Minggu, 01 September 2019

Sejarah Perang Rakyat Kerinci Melawan Belanda di Benteng Batu|Agusdiar TV

"SEJARAH PERANG RAKYAT BERSAMA DEPATI PARBO MELAWAN BELANDA DI BENTENG BATU 1900/1901"

Pada bulan Mei 1901 serangan pertama dilancarkan oleh Belanda adalah melalui daerah Muko-Muko terus ke Lempur dengan membawa pasukan sebanyak 120 orang bersenjata lengkap. Namun sebelum mereka sampai di Lempur, solideritas masyarakat Sungai Ipuh  dan Muko-Muko segera berangkat ke Lempur melaporkan akan adanya pasukan Belanda yang akan bergerak ke Lempur melalui 
Manjuto. Namun Depati Agung dan Depati Parbo telah mempersiapkan strategi parang dengan membangun dua benteng pertahanan.

Depati Parbo bersama dengan pasukannya membangun benteng pada batas antara wilayah Lempur dengan Sungai Ipuh. Mereka membangun benteng dengan cara menyusun batu-batu pada tempat yang strategis. 
Sewaktu pasukan Belanda melewati Benteng Batu, mereka tidak menyangka ditengah rimba lebat itu disambut oleh 12 orang pendekar muda dari Lempur yang dipimpin Depati Parbo, mereka antara lain adalah Cunek, Timbun, Malat, Banja, Pandai, Kari Maadi, Tinting, Galib, Haji Uma dan lain-lain. Mereka-mereka ini sudah dilatih oleh Depati Agung dan Depati Parbo tentang taktik perang gerilya dan mereka ini adalah pendekar-pendekar yang punya kemampuan silat tinggi dan mempunyai ilmu Setelah perundingan ini selesai, utusan Belanda (Imam Marusa dan Pemangku) disuruh pulang melalui jalan masuk melalui dusun Lolo. Namun sesampai di di dekat Danau Nasi sekitar pertengahan antara Lempur dan Lolo sekitar 1,5 km dari Lemput, utusan Belanda dicegat oleh pemuda-pemuda Lempur dan Depati Parbo yang mengiringi kepergian utusan itu dengan sembunyi-sembunyi dan melalui jalan pintas. Dalam perjalanan tersebut atas sarang pemuda-pemuda Lempur agar utusan itu dibunuh saja. Akhirnya Depati Parbo mengambil keputusan dan memerintahkan supaya utusan Belanda ini dibunuh saja, sebab Depati Parbo dan depati-depati lainnya sudah memperkirakan bahwa sudah pasti Belanda akan marah dan akan terjadi peperangan di kemudian hari. Seorang pemuda Lempur yang bernama Zakir (H. Bagindo Rajo) dan H. Karim membunuh Imam Marusa. Mereka sangat kesal dan tidak terima terhadap kedua orang tersebut yang mau tunduk dengan orang kafir Belanda, maklum pada masa itu mereka sangat dibidang keagamaan, sehingga mendengar ada utusan yang datang ke Kerinci tersebut mereka sangat membencinya. Sedangkan Pemangku dibiarkan hidup dan diperintah untuk kembali menghadap Belanda.

Peristiwa yang menimpa kedua orang utusan Belanda itu menyulut kemarahan tentara Belanda, akibatnya tentara Belanda dengan sikap arogan dan watak imprealis mencari jalan untuk masuk dan menaklukan serta menduduki alam Kerinci. Niat licik dan nafsu ingin mengusai dan menjajah alam dan rakyat Kerinci telah tercium oleh hulubalang hulubalang se alam Kerinci. yang cukup tinggi.
Keputusan mereka untuk membunuh utusan dan melepaskan seorang lainnya dengan menyadari bahwa pasti akan ada ancaman dari Belanda dan mungkin juga Kerinci akan diserang secara meliter. Sehingga pada waktu itu mereka dengan sumpah “Besok perang, sekarang perang, kita mulai dari sekarang. 
Setelah perundingan ini selesai, utusan Belanda (Imam Marusa dan Pemangku) disuruh pulang melalui jalan masuk melalui dusun Lolo. Namun sesampai di di dekat Danau Nasi sekitar pertengahan antara Lempur dan Lolo sekitar 1,5 km dari Lemput, utusan Belanda dicegat oleh pemuda-pemuda Lempur dan Depati Parbo yang mengiringi kepergian utusan itu dengan sembunyi-sembunyi dan melalui jalan pintas. Dalam perjalanan tersebut atas sarang pemuda-pemuda Lempur agar utusan itu dibunuh saja. Akhirnya Depati Parbo mengambil keputusan dan memerintahkan supaya utusan Belanda ini dibunuh saja, sebab Depati Parbo dan depati-depati lainnya sudah memperkirakan bahwa sudah pasti Belanda akan marah dan akan terjadi peperangan di kemudian hari. Seorang pemuda Lempur yang bernama Zakir (H. Bagindo Rajo) dan H. Karim membunuh Imam Marusa. Mereka sangat kesal dan tidak terima terhadap kedua orang tersebut yang mau tunduk dengan orang kafir Belanda, maklum pada masa itu mereka sangat dibidang keagamaan, sehingga mendengar ada utusan yang datang ke Kerinci tersebut mereka sangat membencinya.
Sedangkan Pemangku dibiarkan hidup dan diperintah untuk kembali menghadap Belanda 
Kira-kira pada tahun 1900 di daerah Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat sudah dijajah oleh Belanda, sedangkan daerah Kerinci di waktu itu masih merupakan daerah yang merdeka, di bawah pemerintahan Depati Empat Alam Kerinci (Depati IV -3/8 Helai Kain Alam Kerinci. Lempur waktu itu diperintah oleh Depati Agung, Depati Anum dan Depati Suko Berajo).

