Kamis, 05 September 2019

Sejarah Kerinci Yang Tersimpan Rapi|Kerinci TV

"SEJARAH KERINCI YANG TERSIMPAN RAPI"

Sejak 1980, Iskandar memang tak pernah lepas dari aktivitas rutinnya, mengajar dan membina anggota Sanggar Ilok Rupo . Semuanya ia lakukan demi melahirkan pelaku seni tradisi Kerinci.



Tari Marcok mendapat tempat istimewa di hati Iskandar. Dialah pencipta tarian yang berpadu dengan nyanyian dan kesenian kekebalan tubuh itu pada 1972. Sekilas mirip dengan Tari Debus dari Banten.

Ia menciptakan tarian ini karena terinspirasi ritual pengobatan masyarakat Kerinci. Ritual itu disebut aseik yang berarti khusyuk. Puncaknya, yaitu marcok atau kebal.
Ia mengakui, pertama kali melakukan tarian itu skala pertunjukannya masih ringan, seperti menginjak beling dan menari di atas piring. "Saat itu, menari masih memakai baju," kata laki-laki berusia 75 tahun itu.

Iskandar menganggap apa yang dia lakukan biasa saja. Tak ada ritual khusus untuk menarikan Marcok. Iskandar hanya melakukan doa bersama sebelum pertunjukkan. "Tidak ada mistik pada tarian ini," katanya.

Sore itu Iskandar Zakaria baru saja pulang salat asar berjemaah di masjid tak jauh dari kediamannya. Tak lama berkemas mengganti pakaian, Iskandar langsung menaiki tangga menuju lantai dua rumahnya.

Selain mengajar, ia juga membuat ratusan karya seni lainnya, seperti musik, esai, prosa, drama, dan puisi. Di saat yang sama Iskandar juga mengoleksi benda cagar budaya sebanyak tujuh ribu artefak di museum pribadinya.
Tarian ini melibatkan lima penari laki-laki dan empat perempuan. Iskandar selalu menjadi pemeran utamanya. 

Tarian dibuka dengan beberapa penari menginjak beling yang telah disiapkan di tengah panggung.

Lalu, Iskandar beraksi dengan bertelanjang dada. Sambil memegang obor di kedua tangan, ia menyemburkan minyak dari mulutnya untuk mengobarkan api. Sesekali api itu diarahkan ke tubuhnya.

Atraksi berikutnya, Iskandar akan mengambil pisau tajam. Aksi ini yang kerap membuat penontonnya bergidik. Beberapa kali ujung mata pisau akan menghujam ke tubuh dan kepalanya, hingga masuk ke mulutnya. Iskandar melakukan semua itu sambil menginjak pecahan beling.
Tarian ini kerap menjuarai festival tari, seperti di Palembang, Bangka, Belitung, dan Medan. Iskandar lalu mulai berani menggunakan senjata tajam dalam pertunjukkannya. Irama musik tabuh dan lantunan syair berbahasa Kerinci mengiringi setiap aksinya tersebut.

Memang seharusnya di usia sekarang saya tidak main lagi. Saya masih terus mencari pengganti. Kalau tidak, terpaksa tampil kembali," katanya tersenyum.

Kritik tentu saja pernah ia dapatkan gara-gara tarian ciptaannya ini. Ada yang mengatakan Marcok bukan bagian dari kebudayaan Kerinci. Bagi Iskandar, inilah cambuk yang memecut semangatnya untuk terus berkarya. 

Dari hasil belajarnya, Iskandar jadi ikut terlibat langsung dalam menyelamatkan benda cagar budaya Kerinci. Setidaknya ada tujuh ribu artefak yang ia simpan di museum pribadinya, seperti guci, menhir, alat pemotong dari batu, tembikar, naskah kuno, senjata, uang, dan ukiran.

Dari hasil belajarnya, Iskandar jadi ikut terlibat langsung dalam menyelamatkan benda cagar budaya Kerinci. Setidaknya ada tujuh ribu artefak yang ia simpan di museum pribadinya, seperti guci, menhir, alat pemotong dari batu, tembikar, naskah kuno, senjata, uang, dan ukiran.
Seorang arkeolog India sempat mengajarkan Iskandar cara membuat alat pendeteksi benda cagar alam di dalam tanah. Hanya menggunakan batang besi, alat itu bisa bergetar kalau menemukan artefak.

Setelah tiga tahun kuliah, orang tuanya menawarkan Iskandar untuk menjadi pengawai negeri sipil. Ia pun memutuskan meninggalkan bangku kuliah.

Saat kecil, ia sempat beberapa kali pindah sekolah, dari Sungaipenuh lalu ke Padang, Sumatera Barat. Ia juga sempat pula tinggal di Jakarta.
Jabatannya menjadi Penilik Kebudayaan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membuat Iskandar terekspos dengan budaya dan tradisi Jambi, khususnya Kerinci. "Mulai saat itu saya belajar kebudayaan dan tradisi itu," katanya.

Dari hasil belajarnya, Iskandar jadi ikut terlibat langsung dalam menyelamatkan benda cagar budaya Kerinci. Setidaknya ada tujuh ribu artefak yang ia simpan di museum pribadinya, seperti guci, menhir, alat pemotong dari batu, tembikar, naskah kuno, senjata, uang, dan ukiran.
Upayanya ini bermula dari kedatangan dua orang perempuan pada 1972. Ketika itu, dirinya mendapat dua buah cangkir kuno. "Saya beli Rp2 ribu. Itu benda cagar budaya pertama yang saya simpan," kata Iskandar.

Setahun kemudian ia menemani peneliti dari Inggris untuk mencari benda kuno di Kerinci. Iskandar jadi semakin mengenal artefak kampung halamannya, termasuk memastikan apakah benda itu masuk kategori dilindungi atau tidak.
"Saya belajar bagaimana mengetahui usia benda cagar budaya dari para peneliti asing yang datang ke sini," ujarnya. Profesinya sebagai Penilik Kebudayaan di Sungaipenuh memang tak jauh dari aktivitas menginventarisasi benda cagar budaya.

Iskandar masih menyimpan harapan, apa yang dilakukannya selama ini untuk menjaga dan melestarikan seni, budaya, dan tradisi Kerinci bisa semakin dikenal generasi muda. Begitu juga pelestarian kebudayaan dan tradisi daerah menjadi prioritas pemerintah.
Penghargaan yang diterima Iskandar Zakaria dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 2006 karena menulis mushaf Alquran terpanjang di dunia, yaitu 1919 meter.


Selain tari, Iskandar juga punya karya fenomenal, yaitu mushaf Alquran terpanjang di dunia. Ia mengerjakan semuanya dalam waktu delapan tahun dan menghabiskan biaya Rp100 juta.

Mushaf itu sekarang berada di Museum Badan Kontak Majelis Taklim Pusat (BKMT), Bekasi, Jawa Barat. Karyanya ini berawal dari kunjungannya ke beberapa desa di Kerinci. Dari sana ia menemukan banyak mushaf Alquran kuno.
Iskandar lahir di Sungaipenuh, Kerinci, Jambi. Anak ke 7 dari 12 bersaudara dari pasangan Zakaria dan Rahma.(Ad, dari segala sumber).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen|Diungkap dari kisah nyata, Wisuda di balik jeruji penjara

DI UNGKAP DARI KISAH NYATA| TOGA WISUDA DI BALIK JERUJI PENJARA Malam tak terasa telah menyelimuti tubuh G,angin malam mulai menyeka p...