Senin, 09 Maret 2020

Keunikan Masyarakat tanah Kurinci|Sajadah Kurinci


KEUNIKAN MASYARAKAT 
TANAH KURINCI
Kerinci,merupakan masyarakat yang unik, yang selain dikenal dengan kebiasaannya merantau, berupaya untuk memadukan nilai-nilai adat (tradisi) dan nilai-nilai keagamaan (Islam), dan merupakan komunitas masyarakat matrilineal terbesar di dunia, juga dibesarkan dalam suasana masyarakat egalitarian, dan sangat menghargai kebebasan individual mereka .

Dengan kondisi masyarakat egalitarian yang  sangat menghargai kebebasan individu tersebut maka tidak jarang muncul perdebatan intelektual di antara orang Kerinci mengenai berbagai masalah dalam kehidupan mereka.

Perdebatan intelektual yang dimaksud merupakan upaya perumusan dan penyampaian pemikiran kritis tentang berbagai hal dan aspek kehidupan daerah dan bangsa. Pemikiran-pemikiran kritis tersebut lazimnya disampaikan secara terbuka dan terus terang diberbagai kesempatan, baik secara lisan pada saat dilangsungkan rapat, kongres dan seminar maupun secara tertulis di surat kabar dan majalah. Orang Kerinci selalu memperdebatkan ide, dan tidak menelan mentah-mentah segala sesuatu yang berhubung dengan perihal kehidupan mereka, baik yang berasal dari Rantau maupun dari Ranah sendiri. Oleh karena itu berlangsungnya konflik secara berkepanjangan di dalam masyarakat tidak dapat dihindarkan.

Konfilk dalam budaya Kerinci adalah sebuah keharusan karena kalau tidak ada konflik mereka tidak menghasilkan pemikiran cerdas dalam menghadapi kehidupan mereka. Kerinci konsep konflik ini tidak hanya dialami oleh anggota masyarakat tapi juga dijadikan peraturan dalam sistem sosialnya. Bahkan konflik dipandang sebagai suatu hal yang penting untuk mencapai persatuan dalam masyarakat.

Sesuai dengan substansi perdebatan dan latar belakang konfliknya, pada dasarnya ada dua tema besar yang secara berlanjut terdapat dalam masyarakat Kerinci , yaitu 1) perdebatan intelektual dan konflik mengenai pelaksanaan hukum waris adat serta tanah ulayat; dan 2) perdebatan intelektual dan konflik mengenai hubungan antara kaidah adat Kerinci dengan ajaran agama Islam.

Perdebatan intelektual dan konflik mengenai dua tema besar tersebut telah mewarnai hampir seluruh sejarah Kerinci, yang langsung atau tidak langsung selain telah menguras energi masyarakat juga telah menghambat terwujudnya suasana saling percaya-mempercayai antara warga dan kelompok masyarakat yang satu dengan warga dan kelompok masyarakat yang lain.

Walaupun masyarakat Kerinci terdiri atas kelompok-kelompok kecil yang mandiri dan otonom, namun keluar secara totalitas merasa sebagai satu suku bangsa. Falsafah hidup mereka mengajarkan kesamaan dan persaingan, tetapi juga harmoni atau keseimbangan, yang menyebabkan penyampaian pemikiran kritis dalam masyarakat mereka menjadi sesuatu yang dirasakan lumrah dan diniscayakan terjadi. 

Persaingan, permusuhan, dan bahkan kadangkala juga peperangan, terjadi tidak saja antar suku dalam suatu kesatuan teritorial nagari, melainkan juga antar nagari-nagari yang berdekatan.

Penyampaian pemikiran kritis tersebut selain telah menyebabkan terjadinya konflik juga memungkinkan terbentuknya konsensus.  Dengan kata lain, naluri berkonflik diimbangi dengan kemauan berkonsensus. Dalam presfektif sejarah ada beberapa konflik yang terjadi dalam masyarakat Kerinci.(10/3/20).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fakta sejarah wabah dunia|Sorot Dunia

MENGENAL SEJARAH  HISTERIS WABAH DUNIA Dilansir  Breaking News 5/4/20,ketika mewabah pada abad ke-14, Black Death membunuh 50 juta o...