Belanda dengan pemerintahannya dalam politik pemerintahan selalu berusaha mempeluas tanah jajahannya. Sebubungan dengan itu Belanda mengirim ustusannya yang bernama Imam Marusa dan Pemangku, dengan membawa surat yang isinya mau menumpang menegakkan Gedung/kantor Dagang di Kerinci. Utusan tersebut berangkat ke Kerinci melalui jalur Koto Limau Sering. Sesampainya di Kerinci, utusan Belanda ini menemui pimpinan utama Depati Empat Alam Keirinci secara bergantian, pimpinan adat yang pertama sekali ditemui adalah Depati Atur Bumi, kemudian Depati Biang Sari, seterusnya Depati Muara Langkap dan Depati Rencong Telang. Mulai dari Depati Atur Bumi sampai ke Depati Rencong Telang di Pulau sangkat tidak memutuskan kata sepakat tentang diterima atau tidak niat Belanda untuk membangun kantor dagang di Kerinci.
Namun setelah utusan Belanda ini menemui seluruh piminnan teras pemerintahan Depati IV Alam Kerinci, belum terdapat kata sepakat  apakah  diterima atau tidak permintaan Belanda itu diserahkan kepada Depati Agung di Lempur. Gelar Depati Agung pada waktu itu disandang oleh Gundi. Depati Agung memanggil rekan kerjanya yang bernama Suwek Gelar Depati Nali untuk menentukan apa langkah-langkah yang harus diambil. Dalam Lembaga Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur yang dipimpin oleh Depati Agung dan dibantu oleh dua pimpinan adat dibawahnya yaitu Depati Anum dan Depati Suko Berajo. Dalam kebiasaan di Lembaga Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur berlaku pula ketentuan bahwa di mana Depati Agung disitu Depati Nali. Artinya Depati Nali adalah orang yang pertama tempat Depati Agung untuk mendiskusikan semua perkembangan masyarakat di Lempur.

Akhirnya atas saran Depati Nali agar dilakukan rapat segera Depati nan Sepuluh – Ninek Mamak Berenam beserta seluruh depati dan nenek kembang rekan (kemerkan) yang dipimpin oleh Depati Agung sebagai pucuk pimpinan dibantu oleh rekan kerjanya Depati Anum dan Depati Suko Berajo mengorganisir rapat besar di Lempur. Dalam rapat tersebut juga digundang hadir  Depati Parbo dari Lolo Kecil untuk mengadakan rapat singkat untuk memutuskan apa sikap yang harus diambil terhadap permintaan Belanda tersebut melalui utusannya. Rapat diadakan di rumah Depati Agung. Dalam rapat tersebut terjadi perdebatan yang seru dan terjadi insiden keributan, karena banyaknya pemuda-pemuda yang ikut hadir dalam rapat tersebut. Dengan suara lantang pemuda-pemuda sebagian besar menyatakan menolak memberi izin pendirian kantor dagang Belanda itu di Kerinci. Dengan berbadai pertimbangan keputusan yang berat ini harus diambil oleh Depati Agung dari Lempur, dan Depati Agung menyadari bahwa keputusan berat ini karena sekaligus mewakili keputusan dari Depati IV Alam Kerinci.
Kemudian Depati IV Alam Kerinci melakukan rapat di Sanggaran Agung untuk mempersiapkan diri kalau nantinya terjadi serangan dari Belanda. Beberapa keputusan yang diambil yaitu:
Sedegum bedilnya sealun soraknya jika datang musuh dari luar.
Jika Belanda memasuki/menyerang Kerinci dari Mudik, orang Mudik harus mengkisnya dan jika masuk/menyerang dari Hilir, orang Hilir menangkisnya.

