta pula anaknya indar bayo dijadikan perahu menuju Bukit Jelatang tersebut.Setelah Tujuh hari Tujuh malam barulah sampai mereka kepuncak gunung tersebut.
Ringkas sejarah, setelah hari berganti hari masa berganti masa dan habis tahun bertukar tahun, maka Indi Jelatah istrinya Indar Jati melahirkan pula beberapa orang anak antara lain :

1. Indar tunggal atau indar yang bersusu tunggal,inilah yang biasa disebut ninek yang bersusu tunggal atau depati yang Tunggal Ninek tersebut tinggal di Hiang Tinggi.

2. Indar nan berterawang lidah,ini lah yang biasa di sebut depati kartudo ninek tersebut tinggal di hiang tinggi

3. Indi mariam, inilah yang biasa disebut depati tiang negaro, ninek tersebut tercampak kenegri malaysia.

Taman tujuh terletak di desa Hiang Tinggi Kecamatan Sitinjau Laut. Di desa Hiang Tinggi sekarang ada suatu tempat yang paling tinggi,tempat tersebut di sebut “LARIK TINGGI”. Pada larik tinggi pada dahulu kala berdiri beberapa rumah, dan inilah merupakan dusun tertua yang merupakan asal mulanya kerinci.
Disana juga terdapat satu buah kuburan atau makam bersejarah. Kuburan tersebut terdapat empat batu nisan.Menurut cerita Kuburan tersebut berisi dua orang, yang satu Nenek hilang dilaman dan yang satu lagi Nenek Jaburiah.

Kuburan ini selalu di ziarahi oleh

masyarakat Kerinci dan dari luar Kerinci.
Di saat keturunan dari Indar tunggal masih anak-anak, ia selalu mandi di sungai-sungai, Sedangkan Indar Tunggal sangat sayang pada anak-anaknya. Untuk menghindari anak-anaknya dari bahaya mandi di sungai, Maka oleh Indar Tunggal di buatlah tempat pemandian khusus untuk anak-anaknya,
sebanyak tujuh buah, inilah yang di sebut Taman tujuh atau Telaga Tujuh untuk tempat pemandian anak-anaknya dari Nenek Indar bersusu tunggal.
Karena perubahan alam dan pergeseran bumi, Air menyusut akibatnya Gunung Jelatang mengalami erosi besar-besaran sebagian tanahnya hanyut, Itulah yang bias kita lihat tanah cogok di pinggir Danau Kerinci, Tanah
Kampung, dan Tanah Tinggi kemantan. Tinggallah sisa Gunung Jelatang seperti yang ada sekarang.
Demikianlah sejarah ringkas tentang asal-usul sejarah mulanya Taman Tujuh.(Ad, dari segala sumber) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story of Love

RE-REVIEW LOVING CUSTOMS IN DISCUSSION RETORICS  Writing about the introduction of this rhetoric of love, is one of the thoughts, exp...