  Diikuiti dengan sumpah: “Tidak boleh menggunting dalam lipatan, menohok kawan seiring”, dengan arti kata, dimana-mana saja Belanda masuk menyerang Kerinci, masyarakat Kerinci harus mempertahankan wilayah-wilayahnya.
Sewaktu pasukan Belanda melewati Benteng Batu, mereka tidak menyangka ditengah rimba lebat itu disambut oleh 12 orang pendekar muda dari Lempur yang dipimpin Depati Parbo, mereka antara lain adalah Cunek, Timbun, Malat, Banja, Pandai, Kari Maadi, Tinting, Galib, Haji Uma dan lain-lain. Mereka-mereka ini sudah dilatih oleh Depati Agung dan Depati Parbo tentang taktik perang gerilya dan mereka ini adalah pendekar-pendekar yang punya kemampuan silat tinggi dan mempunyai ilmu kanuragan yang cukup tinggi.

Pertempuran terjadi dengan sengit antara 12 orang pendekar Lempur melawan 120 orang tentara Belanda dibekali dengan senjata lengkap. Mereka bertempur dengan penuh semangat, menyerang melalui sela-sela batu yang mereka susun dengan baik sehingga memudahkan mereka membidik sasaran dengan tepat. Pertempuran memakan waktu beberapa jam, namun pada sore harinya benteng pertahanan mereka dapat ditembus oleh tentara Belanda yang jumlah cukup banyak. Pertempuran yang sengit tersebut menyebabkan 2 (dua) orang pendekar dari Lempur meninggal, yaitu Kari Maadi dan Tinting, sedangkan dipihak Belanda jatuh korban meninggal sebanyak 50 orang dan salah seornag diantaranya adalah kommandannya sendiri seorang Letnan. Namun karena komandan pasukan Belanda gugur sehingga mereka mengundurkan diri kembali ke Muko-Muko dengan pasukan yang sudah kucar-kacir. Disamping itu terjadi keraguan diantara mereka, bahwa hanya baru sampai diperbatasan di tengah rimba ini.
Akhirnya oleh Depati Rencong Telang  utusan disuruh pula menghadap pada Depati Agung di Lempur, sebab beliau sangat mengatahui bahwa Lempur pada waktu itu mempunyai persatuan adat yang sangat kuat, dan masyarakatnya hidup damai dan mempunyai semangat juang yang tinggi. Depati Rencong Telang mengetahui betul siapa Depati Agung - Gundi, karena setiap tahun acara Kenduri Adati (Seko) di Lempur beliau selalu diundang untuk hadir hadir. Alasan lain yang mengapa keputusan diserahkan kepada Depati Agung karena, satu-satu jalan yang cukup baik dari  Muko-Muko ke Kerinci adalah melalui jalur Muko-Muko - Sungai Ipuh dan Lempur. Sedangkan jalur Muko-Muko - Tapan - Koto Limau Sering - Sungai Penuh sangat terjal dan harus melalui hutan tropis yang sangat lebat. Utusan Belanda tersebut harus melalui jalur Koto Limau Sering karena Belanda mengetahui bahwa pusat pemerintahaan Depati IV-8 Helai Kain Alam Kerinci berpusat di Sungai Penuh-Rawang, sehingga dirasa lebih dekat melalui jalur tersebut agar lebih cepat sampai di pusat pemerintahan Depati IV - 8 Helai Kain Alam Kerinci. Dari dana barulah mereka berangkat menuju pimpinan Depati IV - 3 Helai Kain Alam Kerinci yaitu Depati Rencong Telang yang berpusat di Pulau Sangkar.
Dalam seri ini ‘dikutip penuh’ tentang sejarah   Adat Lekuk 50 Tumbi”, Kajian  ini mengupas sisi-sisi sejarah yang telupakan dari perang melawan penjajah Belanda di Alam Kerinci. Di sini terdapat tokoh dan daerah penting yang terlupakan dalam perjalanan sejarah Kabupaten Kerinci.
(Ad, dari segala sumber).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Social and cultural geographic background of socially

SOCIAL AND CULTURAL GEOGRAPHIC BACKGROUND OF SOCIALLY    Kerinci Regency which is also called Sakti Alam Kerinci is a plateau ...